LANGIT7.ID, Jakarta - Kasus kematian akibat amoeba pemakan otak menyeruak akhir tahun lalu dari Korea Selatan. Seorang warga dilaporkan meninggal akibat
infeksi Naegleria fowleri dalam kurun waktu kurang dari dua minggu.
Dokter Parasitologi Kedokteran Fakultas Kesehatan Universitas Airlangga Dwi Peni Kartikasari menjelaskan, penemuan kasus infeksi ini sudah ada sejak bertahun-tahun lalu. Terdapat sekitar 300-an kasus.
Namun, kasus tersebut tidak sering terjadi. Walau demikian, sebagian besar kasus terjadi karena pasiennya berkontak langsung dengan air tawar.
Peni menguraikan,
Naegleria fowleri adalah protozoa yang menyebabkan kematian
sel otak atau disebut juga nekrosis. Ia hanya dapat menginfeksi melalui hidung.
Protozoa itu kemudian menembus otak dalam waktu singkat. Onset kerjanya yang cepat inilah penyebab lebih banyak kasus kematian daripada kasus sembuh.
Baca juga: Mulai Pulih, Indra Bekti Terapi Berjalan “Hanya ada beberapa orang yang sembuh karena dapat dideteksi sejak awal sehingga mendapat terapi yang optimal dan lebih dini. Kemarin salah satu survival yang tidak mengalami kerusakan otak itu karena menggunakan kombinasi obat antiprotozoa dan terapi hipotermia,” ungkapnya.
Gejala infeksi oleh Naegleria fowleri mirip dengan penyakit meningitis, sehingga Peni merasa cepat atau lambat, masyarakat yang terinfeksi akan datang ke rumah sakit.
“Akan terjadi peningkatan suhu disertai dengan sakit kepala yang hebat dan muntah. Setelahnya, pasien akan mengalami kaku di bagian leher, gangguan kesadaran dan keseimbangan,” paparnya.
Karena kasus langka ini, Peni berpesan kepada masyarakat untuk selalu waspada ketika akan berkontak langsung dengan air tawar, terutama yang berasal langsung dari alam.
Baca juga: Jangan Panik Bun, Ikuti 10 Protokol Makan Tangani Anak GTM “Kalau berenang, ya, airnya tidak perlu dihirup melalui hidung. Juga perlu dipastikan bahwa kolam renangnya telah diberi kaporit,” ucapnya.
Selain itu, lanjutnya, seperti saran dari CDC (Centers for Disease and Control and Prevention) Amerika Serikat, jika airnya akan digunakan, misalnya untuk berwudhu, boleh direbus dahulu apabila tidak yakin. Ia juga menyarankan masyarakat agar cepat ke rumah sakit jika mengalami demam disertai sakit kepala yang hebat dan muntah sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
(sof)