LANGIT7.ID, Jakarta - Kabupaten Cianjur dan sekitarnya diguncang
gempa bumi pada Senin (21/11/2022) siang. Dalam keadaan seperti ini, korban bencana alam atau pengungsi membutuhkan beberapa kebutuhan seperti tempat tinggal sementara, selimut, pakaian, makanan, dan air bersih.
Gempa bumi biasanya mengakibatkan sejumlah bangunan roboh hingga jalanan sukar dilewati kendaraan. Itu mengakibatkan bantuan dalam jumlah besar sulit disalurkan. Maka itu, bantuan pokok bisa disalurkan secara bertahap.
Atas dasar itu, tim penanggulangan bencana harus pintar mengatur kebutuhan makanan yang disajikan kepada korban bencana alam. Mengutip laman linisehat, berikut cara pendistribusian makanan berdasarkan tahapan penanganan bencana:
1. Tahap PenyelamatanTahap penyelamatan ini dibagi menjadi fase. Fase pertama, paling lama lima hari setelah bencana terjadi. Pada fase ini, makanan yang diberikan harus didistribusikan kepada semua korban agar tidak kelaparan. Makanan yang diberikan dalam bentuk makanan jadi, kudapan, jajanan, makanan standar ransum.
Baca Juga: Cara Mudah Pasang Tenda Terpal, Cocok untuk Pengungsi Gempa
Makanan ransum merupakan bantuan bahan makanan agar korban tetap mendapatkan asupan energi, protein, dan lemak untuk beraktivitas dan bertahan hidup. Ransum dibedakan menjadi dua yaitu ransum kering (dry ration) dan ransum basah (wt ration).
Ransum basah diprioritaskan mengandung garam beryodium dan minyak goreng yang difortifikasi vitamin A. Contoh dari kedua ransum itu adalah biskuit, mie instan, sereal instan, makanan MP-ASI (untuk bayi MP-ASI), susu untuk anak balita, makanan kaleng, dll.
Fase kedua paling lama 20 hari setelah bencana terjadi. Pada fase ini, makanan yang diberikan disesuaikan dengan menu makanan setempat melalui dapur umum. Jika tidak sesuai dengan selera masyarakat setempat yang menjadi korban, maka setinggi apapun kandungan gizi, tidak akan bisa mereka konsumsi.
Baca Juga: Jangan Panik, Baca Doa Ini Saat Terjadi Gempa Bumi
Tapi, makanan yang diberikan harus mengandung kalori sebesar 2.100 kkal dengan kandungan protein 50 g dan lemak 40 g.
2. Tahap Tanggap DaruratPada tahap ini, fase dimulai paling lambat pada hari ke-20 setelah bencana alam terjadi, tepatnya di tempat pengungsian. Ini bertujuan mengatasi masalah gizi sesuai dengan intervensi tingkat kedaruratan gizi, seperti prevalensi balita kurus (besar atau sama dengan 10-14% atau 5-9.9% disertai faktor penyulit, seperti asupan makanan1 per 10.000/hari, dll), dan ibu hamil risiko kurang energi kronik (KEK).
Cara mengetahui intervensi ini dengan melakukan sampling data berat badan/tinggi badan balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Selain itu, bisa dilakukan pemberian makanan tambahan (kudapan/jajanan/biskuit) dan vitamin seperti vitamin A dan Fe.
Baca Juga: Gempa Cianjur, Ini Cara Menyelamatkan Diri Saat di Dalam Ruangan
Untuk korban bencana umur dewasa, pemilihan makanan yang sesuai dengan ketersediaan bahan makanan, paket bantuan (ransum) disesuaikan dengan jumlah kebutuhan (2100 kkal), mengandung vitamin dan mineral, mudah diangkut, disimpan dan didistribusikan.
Sedangkan, untuk kelompok rentan seperti bayi, anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia asupan zat gizi harus diperhatikan agar tidak berkurang.
(jqf)