LANGIT7.ID, Jakarta - Nasser Jaber tercatat sebagai warga palestina yang menetap di kota New York, Amerika Serikat.
Tahun 2012, Nasser Jabar masih bekerja dengan departemen luar negeri AS di Turki, Swedia, dan Maroko untuk memberikan solusi terhadap krisis pangan, keramahtamahan dan pertanian yang dialami oleh para pengungsi.
Dengan latar belakang tersebut, Jaber memutuskan untuk membuka restoran “The Migrant Kitchen” bersama seorang Chef yang sudah berpengalaman selama 20 tahun bernama Daniel Dorado.
Ia membuka restoran tersebut dengan tujuan untuk memberdayakan para pekerja imigran dan pengungsi.
Baca juga: Pateemoh Sadeeyamu Jadi Gubernur Muslimah Pertama di Thailand“Saya di tahun yang sama (2019) telah membuka tiga cabang lainnya, di daerah Dumbo, Upper East Side dan Upper West Side. Hal ini dilakukan agar dapat mempercepat dan memastikan 6.000 makanan terkirim dengan baik ke setiap
komunitas imigran dan pengungsi," ujarnya.
“Ini merupakan hal yang baik, namun disisi lain juga menakutkan. Saya harap kita bisa mewujudkan misi yang kami inginkan, yaitu bisa mendonasikan makanan," lanjut Nasser.
The Migrant Kitchen memiliki konsep makanan yang unik yaitu mengusung tema makanan Amerika yang terinspirasi oleh para imigran.
Untuk mewujudkan konsep makan tersebut, mereka mulai mengunjungi beberapa komunitas imigran dan pengunsi untuk dapat mengetahu cita rasa makanan apa yang cocok dengan para imigran.
Makanan yang disajikan The Migrant Kitchen, memiliki unsur masakan Palestina, Timur Tengah dan Meksiko – jenis makanan tersebut dipadukan karena mengambil latar belakang dari CEO dan Co-Faounder The Migrant Kitchen. Yang mana Jaber merupakan seorang Palsetina dan Dorado adalah seorang Mexico.
Makanan yang disajikan pun klasik Amerika, seperti ayam goreng dengan campuran bawang putih ala Lebanon dan mentimun Persia. Para pengungsi dan imigran ini bahkan bisa memesan bagel Yerusalem dengan salmon asap yang dioles dengan krim labne atau burger keju yang dibuat dengan roti Za’atar panko serta keju Oaxaca.
Baca juga: Kisah Cardilli, Dubes Italia di Arab Saudi Putuskan jadi Muslim“Kami bekerja selama 24 jam dan kami menghitung serta memastikan semuanya, seperti makanan dan pengiriman. Namun terkadakang, kami memilki kelebihan makanan. Meskipun begitu kami tetap mencari tempat dimana orang-orang sangat membutuhkannya, seperti penampungan kekerasan dalam rumah tangga, yang berlokasi di New Jersey,” tegasnya.
Namun ketika pandemi Covid-19 menimpa negeri Paman Sam, Jaber selaku Co-Founder The Migrant Kitchen harus menerima untuk menutup restaurannya itu sementara waktu. Meskipun pada waktu itu mereka masih memiliki lebih dari 1,000 makan yang harus disajikan kepada orang-orang yang membutuhkan.
“Ketika pandemi datang menimpa, saya harus menutup restaurant ini untuk sementara waktu, meskipun direstoran tersebut masih memiliki makanan yang banyak untuk dibagikan. Namun pada akhirnya ketika saya melihat makanan tersebut akan terbuang sia-sia, saya dan tim memutuskan untuk mendonasikan makanan tersebut ke penampungan di sekitar kota New York,” terangnya.
“Saya dan tim kami mulai
mendistribusikan makanan halal kepada pekerja Muslim di sekitar kota dan mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan yang di akibatkan oleh pandemi, yang mana mereka orang-orang yang ditinggal oleh kerabatnya serta tidak memiliki akses untuk berobat ke rumah sakit,” pungkasnya.
sumber: thenationalnews.com, fox5ny.com, tmkinitiative.org
(sof)