LANGIT7.ID, Jakarta - Menteri Pekerja Umum dan Perumahan Rakyat,
Basuki Hadimuljono mengatakan penataan kawasan Bendung Karet Tirtonadi, menjadi salah satu upaya untuk mengedukasi publik tentang pentingnya air dan pengelolaan sumber-sumber air yang berkelanjutan.
"Pengelolaan air adalah urusan kita bersama termasuk masyarakat sebagai pemakai air. Oleh karena itu kita wajib melestarikan keberadaan sumber air, seperti tidak membuang sampah ke sungai,” ungkap Basuki dalam keterangan resminya dikutip Senin (12/12/2022).
Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Maryadi Utama menjelaskan penataan kawasan hilir Tirtonadi merupakan bentuk pemanfaatan bantaran sungai, sebagai ruang publik bagi masyarakat kota Surakarta dengan tidak mengurangi fungsi dari sungai itu sendiri.
Baca juga: Sering Jadi Rujukan MICE, Menparekraf Dorong Pengembangan Parekraf Kota Solo Menurutnya, penaataan kawasan Bendungan Tirtonadi ini mengadopsi konsep Arsitektur Mangkunegaraan, yang terlihat pada beberapa bentuk ornamen serta penggunaan warna kuning.
"Penggunaan warna kuning pada Pagar Pengaman, Tiang Lampu, Kursi Taman, Gazebo, Rumah Panel, serta bangunan yang menjadi ikon baru di Surakarta yaitu Frame Tirtonadi sebagai tempat foto dengan latar Bendung Tirtonadi, Gunung Merapi dan Merbabu," kata Maryadi.
Maryadi juga menyampaikan, untuk memberikan nuansa rindang dan kenyamanan pengunjung di sepanjang koridor Bandungan Tirtonadi. Pihaknya melengkapi tanaman-tanaman sebagai penghias kawasan tersebut, terutama pohon-pohon yang mempunyai kaitan erat dengan Kota Solo.
Baca juga: 5 Tipe Pelancong saat Travelling, Kalian yang Mana? "Kehadiran Bendung Karet Tirtonadi diharapkan tidak hanya menjadi pengendali banjir dan tampungan air baku, tapi juga sebagai objek wisata edukasi lingkungan karena dilengkapi dengan taman yang menjadi ruang terbuka publik," ujarnya.
(sof)