LANGIT7.ID, Bangkok - Patteemoh Sadeeyamu (57) ditunjuk sebagai Gubernur
muslimah pertama di Provinsi Pattani Selatan,
Thailand. Kabinet Thailand menyetujui pengangkatan tersebut pada Selasa (15/11/2022) lalu.
Para pengamat menilai hal tersebut sebagai tanda peningkatan wanita Muslimah dalam politik Thailand. Meski demikian, para pengamat mengakui banyak tantangan yang harus dihadapi seorang muslimah yang terjun ke dunia politik Thailand.
“Ini adalah perkembangan yang sangat besar. Menjadi seorang muslim dan seorang wanita memiliki banyak tantangan dalam politik Thailand. Kita bisa melihat peningkatan perempuan muslim dalam politik,” kata Wakil Dekan Akademik, Penelitian dan Luar Negeri di Universitas Prince of Songkhla, Pattani, Yasim Sattar, melansir Anadolu Agency, Kamis (17/11/2022).
Baca Juga: Fatima Payman, Muslimah Berhijab Pertama yang Terpilih Jadi Senator Australia
Dari 77 provinsi, empat provinsi selatan Pattani, Yala, Narathiwat, dan Songkhla telah mengalami konflik selama beberapa dekade dengan Front Revolusioner Nasional. Kelompok itu disebut pemberontak utama.
Penunjukkan Sadeeyamu sebagai gubernur dianggap sangat penting bagi persepsi positif terhadap muslim kebanyakan. Hal itu dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah Thailand. Selain itu, penunjukkan bisa membantu upaya perdamaian pemerintah Thailand dengan pemberontak di wilayah selatan.
“Hal ini dapat menyebabkan lebih banyak kepercayaan pada negara Thailand, yang sangat penting untuk mengakhiri konflik,” kata Sattar.
Sadeeyamu sudah berkarir selama hampir 29 tahun di Kementerian Dalam Negeri di negara mayoritas Buddha tersebut. Dia juga sebelumnya menjabat sebagai Wakil Gubernur provinsi Narathiwat.
Baca Juga: Jarang Dikenal, Ini 7 Muslimah Hebat dari Masa ke Masa
Dia memulai karir tiga dekade lalu. Dia bertugas di provinsi selatan Ranong, Yala, dan Pattani. Dia juga pernah menjabat sebagai direktur kantor administrasi pusat dari Pusat Administrasi Provinsi Perbatasan Selatan.
Jabatan itu diemban sebelum diangkat sebagai wakil gubernur provinsi Phatthalung dan lalu Narathiwat, kemudian dipilih untuk mengepalai provinsi Pattani.
Pemberontakan di Thailand selatan berawal pada 1948. Pemberontakan itu merupakan konflik etnis dan agama di wilayah sejarah Melayu Pattani.
Menurut data pemerintah Provinsi Pattani Selatan, Yala, Narathiwat, dan Songkhla memiliki komunitas Melayu-Muslim yang besar dengan 1,4 juta penduduk.
Baca Juga: Samia Suluhu Hassan, Muslimah Presiden Tanzania Jadi Tokoh Muslim Paling Berpengaruh di Dunia
Diketahui, Thailand memberlakukan darurat militer di tiga provinsi mayoritas muslim di Thailand yakni Pattani, Narathiwat, dan Yalla menyusul kekerasan mematikan pada 2004. Menurut data Deep South Watch, lebih dari 7.000 orang tewas dan 13.000 terluka dalam konflik bersenjata dari 2004-2020.
(jqf)