LANGIT7.ID, Jakarta - Umat Islam keturunan Tionghoa di Indonesia memiliki sejarah panjang. Pada 14 April 1961, mereka mendirikan organisasi Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Ada beberapa tokoh utama yang terlibat dalam pendirian organisasi ini, di antaranya Abdul Karim Oei Tjeng Hien, Abdusomad Yap A Siong, dan Kho Goan Tjin.
“PITI dari zaman baheula, ini adalah Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. saat orde baru diubah karena tidak boleh ada kata-kata Tionghoa menjadi Pembina Iman Tauhid Islam,” kata pengusaha muslim Tionghoa, Jusuf Hamka, saat memaparkan sejarah PITI di NU Chanel, dikutip Senin (23/1/2023).
PITI menjadi gabungan dari organisasi umat Islam Tionghoa yang sudah lahir terlebih dahulu di Indonesia. Dua organisasi itu adalah Persatuan Islam Tionghoa (PIT) dan Persatuan Muslim Tionghoa (PMT).
Baca Juga: Haedar Nashir Sebut PITI Perekat Ukhuwah Berbagai Elemen Bangsa
Pada 15 Desember 1972, PITI sempat mengubah nama menjadi Pembina Iman Tauhid Islam. Jusuf Hamka menjelaskan, perubahan nama itu tidak terlepas dari kebijakan politik Orde Baru yang tak membolehkan penggunaan kata Tionghoa.
“Saya gelisah waktu itu, karena namanya Pembina Iman Tauhid Islam, Terus maunya gerakannya semua orang Tionghoa, kalau bisa diintensifkan,” ujar Jusuf Hamka.
Perubahan nama itu berkaitan dengan peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S). Pemerintah menggencarkan gerakan
nation and character building serta persatuan dan kesatuan bangsa.
Gerakan tersebut membuat simbol-simbol atau identitas yang bersifat disosiatif atau menghambat persatuan, seperti bahasa, istilah, budaya asing dilarang. PITI tidak boleh menggunakan kata Tionghoa. Akhirnya diganti agar organisasi tetap bisa berdiri.
Baca Juga: Jihad Oey Tjeng Hien Hapus Sekat antara Muslim dan Keturunan Tionghoa
Hampir tiga dekade mereka menggunakan nama itu untuk organisasi umat Islam Tionghoa di Indonesia. Hingga pertengahan Mei 2000, saat Indonesia dipimpin KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mereka diizinkan kembali untuk menggunakan nama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia.
“Karena zaman Orde Baru enggak boleh pakai Tionghoa, kita balikin jadi Persatuan Islam Tionghoa Indonesia,” tutur Jusuf Hamka.
Sejak saat itu, budaya Tionghoa muslim di Indonesia mulai diterjemahkan dengan simbol-simbol dan media populer. Misalnya pembangunan masjid-masjid berarsitektur Tionghoa, pendakwah Tionghoa, sampai perayaan Imlek.
Hingga saat ini, PITI terus berkembang. Bahkan, kantor-kantor PITI sudah menjangkau banyak kabupaten dan kota di Indonesia.
Baca Juga: Profil Liem Ho Ho, Mualaf yang Dirikan Ormas Islam di Indonesia
“Saya bilang, PITI, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, kalian enggak usah ragu, saya sampai akhir hayat akan mendampingi kalian,” ucap Jusuf Hamka.
Selain itu, Jusuf Hamka menilai PITI memiliki peran strategis sebagai organisasi inklusif perawat kehidupan plural di Indonesia. Dia berharap PITI bisa membawa kebaikan dan persatuan umat.
"Saya akan berada di depan jika ada yang mengganggu organisasi ini. PITI itu harus menjadi kebanggaan bangsa dan harus selalu taat konstitusi, dan harus mendukung kebijakan pemerintah yang sah,” ujar Jusuf Hamka.
(jqf)