LANGIT.ID, Jakarta - Sistem
logistik halal di Tanah Air masih memiliki kelemahan dari segi aspek ketertelusurannya. Untuk itu, pengembangan sistem logistik halal 5.0 sangat diperlukan.
Hal itu dikatakan Dosen
IPB University dari Fakultas Teknologi Pertanian, Prof Yandra Arkeman dalam Webinar Halal Traceability Systems (HTS): From Manual to Smart Blockchain, beberapa waktu lalu.
"Kelemahan sistem logistik halal adalah ketidakberadaan aspek ketertelusurannya," kata dia dilansir
IPB, dikutip Jumat (2/12/2022).
Menurutnya, saat ini belum ada alat untuk memeriksa kehalalan secara cerdas dan cepat. Sementara sistem informasi yang ada juga masih bersifat semi otomatis, yang derajat otomisasi dan digitalisasinya relatif rendah.
Baca Juga: Konsep Halal dan Tayib Berpotensi Tingkatkan Perekonomian“Kita perlu melakukan digitalisasi di sepanjang rantai pasok tersebut. Mulai dari meningkatkan sistem ketertelusuran dengan blockchain, meningkatkan kecerdasan blockchain, serta mengintegrasikan blockchain dan smart device dengan kecerdasan buatan,” katanya.
Teknologi blockchain, kata dia memiliki karakteristik yang mendukung revolusi industri 4.0/5.0. Di mana teknologi ini bisa memberikan transparansi, lebih terpercaya, dan tertelusur.
“Ini karena data yang tersimpan dapat terhubung satu sama lain. Data tersebut juga diamankan dengan sistem kriptografi, sehingga tidak dapat diretas atau dipalsukan,” jelasnya.
Dia berharap, sistem blockchain halal ke depan dapat disinergikan dengan kecerdasan buatan. Tujuannya agar penyimpanan data bisa lebih aman dan dapat diintegrasikan dengan teknologi lainnya.
Menurutnya, akan ada tantangan dalam pengembangan sistem blockchain halal tersebut. Di antaranya dari sisi teknologi itu sendiri, kemampuan, pengalaman, serta infrastruktur dan regulasi.
"IPB University melalui HSC telah melakukan riset dan pengembangan sistem blockchain halal ini bersama lembaga terkait. Nantinya akan diciptakan sistem blockchain halal 5.0 yang sesuai harapan,” tambahnya.
(bal)