LANGIT7.ID, Jakarta - Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Fathul Wahid, Ph.D, memaparkan tiga bekal penting untuk menghadapi tahun politik 2023 jelang
Pemilu 2024 mendatang. Dia menilai, suhu politik menuju pesta demokrasi lima tahunan itu sudah mulai memanas.
“Sebentar lagi kita sebagai bangsa akan memasuki tahun politik jelang Pemilu 2024, ketika pemilihan presiden digelar. Suhunya, saat ini, sudah terasa menghangat,” kata Fathul saat memberikan sambutan dalam acara wisuda UII, dikutip laman resmi UII, Kamis (29/12/2022).
Baca Juga: Jelang Tahun Politik, MUI Tetap Netral dan Enggan Terjebak Politik Praktis
Fathul lalu membeberkan tiga bekal penting untuk menghadapi tensi persaingan di kancah politik nasional. Tiga poin di antaranya:
1.Tetap Rawat Akal SehatMenurut Fathul, masyarakat Indonesia harus tetap merawat akal sehat. Itu bukan hal muda, ketika banyak kalangan masyarakat tidak menjadi pemikir yang merdeka dan mandiri, serta cenderung mengikuti narasi publik. Padahal, narasi publik seringkali dipenuhi beragam kepentingan.
“Akal sehatlah yang bisa menepis beragam informasi salah atau hoaks yang berkembang dengan pesat di tengah-tengah kita. Akal sehatlah yang akan menjadikan kita tidak mudah diadu-domba dan menerima hasutan,” ujar Fathul.
Jika masyarakat melakukan hal itu, maka akan terbentuk akal sehat kolektif, yang penting untuk merawat persatuan bangsa Indonesia. Itu merupakan warisan mahal dari para pendiri bangsa yang harus dipertahankan.
Baca Juga: Masuk Tahun Politik, Kominfo Minta Masyarakat Bijak Gunakan Ruang Digital
“Kita sudah menjadi saksi sejarah, banyak bangsa yang hancur ketika persatuan tidak bisa dijaga,” kata Fathul.
2. Menjadi Manusia yang Dapat Menerima PerbedaanDalam menghadapi suhu politik Indonesia, masyarakat Indonesia harus bisa menjadi manusia yang dapat menerima perbedaan. Membayangkan semua orang sependapat seperti mimpi dengan mata terbuka, alias tidak mungkin.
Setiap orang mempunyai asal yang berbeda, pengalaman lampau beragam, dan aspirasi yang bervariasi. Menghilangkan semua perbedaan tersebut dipastikan tidak mungkin. Persatuan bukan dibentuk karena semua beragama, tetapi atas dasar saling menghormati perbedaan dan sepakat mengedepankan persamaan.
“Indonesia adalah bangsa yang sangat beragam sejak berdirinya. Tugas kita saat ini adalah merayakan kekayaan tersebut dengan merajutkan menjadi tenun kebangsaan yang menyatukan,” tutur Fathul.
3. Mengedepankan Pendekatan IlmiahMenghadapi suhu panas politik, masyarakat harus mengedepankan pendekatan ilmiah dalam melihat banyak hal. Perbedaan pendapat di tahun politik dipastikan ada. Itu hal yang sangat wajar terjadi.
“Ketika itu terjadi, kembalikan kepada ilmu. Biarkan ilmu yang membimbing kita dalam bersikap dan mengambil keputusan. Jangan sampai emosi dan perasaan lebih mendominasi,” ucap Fathul.
Baca Juga: Tangkal Berita Hoaks, Dewan Pers Bakal Gelar Pelatihan Liputan Politik
Menurut Fathul, hal itu merupakan tantangan di era pascakebenaran seperti saat ini. Memang tidak selalu mudah saat sentimen dimainkan dengan beragam algoritma. Namun, dia yakin saat banyak masyarakat melantangkan pendekatan ilmiah dalam menyelesaikan banyak hal, maka akan menjadi modal kemajuan di masa depan.
“Pendekatan ilmiah akan menjadikan hati kita tetap dingin karena argumentasi logis yang dipertontonkan. Ini juga akan menjadikan bangsa menjadi lebih dewasa dalam berdemokrasi. Semoga kita sebagai bangsa semakin dewasa dalam berdemokrasi,” kata Fathul.
(jqf)