LANGIT7.ID, Jakarta - Koordinator Bidang Informasi Gempa Bumi & Peringatan Dini Tsunami
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Iman Fatchurochman, mengatakan, wilayah Indonesia rawan
gempa sebagai konsekuensi lokasinya yang terletak pada tiga lempeng tektonik utama dunia yakni Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik.
Tiga lempeng tersebut bergerak secara dinamis dan saling menekan sehingga menimbulkan gempa bumi, ada yang dirasakan dan tidak dirasakan. Aktivitas lempeng itu menyebabkan munculnya 13 zona megathrust, 295 sesar aktif, dan masih banyak jalur sesar aktif yang belum terpetakan.
“Seperti kasus gempa kemarin yang ada di Padang, itu juga sesar yang baru sebetulnya. Gempa di Flores yang menimbulkan tsunami kecil juga sesar baru. Jadi, kita tidak tahu juga apakah di Cianjur apakah sesar baru ataukah masih di dalam zona yang sudah dipetakan,” kata Iman di Gelora Talk, Rabu (7/12/2022).
Baca Juga: Mbah Rono: Bangunan yang Membunuh, Bukan Gempa Bumi
Peningkatan aktivitas kegempaan di Indonesia. Sejak 2013 ada tren peningkatan jumlah aktivitas gempa bumi di Indonesia. Pada 2013 terdapat 4.234 gempa bumi dengan 11 gempa bumi merusak, 2014 ada 4.434 gempa bumi 6 di antaranya merusak, dan 2015 ada 5.299 gempa bumi 6 merusak.
“Peningkatan frekuensi aktivis seismik tidak terkait dengan penambahan pemasangan sensor, karena penambahan jaringan sensor seismik dilakukan pada 2019,” kata Iman.
Kemudian, 2016 ada 5.646 gempa bumi 12 merusak, 2017 ada 7.169 gempa bumi 20 merusak, 2018 ada 11.920 gempa bumi 22 merusak, 2019 ada 11.588 gempa bumi 18 merusak, 2020 ada 8.258 gempa bumi 11 merusak, 2021 ada 11.395 gempa bumi 27 merusak, dan 2022 ada 9.704 gempa bumi 18 merusak.
“Angka signifikan jumlah gempa pada 2018 dan 2019 terkait dengan beberapa kejadian gempa pada 2018 yakni gempa Lombok 2.793 gempa susulan dan gempa Palu 1.438 gempa susulan,” kata Iman.
Baca Juga: Gempa M 5,8 di Sukabumi, BMKG: Gerakan Tanahnya Lebih Kuat dari Megathrust
Iman meminta masyarakat mewaspadai blind fault yakni patahan yang tidak bisa diidentifikasi dari permukaan, karena ada di bawah permukaan tanah. Kita harus mengenali setelah terjadi gempa bumi.
Sementara, sesar aktif bisa dilihat. Sebuah sesar dikatakan aktif jika dalam kurung waktu 10.000 tahun pernah bergerak. Di Indonesia, sudah terjadi lebih dari 45 kali gempa mematikan (deadly earthquake) akibat sesar aktif.
“Sebagian sumber gempa sesar aktif ini terletak di daratan dekat pemukiman. Yang terakhir ada gempa Cianjur M5,6 pada 21 September 2022,” kata Iman.
Rata-rata gempa yang menimbulkan kematian diakibatkan kondisi bangunan yang tidak sesuai standar gempa bumi. Menurut Iman, hal tersebut harus menjadi perhatian pemerintah agar menyiapkan regulasi atau insentif untuk membangun bangunan tahan gempa.
Baca Juga: Ini Penyebab Indonesia Sering Diguncang Gempa Bumi
“Contohnya, kebanyakan yang ditemukan di Cianjur, banyak rumah-rumah yang tidak punya kolong, kalaupun ada kolong tapi besi yang tidak memadai,” tutur Iman.
Ada beberapa faktor lain yang menyebabkan gempa merusak. Di antaranya gempa bumi memang memiliki dampak magnitudo yang kuat, kondisi tanah lunak, dan struktur bangunan lemah.
“Gempa tidak membunuh dan melukai, tetapi bangunan tembok dengan struktur lemah yang roboh menimpa penghuni adalah penyebabnya,” kata Iman.
Baca Juga: Gempa Jember Berjenis Outer Rise Earthquake, BMKG: Bisa Picu Tsunami
Aktivitas gempa terkini mulai 1 November sampai 5 Desember 2022, Iman menyebut sudah terjadi 1.419 gempa bumi. Aktivitas gempa ini sangat dipengaruhi oleh gempa susulan di Cianjur, Jawa Barat.
“Seluruh wilayah yang berada di cincin api atau sekitar lempeng punya aktivitas seismik yang cukup tinggi, mulai dari Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, bahkan Palu pun masih terjadi gempa-gempa kecil,” ujar Iman.
(jqf)