LANGIT7.ID, Jakarta -
Konsep halal dan tayib dalam Islam memiliki potensi untuk mendongkrak
pertumbuhan ekonomi. Sebab hal ini dapat diterima oleh seluruh umat manusia.
Ketua PP
Muhammadiyah, Syamsul Anwar mengatakan, pengembangan konsepsi halal dan tayib dapat mendatangkan kemanfaatan ekonomi.
Untuk itu, pihaknya mendorong
Halal Center di sejumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) untuk mengembangkannya.
"Apalagi Indonesia merupakan negara dengan mayoritas muslim terbanyak di dunia. Dengan tingkat konsumsi halal food tertinggi di dunia, ini bisa menjadi peluang untuk mendatangkan kemanfaatan ekonomi," ujarnya dilansir laman Muhammadiyah, Kamis (1/12/2023).
Baca Juga: LPPOM MUI Fasilitasi Sertifikasi Halal Negara-negara OKISyamsul berharap agar Halal Center Muhammadiyah bisa memanfaatkan potensi pasar yang ada. Sehingga halal food bisa dipasarkan secara masif, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri.
Selain itu, potensi pasar yang ada juga cukup besar. Sebab, konsep halal dan tayib dapat menumbuhkan minat tidak hanya dari kalangan muslim, tapi juga dari kaum non-muslim.
"Halal food dipilih karena kualitas, kebersihan, kesehatan, dan keamanannya yang terjamin. Ini adalah ajaran Islam yang paling diterima di seluruh dunia. Karena setiap yang halal dan tayib pasti bersih, higienis, dan dapat percaya," ungkapnya.
Menurutnya, konsepsi Islam terkait halal dan tayib tidak hanya menekankan pada kualitas makanan semata, tapi juga peralatan penunjang hidup seperti pakaian, kosmetik, dan lainnya.
“Halal dan tayib bukan hanya yang kita makan saja, tapi juga mencakup barang-barang yang digunakan. Misalnya seperti alat masak yang terbuat dari bahan halal. Ini penting untuk diperhatikan,” kata dia.
Dia jua menambahkan, halal dan tayib merupakan komitmen dalam Islam sebagai bentuk ketundukan kepada Allah SWT. Sehingga menjaga komitmen tersebut juga dapat bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
(bal)