Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 21 Juli 2024
home masjid detail berita

5 Masjid Bersejarah di Kota Solo, Sudah Berdiri hingga Ratusan Tahun

Fifiyanti Abdurahman Senin, 21 November 2022 - 05:00 WIB
5 Masjid Bersejarah di Kota Solo, Sudah Berdiri hingga Ratusan Tahun
Masjid Agung Surakarta (foto: Langit7.id/ iStock)
LANGIT7.ID, Solo - Kota Solo termasuk salah satu kota yang berdiri dengan beragamsejarah, mulai dari budaya, kuliner hingga tempat ibadah seperti masjid.

Terlihat beberapa bangunan masjid di Solo sudah berdiri hingga ratusan tahun lalu, dan masih tetap bisa digunakan hingga saat ini. Ketika berkunjung ke masjid tersebut, para jemaah tidak hanya melakukan ibadah tetapi juga mendapat ilmu-ilmu sejarah yang berkaitan dengan Kota Solo.

Berikut lima masjid bersejarah di Kota Solo yang wajib di kunjungi.

Masjid Al Wustho

Masjid bersejarah di Kota Solo yang pertama adalah masjid Al Wustho. Merujuk dari situs Pemerintah Kota Surakarta, Jumat (18/11/2022), masjid yang beralamat di Jl. Kartini No.3, Ketelan, Kec. Banjarsari, Kota Surakarta itu dibangun oleh Kanjeng Gusti Adipati Arya Mangkunegara I (1725-1795) pada tahun 1878.

Bangunan masjid dibuat dengan berbentuk joglo 3 tingkat yang mana mengandung makna filosofis Iman, Islam dan Ihsan. Gaya arsitekturnya sama dengan masjid Jawa lainnya, dengan atap teras berbentuk limas dan atap tupang bersusun tiga untuk ruang utama. Lokasi masjid ini strategis dan dekat dengan Pura Mangkunegaran.

Baca juga: Berkunjung ke 3 Masjid Ikonik Megah dan Mewah di Qatar

Karena ini merupakan masjid kerajaan, maka itu awalnya masjid Al Wustho diperuntukan khusus bagi keluarga kerajaan Pura Mangkunegaran dalam menjalankan ibadahnya. Seiring berjalannya waktu masjid ini terbuka untuk umum. Nama Al-Wustho pada masjid baru digunakan sejak tahun 1949.

Meskipun sudah berdiri 144 tahun, tetap saja masjid Al Wustho masih mempertahankan keasliannya. Mulai dari tembok pagar yang mengelilinginya, mimbar, tiang lampu dan bedug. Di sebelah selatan masjid terdapat maligin, bangunan melingkar yang dulunya berfungsi sebagai ruang khitan masal. Di sisi utara masjid terdapat menara setinggi 25 meter yang pada zaman dulu dimanfaatkan untuk adzan.

Masjid Al Wustho mempunyai ciri khas yang membedakan dengan masjid lainnya yaitu adanya markis. Markis merupakan semacam gapura pintu utama menuju teras yang dihias dengan kaligrafi. Selain itu nukilan ayat suci Al Quran juga menghiasi beberapa bagian masjid, gapura masuk, pintu-pintu dan jendela.

Masjid Laweyan

Selain bersejarah, masjid Laweyan juga termasuk masjid tertua di Kota Solo. Masjid ini sudah berdiri lebih dulu dari Masjid Agung Surakarta. Merujuk dari situs Pemerintah Kota Surakarta, Jumat (18/11/2022), masjid Laweyan dibangun pada masa Kerajaan Pajang sekitar tahun 1546.

Nama Laweyan diambil dari nama daerah tempat masjid ini berdiri, yakni Jl. Liris No.1, Belukan, Pajang, Kec. Laweyan, Kota Surakarta. Selain nama masjid Laweyan, masyarakat Solo juga kerap menyebutnya dengan nama masjid Ki Ageng Henis.

Dalam sejarah, tercatat ada seorang pemuka agama Hindu bernama Ki Beluk yang membangun sebuah pura di pinggir Kabanaran, sungai yang digunakan sebagai lalu lintas perdagangan batik. Sebagai pemuka agama Ki Beluk memiliki banyak murid. Ia menjalin persahabatan dengan Ki Ageng Henis, salah satu penasehat Kerajaan Pajang pada masa Sultan Hadiwijaya.

Baca juga: Masjid Al-Safar, Tempat Singgah Termegah di Rest Area Purbaleunyi

Ki Beluk dan Ki Ageng Henis sering berdiskusi seputar Islam hingga akhirnya Ki Beluk tertarik untuk memeluk Islam bersama dengan murid-muridnya berkat dakwah Ki Ageng Henis.

Usai memeluk Islam Ki Beluk pun kemudian mewakafkan tempat peribadatan tersebut untuk menjadi masjid. Konstruksinya yang menyerupai Pura menjadi daya tarik masjid ini. Arsitekturnya unik, ditambah dua belas pilar utama dari kayu jati kuno masih kokoh berdiri. Makam Ki Ageng Henis dan kerabat kerajaan berada di kawasan masjid ini.

Diketahui, masjid Laweyan berdiri di atas lahan seluas 162 meter persegi dengan kondisi yang terawat. Hingga saat ini masjid Laweyan masih digunakan sesuai fungsi masjid pada umumnya.

Masjid Agung Surakarta

Sejarah Masjid Agung Surakarta tak bisa dipisahkan dari pemindahan Keraton Kartasura ke Surakarta pada 17 Februari 1745 oleh Paku Buwana II. Merujuk dari situs resmi Masjid Agung Surakarta, Jumat (18/11/2022), perpindahan istana dari Kartasura itu merupakan imbas dari peristiwa Geger Pacina yang pecah tahun 1743. Geger Pacina adalah perang hebat yang dipicu pembantaian etnis Tionghoa di Batavia.

Paku Buwana II menginstruksikan perpindahan sesuai tradisi para raja terdahulu memindahkan keraton mereka. Ibu kota dipindahkan lewat prosesi kirab agung. Prosesi pemindahan keraton dari Kartasura ke Sala dilaksanakan pada pagi hari Rabu 17 Sura Je 1670 atau 17 Februari 1745.

Setibanya mereka di Solo, sebagaimana dicatat Raden Koesoemadi dalam artikel Soerakarta Adiningrat 200 Jaar di Majalah Djawa, bangsal pengrawit dipasang di Pagelaran yang telah disiapkan para abdidalem.

Baca juga: Putra Mahkota Arab Saudi Siap Sponsori Renovasi Masjid JIC

Paku Buwana II menuju singgasana, sementara panglima serta para perwira berdiri di sebelah kanannya, sedangkan para serdadu berbaris di alun-alun dalam deretan panjang. Dalam upacara itu, Paku Buwana II resmi menamai Desa Sala dengan sebutan Surakarta Hadiningrat. Diketahui, titah sang nata itu tak terbantah sampai sekarang.

Berdasarkan memori kolektif sebagian warga Kartasura dan Surakarta sebagaimana dikutip arkeolog Inajati Adrisijanti, bahan bangunan Masjid Agung Kartasura ikut dibawa pindah ke Surakarta dalam rangkaian momentum istimewa tersebut.

Sesuai tradisi Islam, andil setiap orang dalam pembangunan masjid memang tak boleh diabaikan, bahkan meskipun masjid itu dipindahkan. Pada kenyataannya, kini Masjid Agung Keraton Kartasura tidak lagi dapat dijumpai.

Lahan bekas Masjid Agung Kartasura di sebelah barat alun-alun tinggal dikenal penduduk sekitar melalui toponimi atau nama tempat yang tersisa dalam tradisi lisan warga setempat.

Tradisi lisan yang menyatakan bahwa Masjid Agung Kartasura dibawa ke Sala ini memang masuk akal dan relevan. Salah satu alasannya bangunan Masjid Agung Kartasura tidak permanen alias terbuat dari kayu, sehingga konstruksi kayu masjid bisa ikut dipindahkan ke Surakarta.

Setelahnya dibangunlah masjid Agung Surakarta oleh Paku Buwana II di keraton barunya dengan memakai rangka kayu masjid dari Kartasura. Karena Paku Buwana II saat itu masih fokus beradaptasi dengan lingkungan Desa Sala yang dipenuhi rawa, maka itu pembangunan masjid Agung berjalan lamban.

Diperkirakan, wujud bangunan masjid baru benar-benar tampak dan dianggap siap digunakan kerabat istana bersama warga sekitar pada masa kepemimpinan Paku Buwana III (1749-1788).

Masjid Agung Surakarta dirancang sama bentuknya dengan masjid Demak, berbentuk joglo dan beratap tajuk susun tiga yang melambangkan kesempurnaan kaum muslim dalam menjalani kehidupannya, yakni Islam, iman, dan ikhsan (amal).

Baca juga: KH Zae Nandang: Masjid Tempat Peningkatan Kualitas Hidup Manusia

Hal ini tak dapat dipisahkan dari persepsi umat Islam Jawa atas masjid Demak yang digolongkan sebagai pusaka yang tak ternilai. Karenanya, wajar saja jika Masjid Demak dijadikan pedoman membangun masjid oleh para penguasa dinasti Mataram Islam termasuk Sunan Paku Buwana II.

Masjid Darussalam

Masjid Darussalam berlokasi di Dusun Kedunggudel, Kelurahan Kenep, Kabupaten Sukoharjo. Masjid itu dipercaya menjadi saksi perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda, yang dibuktikan dengan adanya sebuah sumur yang ditutupi oleh kaca bertuliskan Sumur Kyai Pleret.

"Kyai Pleret adalah nama dapur tombak. Jadi untuk melegitimasi raja. Di Jawa itu salah satunya harus ada tombak Kiai Pleret. Nah yang melambangkan itu kekuasaan. Sumur Kyai Pleret itu istilahnya kalau Jawa nunggak semi, menirulah nama tombak itu," ujar tokoh masyarakat Kedunggudel, Sehono dikutip dari situs resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Ahad (20/11/2022).

Menurut dia, sumur itu digunakan untuk menyimpan harta perang dari Pakubuwana VI (PB VI) ke Pangeran Diponegoro. PB VI merupakan susuhunan Surakarta.

"Jadi wilayah perang Pangeran Diponegoro kan luas sekali. Itu hampir separuh Jawa lebih. Itu Pangeran Diponegoro mendapat dukungan dari Kasunanan Surakarta pada masa PB ke VI itu," katanya.

Sehono menuturkan, dari referensi yang diketahuinya, masjid ini dibangun oleh ulama yaitu Kiai Lombok. Makam sang pendiri masjid berada di belakang masjid. Kiai Lombok merupakan santri dari Wali Songo yang berasal dari Pulau Lombok. Masjid ini dibangun pada Ahad Pon bertepatan 20 Agustus 1837.

Baca juga: Sejarah Masjid Katangka, Tertua di Sulsel Berusia 4 Abad Lebih

Konon, masjid Darussalam pernah dihujani bom jenis kanon sebanyak 21 kanon. Namun tak satupun yang berhasil meledak. Tujuan Belanda ketika itu, untuk membumihanguskan Kedunggudel.

Dusun Kedunggudel sendiri, secara geografis dekat dengan Bengawan Solo. Kemungkinan besar, kata Sehono, Kedunggudel sudah ada sejak sebelum agama Islam masuk. Dia pernah menemukan batu bata merah ukuran besar dari dalam tanah.

"Jejak sejarah yang ada di sini, saya menemukan batu bata merah itu, berarti menandakan bahwa kampung dan peradaban di sini mungkin sudah ada sejak zaman Majapahit," imbuh Sehono.

Masjid Cipto Mulyo Pengging

Masjid ini terletak di Desa Pengging, Kecamatan Banyudono. Merujuk dari situs resmi Provinsi Jawa Tengah, Jumat (18/11/2022), masjid Cipto Mulyo Pengging merupakan masjid peninggalan Sri Susuhunan Pakubuwono X padatahun 1838.

Maka itu, tidak heran desain masjid yang berlokasi diarea sebelum memasuki gerbang makam pujangga Keraton Surakarta, R Ng Yosodipuro itu memiliki sentuhan yang hampir mirip dengan Masjid Agung Surakarta. Lokasi masjid juga berdekatan dengan Umbul Sungsang yang terkenal di kawasan Pengging.

Sejarahnya, pendirian Masjid Cipto Mulyo Pengging tidak lepas dari hubungannya dengan keberadaan makam R.Ng. Yosodipuro di dekatnya. Dalam sejarah juga dikatakan masjid tersebut didirikan oleh ayah R.Ng. Yosodipuro yaitu Tumenggung Padmonegoro dimana saat itu Tumenggung Padmonegoro menjadi Bupati Pekalongan yang diangkat oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Awal pendirian masjid, Tumenggung Padmonegoro menamakan masjid tersebut dengan nama Masjid Karangduwet. Kemudian masjid direnovasi oleh Pakubuwono X dan mengganti namanya menjadi masjid Cipto Mulyo.

Bangunan masjid Cipto Mulyo masuk dalam bangunan kuno bernuansa Jawa. Desain masjid dibuat khas Jawa yaitu berbentuk limasan seperti pendopo. Jika masuk ke dalam masjid maka akan terlihat pilar masjid yang terbuat dari kayu jati dan dicat berwarna krem.

(sof)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 21 Juli 2024
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:57
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan