LANGIT7.ID, Jakarta - Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta,
Prof Nasaruddin Umar, mengajak umat Islam untuk melakukan introspeksi dan evaluasi diri atas capaian spiritual di penghujung 2022.
“Saya mengajak untuk melakukan introspeksi, apa capaian atau prestasi-prestasi spiritual yang kita lakukan dan kita perlu evaluasi di penghujung 2022 ini,” kata Prof Nasar dalam acara Muhasabah dan Istighosah Akhir Tahun yang digelar MUI di Masjid Istiqlal, dikutip Sabtu (24/12/2022).
Menurut dia, seorang hamba dinilai rugi jika prestasi spiritualnya hari ini sama dengan hari kemarin. Setiap hari harus ada peningkatan. Maka itu, penting untuk melakukan evaluasi agar bisa mengukur target pada 2023 nanti.
Baca Juga: Tips Bikin Resolusi Tahun Baru agar Tak Sekadar Wacana
“Hari ini kita datang melakukan evaluasi, mudah-mudahan target-target 2023 kita nanti InsyaAllah bisa diukur nanti," kata Prof Nasar.
Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) itu juga menjelaskan tentang kesadaran yang sifatnya bertingkat atau berlapis-lapis. Dia menganalogikan beberapa lapisan kesadaran itu dengan anak kecil yang tidak shalat subuh.
Anak kecil yang belum baligh tidak memiliki kewajiban salat lima waktu. Namun, tetap berusaha bangun cepat-cepat alias sebatas formalitas saja. Itu berbeda dengan orang dewasa yang salat subuh dengan penuh penghayatan.
“Jadi, kesadaran itu berlapis-lapis,” katanya.
Lebih lanjut, Prof Nasar menyampaikan tiga tingkatan kategori seorang hamba. Pertama, kategori ahli taat, yaitu orang yang melaksanakan seluruh ajaran Islam karena dianggap penting dan wajib. Maka itu, tak jarang merasa terpaksa dan terbebani dengan ibadah.
Kedua, ahli ibadah, yaitu orang yang melakukan seluruh ajaran Islam karena cinta. Dengan begitu, dia tidak akan merasa terbebani oleh ibadah, bahkan merasa sangat senang saat beribadah.
Hal yang membedakan ahli taat dan ahli ibadah adalah kualitas dan intensitas ibadahnya. Ini penting jadi bahan evaluasi diri untuk menentukan posisi diri saat ini, apakah ahli taat atau ahli ibadah.
“Kalau ahli ibadah, aku shalat karena mencintai shalat, aku mencintai zikir, aku mencintai shalawat. Seluruh ketaatan yang dilakukan dengan penuh rasa cinta itulah yang disebut dengan ahlul ibadah,” ucap Prof Nasar.
Tanda seseorang sudah mencapai status ahli ibadah adalah saat sudah susah membedakan antara sunnah dan wajib. Bukan karena tidak tahu. Tapi sunnah dan wajib dikerjakan karena sama-sama dicintai Allah. Jadi, ukurannya adalah cinta.
Ahli ibadah juga tidak lagi membedakan antara yang makruh dan haram. Itu karena keduanya sama-sama dibenci oleh Allah. Maka ahli ibadah akan meninggalkan sesuatu yang bersifat haram maupun makruh.
“Jadi, kalau masih membedakan ini wajib dan ini haram berarti kita masih kategori ahlut taat,” ujar Prof Nasar.
Baca Juga: Nasaruddin Umar, Imam Besar yang Mendakwahkan Hak-hak Perempuan
Ketiga,
Ahlullah. Ini adalah tingkatan yang paling tinggi. Jika ahli ibadah sasarannya masih ingin surga dan takut neraka. Tetapi,
ahlullah beribadah benar-benar tulus karena Allah dan mengharap ridha-Nya.
Maka itu, Prof Nasar mengajak umat Islam untuk terus meningkatkan kualitas spiritual pada tahun-tahun yang akan datang. Tiga tingkatan tersebut menjadi acuan dan bahan muhasabah diri agar mencapai tingkatan spiritual tinggi pada masa mendatang.
“Jadi, ada ukuran-ukuran untuk mengukur apakah kita itu sudah ahli taat. Kalau tadinya enggak shalat jadi shalat, Alhamdulillah, ahli taat. Kalau sudah 2023 nanti Insya Allah akan menjadi ahli ibadah, 2024 nanti akan menjadi ahlullah,” kata Prof Nasar.
(jqf)