LANGIT7.ID - , Jakarta - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah,
Haedar Nashir, menyebut ancaman rezimentasi agama yang mulai terjadi di masyarakat berlawanan dengan
Pancasila.
Menurut Haedar, konsep
rezimentasi agama merujuk pada masalah di mana agama secara bias dan subyektif lalu ingin disenyawakan dengan negara dan menjadi kekuatan negara.
Baca juga: Haedar Nashir Kutuk Aksi Bom Bunuh Diri di Astana Anyar“Kita melihat juga ada problem rezimentasi agama di mana agama secara bias, tendensius dan subjektif baik itu berbentuk paham atau golongan ingin disenyawakan dengan negara lalu menjadi kekuatan negara. Ini bagi kami berlawanan dengan dasar konstruksi ide dan cita-cita Indonesia sebagai negara Pancasila,” ungkap Haedar dalam keterangannya, dikutip dari laman Muhammadiyah, Selasa (13/12/2022).
Menurut guru besar sosiologi ini, Pancasila adalah kesepakatan para pendiri bangsa yang harus senantiasa dijaga. Di Muhammadiyah, ikhtiar itu dinyatakan lewat dokumen resmi Darul Ahdi wa Syahadah.
“Semua bertemu di situ, negara hasil kesepakatan bersama dan kita tidak boleh keluar dari situ termasuk bentuk negara. Indonesia bukan negara sekuler, maka jangan dibawa jadi negara sekuler dan Indonesia bukan negara agama maka jangan dibawa menjadi negara agama,” jelasnya.
"Negara agama itu bukan semata-mata kekhilafahan, itu jelas kita tolak, atau negara berdasar agama tertentu, tapi juga menjadikan paham agama tertentu, mazhab tertentu, kekuatan agama tertentu itu mendominasi negara dan bersenyawa dengan negara lewat politik,” tambah Haedar.
Baca juga: Pesan Haedar Nashir: Jalankan Pesta Demokrasi dengan Cara BerkualitasHaedar khawatir, bila masalah ini dibiarkan berlarut-larut maka Indonesia tidak saja kehilangan Pancasila namun juga jatuh ke dalam konflik horisontal seperti halnya yang pernah terjadi di Eropa.
“Nah ini akan ada problem besar jatidiri Indonesia sebagai negara Pancasila menjadi tereliminasi. Kedua, akan ada problem serius di mana akan ada pertentangan kelompok agama melawan kekuatan agama di balik negara itu,” kata dia.
“Atau di (khazanah) Islam ada istilah mihnah (ujian), ketika suatu mazhab berkuasa dan menghabisi mazhab lain yang tidak berkuasa, ini tidak boleh terjadi ke depan dan menjadi perhatian kita ke depan,” tegasnya.
Baca juga: Jelang 2024, Haedar Nashir Tegaskan Muhammadiyah Bukan Kendaraan Politik(est)