LANGIT7.ID - , Jakarta -
Artificiall Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan beberapa tahun ke belakang mulai banyak diperbincangkan. AI sendiri merupakan simulasi kecerdasan manusia oleh mesin atau komputer.
Teknologi ini dirancang dengan kecerdasan buatan layaknya manusia, sehingga dapat melakukan banyak hal. AI digadang-gadang hadir untuk membantu
manusia dalam beberapa pekerjaan.
Namun, tak bisa dipungkiri, kehadiran AI di dunia kerja membuka potensi mengancam peran manusia dalam pekerjaan nantinya. Bahkan, pendiri Alibaba, Jack Ma dalam World Economic Forum 2018, mengatakan, manusia akan sulit bersaing dengan AI.
Baca juga: Peneliti INDEF: AI Tak Bisa Gantikan Pekerjaan Manusia"Komputer selalu lebih pintar dari manusia. Lari sekencang mungkin tetap akan kalah dengan mobil. Komputer lebih pintar dari Anda (manusia) karena mereka mampu menyimpan banyak memori dan tidak mempunyai emosi,"
Dia menambahkan, "AI dan robot akan menyingkirkan banyak pekerjaan. Karena di masa depan semua dikendalikan dengan mesin. Kita harus mempunyai
soft skill untuk berkompetisi dengan AI," katanya.
Terkait hal itu, pemerhati pendidikan,
Dirgantara Wicaksono mengatakan hal utama yang harus dimiliki manusia, khususnya fresh graduate, adalah soft skill.
Menurut Bombom, panggilan akrabnya, soft skill merupakan keahlian yang terdapat kebaruan sehingga tidak dimiliki orang lain. Meski begitu, lanjut Bombom, hard skill pun tetap dibutuhkan.
"Jika dilihat dari isu pada abad 21 ini, soft skill dan hard skill yang penting untuk dimiliki adalah 4C (
critical thinking, collaboration, communicative, dan creative)," kata Bombom saat dihubungi Langit7, dikutip Rabu (14/12/2022).
Baca juga: Mengenal Artifical Intelligence dan Manfaatnya bagi Kehidupan Manusia"Jadi bagaimana orang memiliki kritisasi yang tinggi, terus tidak hanya bisa berdiri sendiri tetapi juga berkolaborasi. Fresh graduate juga harus kreatif dan komunikatif. Nah, ini adalah kecakapan abad 21. Kecakapan ini saling melengkapi supaya fresh graduate tidak tergusur dari AI," ujarnya.
Kemudian, lanjut Bombom, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan para mahasiswa untuk mencapai hal itu.
Hal pertama, menurut Bombom, mahasiswa harus memahami jurusan atau bidang studi yang diambil. Kata Bombom, jangan mengambil jurusan yang prospek kariernya bertentangan dengan kebiasaan.
"Jangan Anda kuliah di jurusan pendidikan sejarah yang mana prospek kerjanya bakal menjadi guru tetapi Anda malas membaca. Itu tidak akan sukses menjadi guru sejarah. Mungkin kita akan lulus-lulus aja, tetapi di dunia kerja kita tidak akan dipakai," katanya.
Menurut Bombom, kebiasaan membaca juga harus diperkaya dengan diskusi dan menghasilkan karya tulisan.
Baca juga: Drone Emprit: ChatGPT Perlu Suplai Referensi agar Akurat Jawab Masalah Agama"Tulisan mahasiswa itu tulisan yang kritis, yang daya baca dan nalarnya itu lebih hebat. Karena setelah baca, dia (mahasiswa) bisa diskusi dengan teman-temannya secara terbuka dengan kritisi yang tinggi untuk keahlian di bidang masing-masing," tutur dosen Prodi S-2 Pendidikan Sejarah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu.
Selanjutnya aktif di organisasi untuk mendapat dan memperluas jaringan. Terpenting saat ini, kata Bombom, adalah membuat link atau jejaring lintas prodi atau angkatan.
"Nah itu yang penting. Yang penting juga yaitu bagaimana bisa membuat link atau jejaring baik sesama teman atau lintas prodi ataupun senior-senior terutama dalam bidang kerja. Karena yang paling akan membuat seseorang itu sukses bukan hanya kecerdasan intelektualnya saja tetapi juga link," jelasnya.
"Ada mahasiswa terbaik cerdas dan pintar tetapi dia tidak punya link atau jaringan dari senior yang membawa dia ke tahap ke tingkat yang lebih tinggi maka dia akan kerja biasa-biasa saja," tukas Bombom.
Baca juga: AI Makin Canggih, Muncul ChatGPT yang Bisa Jawab Persoalan Agama(est)