LANGIT7.ID, - Jakarta - Pengalaman mengalami
kegagalan dapat menciptakan perasaan yang tidak nyaman. Umumnya perasaan yang muncul seperti rasa kecewa, marah, penyesalan, juga rasa malu.
Psikolog Teman Baik, Yustisia Anugrah Septiani mengatakan kegagalan bukan sebuah masalah asalkan tahu makna dan tujuan melakukan sesuatu tersebut.
Baca juga: Fakhri Husaini: Keluar AFF bukan Cara Bijak Menerima Kegagalan"Otak kita itu membentuk gagasan bahwa menyerah itu sesuatu yang buruk dan sulit diterima. Sulit diterima ini yang akhirnya memunculkan emosi marah, malu dan kecewa. Sebenarnya yang membuat kita tidak nyaman ya emosi ini. Sebenarnya ini bisa di atasi dengan tahu
mengelola emosi, salah satunya terima saja. Hadirkan emosi itu," ujar Yustisia dalam acara bertajuk "Tahu Kapan Saatnya Berhenti", Senin (26/12/2022).
Setiap manusia memiliki naluri untuk mengembangkan diri, akan tetapi ada tujuan yang membuatnya mengeluarkan lebih banyak energi, waktu dan uang.
"Tiga hal ini yang menjadi indikator pokok seberapa siap kita bisa mengeluarkan uang. Misal mau daftar beasiswa. Meski beasiswa tetapi proses untuk mendapatkannya butuh modal. Kemudian, seberapa siap kita mau mengeluarkan energi, kalau yang sudah bekerja dari pagi sampai sore maka sisa-sisa energinya masih kuat enggak mempersiapkan dokumen. Lalu, seberapa siap kita mau dan melewati sulit dan menyakitkan," katanya.
Yustisia menyarankan untuk bertanya pada diri sendiri terkait peran-perannya di rumah, kantor, dan lainnya sebelum memutuskan untuk berhenti atau pun lanjut.
Baca juga: Nikmati Kegagalan, Malah Sukses Kembangkan Bisnis PertanianHal terpenting, menurut Yustisia, saat mengalami kegagalan adalah mengevaluasi diri dan menyikapinya dengan bijak.
"Setelah menerima baru kita merefleksikan diri misal 'Kemarin ujian ku gagal mungkin cara belajar ku yang tidak benar.' Jadi kita perlu mengevaluasi lagi. Akhirnya ketika kita mau berhenti, kita benar-benar mengatakan dengan sadar bukan karena rasa emosi marah maupun kecewa yang masih tinggi," cetusnya.
(est)