LANGIT7.ID - , Jakarta - Hal yang lumrah bila orang tua bermimpi melihat anak dapat tumbuh
bahagia. Tak heran jika
orang tua mencurahkan segala upaya agar anak tumbuh terlindungi, berharga, dan dicintai.
Pentingnya menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak, mengutip Time, Rabu (30/11/2022), berikut sejumlah cara agar anak tumbuh lebih bahagia di usia mereka.
Bahagiakan diri sendiri
Siapa sangka langkah pertama untuk membuat anak tumbuh lebih bahagia adalah sedikit egois. Artinya Anda harus membuat diri sendiri bahagia terlebih dahulu sebelum membahagiakan anak-anak.
Baca juga: Sultana Al Amri: Kebahagiaan Kunci Tingkatkan Kinerja Lebih BaikPenelitian ekstensif telah membentuk hubungan yang substansial antara ibu yang merasa tertekan dan hasil negatif pada anak-anak mereka, seperti bertingkah laku dan masalah lainnya.
Orang tua yang depresi malah menyebabkan masalah perilaku pada anak-anak dan membuat pola asuh tidak efektif.
Ajarkan anak bangun hubungan
Mengajarkan anak membangun hubungan tidak perlu ribet-ribet. Anda bisa memulainya dengan mendorong anak untuk melakukan tindakan kebaikan kecil untuk membangun empati.
Tidak hanya membangun keterampilan penting dan membuat anak-anak menjadi orang yang lebih baik, penelitian menunjukkan dalam jangka panjang hal itu membuat mereka lebih bahagia.
Ada pasien multiple sclerosis (MS) yang dilatih untuk memberikan perhatian positif tanpa syarat kepada penderita MS lainnya melalui panggilan telepon bulanan selama lima belas menit.
Terapi yang dilakukan selama dua tahun pun menunjukkan peningkatan nyata pada kepercayaan diri, harga diri, depresi, dan fungsi peran.
Harapkan upaya bukan kesempurnaan
Orang tua yang terlalu menekankan prestasi kepada anak cenderung memiliki anak dengan tingkat depresi, kecemasan, dan penyalahgunaan zat yang tinggi dibandingkan dengan anak lain.
Baca juga: Nomorsatukan Kebahagiaan Orang Lain, Ustaz: Bagus, Asal Tak BerlebihanAda penelitian yang mengatakan puji usaha, bukan kemampuan alami. Ditemukan mayoritas anak-anak yang dipuji karena kecerdasannya menginginkan teka-teki yang lebih mudah; mereka tidak akan mengambil risiko melakukan kesalahan dan kehilangan status mereka sebagai pintar.
Di sisi lain, lebih dari 90 persen anak-anak yang didorong pola pikir berkembang memilih teka-teki yang lebih sulit.
Ajarkan optimisme
Tahukah Anda bahwa anak usia sepuluh tahun yang diajari cara berpikir dan menafsirkan dunia secara optimis, tidak rentan terhadap depresi ketika mereka melewati masa pubertas.
Penulis Christine Carter mengatakan bahwa optimisme sangat erat kaitannya dengan kebahagiaan sehingga keduanya secara praktis dapat disamakan.
Dia lalu membandingkan optimis dengan pesimis. Dia menemukan optimis lebih sukses di sekolah, pekerjaan, dan atletik. Kemudian, lebih sehat dan hidup lebih lama. Pada akhirnya lebih puas dengan pernikahan dan minor kemungkinan mengalami depresi dan kecemasan.
Kenalkan kecerdasan emosional
Kecerdasan emosional adalah keterampilan, bukan sifat bawaan. Berpikir bahwa anak-anak akan secara alami memahami emosi mereka sendiri (apalagi emosi orang lain) tidak membuat mereka sukses.
Baca juga: Tausiah Ahad Pagi: Rasa Takut yang Mendatangkan KebahagiaanLangkah sederhana pertama yang bisa diajarkan kepada anak untuk kecerdasan emosionalnya adalah berempati, melabeli, dan memvalidasi saat mereka bergumul dengan kemarahan atau frustrasi.
Bantu anak mengidentifikasi apa yang mereka rasakan dan beri tahu mereka bahwa perasaan itu baik-baik saja.
Membiasakan bahagia
Membentuk kebiasaan bahagia dapat membantu anak tumbuh dengan bahagia. Carter memberikan beberapa metode ampuh yang didukung oleh penelitian untuk membantu anak bentuk kebiasaan bahagia, diantarannya;
Menghapus rangsangan atau menyingkirkan gangguan dan godaan. Kemudian, menetapkan tujuan untuk meningkatkan dukungan dan tekanan sosial. Lalu, satu tujuan pada suatu waktu. Dan keep at it atau jangan mengharapkan kesempurnaan dengan segera. Sebab ini membutuhkan waktu, dan dalam perjalannya akan ada kekambuhan.
Disiplin diri
Disiplin diri pada anak-anak lebih memprediksi kesuksesan di masa depan daripada kecerdasan atau yang lainnya. Artinya, anak-anak yang lebih baik menahan godaan dalam menjalani kehidupan jauh lebih baik bertahun-tahun kemudian dan lebih bahagia. Karenanya ajarkan anak untuk disiplin diri.
(est)