Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 02 Juni 2026
home global news detail berita

Mbah Rono: Bangunan yang Membunuh, Bukan Gempa Bumi

Muhajirin Kamis, 08 Desember 2022 - 14:08 WIB
Mbah Rono: Bangunan yang Membunuh, Bukan Gempa Bumi
Pakar Geologi, Dr Surono atau akrab disapa Mbah Rono (foto: Gelora TV)
LANGIT7.ID, Jakarta - Pakar Geologi, Dr Surono atau akrab disapa Mbah Rono, menegaskan, gempa bumi sebenarnya tidak membunuh manusia. Namun, gempa sering menimbulkan korban jiwa karena struktur bangunan yang tidak tahan gempa.

“Ujian ini tidak pernah lulus kita. Gempa itu sampai sekarang tidak membunuh kita, yang membunuh adalah infrastrukturnya,” kata Mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM itu dalam Gelora Talk, Rabu (7/12/2022).

Sebenarnya, kata Mbah Rono, nenek moyang orang Indonesia sudah menciptakan rumah-rumah tahan gempa. itu bisa dilihat dari arsitektur rumah adat yang ada di Indonesia. Mereka tidak memiliki pendidikan tinggi, namun mampu membaca alam dan membuat bangunan dengan empiris.

Baca Juga: Ini Penyebab Indonesia Sering Diguncang Gempa Bumi

“Nenek moyang kita dengan empiris yang ada dengan menciptakan bangunan-bangunan tahan gempa,” ujarnya.

Dia mencontohkan rumah adat yang ada di daerah Sunda. Struktur bangunan menggunakan kayu dengan tiang pendek. Tiang itu pun tidak ditanam ke dalam tanah, hanya ada lapisan seperti batu agar bangunan simetris.

“Itu sebenarnya bangunan tahan gempa dan tahan gerakan tanah. Semua rumah-rumah adat, nenek moyang kita sudah menciptakan bangunan yang menyesuaikan diri dengan kondisi alam,” ungkap Mbah Rono.

Dia lalu mencontohkan mayoritas bangunan yang roboh saat terjadi gempa. Biasanya terbuat dari batu beton dengan lantai dasar semen. Berbeda dengan rumah berbahan kayu dengan konsep rumah adat, atau mendekati arsitektur rumah adat.

Baca Juga: Dampak Gempa Cianjur Sangat Parah Sebab Episentrum Dekat Pemukiman Warga

“Kita lihat, bangunan mana yang tidak roboh saat terjadi gempa. karena bangunan itu yang membunuh, bukan gempanya. Ini yang harus kita pikirkan. Jadi, kita kembali kepada empiris alam, kita sebagai tamunya alam, kita harus minta izin kepada sang tuan rumah alam,” tutur Mbah Rono.

Maka itu, kata dia, ilmu pengetahuan harus menjadi jembatan antara arsitektur bangunan dengan alam. Ini tidak boleh ditawar lagi. Terlebih, Indonesia dikenal dengan negara seribu bencana alam.

“Ilmu pengetahuan harus jadi jembatan antara yang punya rumah dan tamunya. Saya pikir, Indonesia ini bukan tidak bisa, tetapi bagaimana kita mengharuskan mereka,” ujar Mbah Rono.

Selain itu, saat menjabat sebagai Kepala PVMBG, Mbah Rono mengaku sudah membuat peta daerah rawan bencana. Peta itu sudah diserahkan kepada pemerintah daerah di Indonesia sebagai acuan dasar tatanan pembangunan kota maupun desa.

Baca Juga: Pakar Gempa: Upaya Mitigasi Harus Dimulai dari Sekolah

Namun, peta itu belum digunakan sampai saat ini. Terbukti, masih banyak penduduk di daerah rawan bencana. Menurut Mbah Rono, daerah rawan bencana memang menggiurkan untuk dijadikan tempat tinggal.

Dia mencontohkan daerah rawan longsor yang memiliki stok air melimpah. Daerah gempa bumi memiliki struktur tanah yang mudah diolah. Hingga likuifaksi yang juga memiliki stok air banyak. Ini yang membuat banyak masyarakat tetap memilih tinggal di daerah rawan gempa.

“Makanya, kalau terjadi gempa bumi, tsunami korbannya banyak. Dekade terakhir yang mendominasi adalah kematian akibat gempa bumi dan tsunami.,” ujar Mbah Rono.

Baca Juga: Pakar Geologi Unpad Duga Gempa di Cianjur Disebabkan Sesar Aktif Baru

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 02 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)