LANGIT7.ID, Jakarta - Yunus Emre merupakan salah satu penyair sufi yang sangat legendaris di Turki. Penyair yang hidup di awal masa
Turki Utsmani itu masih dikenang dan selalu harum di kalangan masyarakat Turki hingga kini.
Yunus hidup dan tinggal di Turki saat masa invasi atau serangan pasukan Mongol mendatangi Turki. Situasi kala itu sangat sulit, sehingga mengharuskan Yunus Emre ekstra bersabar.
Salah satu ajaran penting Yunus Emre adalah mensyukuri dan mencintai alam semesta yang merupakan Ciptaan-Nya. Pelajaran tersebut dikembangkan oleh pemuda yang terkumpul dalam Persatuan Pemuda Anatolia atau Ahiler, keturunan Karaman dan keturunan Osman. Pemuda-pemuda yang merupakan murid Yunus Emre itu punya andil besar dalam mendirikan Kesultanan Utsmani.
President of Yunus Emre Enstitusu, Prof. Dr. Seref Ates, pemikiran Yunus Emre juga sangat digemari anak muda kala itu. Dia bahkan sangat terkenal di seluruh Turki. Menurut Seref, salah satu pemikiran Yunus Emre yang terkenal sampai saat ini adalah pandangan yang melihat semua jiwa sebagai satu.
Baca Juga: Perkuat Diplomasi Budaya Turki-Indonesia, Institut Yunus Emre Buka Kantor di UIN Jakarta
Yunus Emre tidak hanya berinteraksi manusia, tetapi juga dengan tumbuhan seperti bunga, mendengarkan suara putaran kincir air di atas air, dan menyebut mendapatkan hati adalah tujuan terpenting.
“Yunus Emre menilai ada aliran dan persatuan di antara jiwa. Dia mengatakan, Syariat dan Tarekat adalah pintu masuk ke Islam, sedangkan kecerdasan dan kebenaran adalah tujuan yang ingin dicapai. Persatuan dapat dicapai dengan mengalahkan ego dan melihat sang pencipta dalam setiap makhluk yang diciptakan,” kata Seref dalam acara International Symposium dengan tema
Strengthening Indonesia-Turkiye Relations through language and cultural diplomacy di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, beberapa waktu lalu.
Dengan tingkat pemahaman seperti itu, Yunus Emre mencapai kedamaian yang abadi. Menurut budaya Turki, seseorang dilahirkan dari Rahim ibunya, mencoba mengenali dirinya sendiri selama bertahun-tahun. Ketika dia mengenali dirinya sendiri, maka dia lahir dari dirinya sendiri, dan menjadi manusia seutuhnya.
“Orang yang lahir sendiri mencoba mencapai kecerdasan dan kebenaran. Cara untuk mencapai kecerdasan dan kebenaran yaitu menjadi satu dengan semua jiwa, adalah dengan menjalin ikatan satu sama lain,” ujar Seref.
Baca Juga: Ini Rekomendasi 7 Film Islam Turki untuk Tontonan Akhir Pekan
Menurut Yunus Emre, seseorang yang mencapai tingkat kecerdasan dan kebenaran tidak takut pada pemikiran dan materi. Mereka percaya akan pentingnya perkembangan umat manusia.
“Kata-katanya itulah yang paling menggambarkan Institut kami, yang terkandung dalam Yunus Emre karena sifatnya mewakili nilai-nilai kemanusiaan, cinta sesama, dan perdamaian sosial. Datanglah saling berkenalan, mari kita permudah pekerjaan, mari mencintai dan dicintai, dunia tidak tersisa untuk siapapun,” ujar Seref.
Melansir TRT, salah satu karya fenomenal Yunus Emre bernama Risaletü'n-Nushiyye. Karya itu merupakan hasil pemikiran Yunus Emre di bidang agama yang ditumpahkan dalam sebuah tulisan. Pada masa Turki Utsmani, karyanya dibuat semenarik mungkin seperti cerita dongeng. Saat ini, karya itu masih ada di bagian arsip dan wakaf bagi peninggalan Utsmani.
Bidang lain yang tidak akan dilupakan dari Yunus Emre adalah ilmu tasawuf. Dia merupakan seorang penulis dan pecinta puisi. Salah satu puisi religinya berjudul ‘Aruz Ölçüsü’. Karya puisi Yunus Emre memang sangat dinikmati oleh masyarakat Turki karena lebih menyadarkan kepada Pencipta yang Maha Kuasa.
Baca Juga: Mengenang Sultan Abdul Hamid II, Khalifah Terakhir Pelindung Al-Quds
Sampai saat ini, masih ada karya puisi Yunus Emre yang bisa dibaca dalam buku berjudul Türk Düşünürleri atau dapat diartikan sebagai ‘Pemikiran tokoh Turki’.
Karya terpenting Yunus Emre berjudul ‘Divan’. Karya ini dibuat dengan mencontoh karya Ahmet Yesevî yang berjudul ‘Divân-ı Hikmet’. Lebih dari dua belas ribu pemikiran Yunus Emre tumpah dalam karyanya yang berjudul ‘Divant’ tersebut.
Yunus Emre dimakamkan di kawasan Sarikoy Mihaliccik Eskisehir. Beberapa perbedaan pendapat juga didapat tentang tempat pemakamannya seperti di kota Karaman, Bursa, Kula Emre Sulta Koyu, Erzumun, Isparta Keciborlu, Aksray, Sandiklu, Unye, dan Sivas.
(jqf)