Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 24 Mei 2026
home masjid detail berita

Masjid Sahabat Nabi Saad bin Waqqash Berdiri Kokoh di Cina

Muhajirin Senin, 23 Januari 2023 - 12:00 WIB
Masjid Sahabat Nabi Saad bin Waqqash Berdiri Kokoh di Cina
Masjid Huaisheng di Guangzhou Cina (foto: Trip Advisor)
LANGIT7.ID - Masjid Huaisheng merupakan salah satu masjid tertua di dunia. Masjid yang berada di Guangta Road Guangzhou ini, memiliki ciri khas menara setinggi 36 meter yang menjulang ke langit. Konon Masjid ini didirikan berkat peran sahabat Rasulullah SAW Sa'ad bin Abi Waqqash.

Menara masjid yang terlihat seperti sebuah mercusuar tersebut merupakan bagian dari Masjid Huaisheng. Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Menara Cahaya atau Masjid Mercusuar. Bangunan Masjid Huasheng sempat hancur dan berulang kali direnovasi.

Tercatat masjid ini dibangun kembali pada 1350 dan lagi pada 1695. Luas keseluruhan area masjid yaitu 3.600 m2. Arsitektur masjid ini merupakan gabungan gaya tradisional Cina dan Arab.

Baca Juga: Pesona Masjid Cheng Ho, Tempat Ibadah Sekaligus Destinasi Wisata Religi di Palembang

Selain itu, di lingkungan masjid terdapat menara setinggi 36 m. dulunya menara dipakai sebagai tempat mengumandangkan azan dan dijadikan mercusuar. Sampai sekarang Huasheng masih digunakan oleh umat Islam di China.

Wisatawan juga banyak berkunjung untuk melihat masjid dan menara yang sudah menjadi landmark kota Guangzhou. Bahkan, pada Jumat, jemaah yang datang ke Masjid Huaisheng bisa mencapai 2.000 orang.

Laman Travel China Guide mencatat, masjid ini sudah berdiri sejak 627 M. tepatnya pada masa Dinasti Tang sekitar 618-907. Pada saat itu, agama Islam diperkenalkan di Cina untuk pertama kali.

Konon, Masjid Huaisheng dibangun berkat kunjungan sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash ke Cina. Sa’ad bin Abi Waqqash disebut sebagai delegasi muslim pertama, yang memperkenalkan Islam ke negeri Cina. Yaitu pada masa Dinasti Tang (618-907 M).

Baca Juga: Bercorak Tionghoa, Masjid Babah Alun Jadi Tempat Favorit Musafir

Menurut Ensiklopedia Peradaban Islam Cina Muslim karya Muhammad Syafi'i Antonio, hubungan diplomatik umat Islam terjadi pasa masa Dinasti Tang. Khalifah Utsman bin Affan pada 651 M disebut menugaskan Sa’ad bin Abi Waqqash untuk mengunjungi Cina.

Kedatangan Sa’ad bin Abi Waqqash dan sahabat lainnya disambut baik oleh Kaisar Yung Wei, yang saat itu berkuasa. Kaisar Yung Wei menjalankan sistem pemerintahan yang liberal terhadap kedatangan orang asing. Sehingga, para sahabat dipersilahkan menyebarkan ajaran Islam.

Selain itu, Islam dapat diterima dengan baik karena dianggap memiliki persamaan dengan ajaran Konfusius. Yaitu mengutamakan keluhuran akhlak. membuat Islam relatif lebih mudah diterima oleh masyarakat Cina.

Atas izin Kaisar, dibangunlah Masjid Huasheng atau Masjid Memorial di Kanton, Provinsi Guangzhou. Arti dari nama masjid ini adalah ‘Mengenang orang bijak’, yaitu merujuk kepada Rasulullah. Masjid Huasheng salah satu masjid yang masih bertahan.

Benarkah Sa’ad bin Waqqash Pernah ke Cina?

Peneliti sekaligus pengamat sejarah Islam, Ustadz Asep Sobari, mengatakan, klaim sejarah kedatangan Sa’ad bin Waqqash datang ke Cina sudah sering menjadi pembahasan di dinding maya. Pembahasan itu sering dikaitkan dengan kedatangan sahabat nabi ke Nusantara.

Baca Juga: Cheng Ho, Laksamana Asal Tionghoa Penyebar Islam di Nusantara

Ada beberapa versi sejarah berbeda di sini. Ustadz Asep mengatakan, kedatangan Sa’ad bin Waqqash datang ke Asia pada peristiwa hijrah Rasulullah dan para sahabat ke Habasyah atau Ethiopia. Bahkan Saad bin Waqqash diklaim pernah singgah di Barus, Nusantara saat melakukan misi perjalanan ke Cina.

Ustadz Asep menyebut ada beberapa persoalan terkait potongan sejarah yang terlanjur beredar di jagad maya. Pertama, terkait Barus itu sendiri. Sebagai kawasan pesisir Sumatera, tentu saja Barus menjadi salah satu pintu masuk pelayaran antarwilayah, baik dari sekitar Asia Tenggara ataupun dengan bagian timur Cina, bagian barat ke Indonesia, hingga tembus ke Timur Tengah.

“Tentu daerah-daerah pesisir itu merupakan daerah potensial yang menjadi lokasi pertama kedatangan dan perkembangan Islam di manapun. Karena tentu saja, jalur transportasi yang berkembang pada masa itu adalah jalur laut,” katanya dalam seri Podcast Sirah TV, dikutip Senin (23/1/2023).

Dalam buku Ash-Shaffah yang ditulis Yakhsyallah Mansur disebutkan, Sa’ad bin Abi Waqqash termasuk salah satu sahabat yang memiliki umur panjang. Dia wafat pada usia 83 tahun. Dia hidup pada era Rasulullah, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Khalifah Umar bin Khattab, dan Khalifah Utsman bin Affan.

Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, beberapa versi sejarah menyebut Sa’ad bin Abi Waqqash memang pernah ditugaskan untuk memimpin delegasi ke Cina.

Baca Juga: Jihad Oey Tjeng Hien Hapus Sekat antara Muslim dan Keturunan Tionghoa

Dalam buku Perkembangan Islam di Tiongkok yang ditulis Ibrahim Tien Ying Ma, kunjungan Sa’ad bin Waqqash ke Cina menjadi tonggak pertama dakwah Islam di negeri tirai bambu itu. Sebetulnya, ada banyak versi tentang awal dan proses masuknya Islam ke China.

Ada yang menyebut Islam masuk ke China dibawa oleh sahabat Rasulullah yang menetap di Habasyah, seperti yang disebut Ustadz Asep Sobari. Mereka menetap di sana dan tidak kembali lagi ke Makkah setelah peristiwa hijrah pertama. Beberapa tahun setelahnya, mereka berlayar dari Habasyah ke Cina untuk mendakwahkan Islam.

Ada juga yang menyebut kalau Islam masuk ke Cina dibawa oleh Sa’ad bin Abi Waqqash. Hampir sama dengan versi pertama, Sa’ad bin Abi Waqqash berlayar dari Habasyah ke Cina untuk menyebarkan Islam pada 616 M.

Setelah beberapa saat di Cina, Sa’ad kembali ke Arab. Sekitar 20 tahun setelahnya, Sa’ad kembali lagi ke Cina untuk meneruskan dakwah. Ini disinyalir terjadi pada masa Utsman bin Affan.

Dari semua versi yang ada, Ibrahim Tien Ying Ma menyebut, versi paling valid adalah versi pertama. Sa’ad dikirim Khalifah Utsman bin Affan untuk memimpin delegasi ke Cina untuk mendakwahkan Islam pada 615 M, atau sekitar 20 tahun setelah Rasulullah wafat.

Dalam buku History of China karya Ivan Taniputera, rombongan muslim itu diterima dengan baik oleh Kaisar Yong Hui dari Dinasti Tang. Kaisar Cina menunjukkan toleransi. Dia memperbolehkan delegasi umat Islam itu tidak melakukan tradisi penyembahan di hadapan kaisar. Sang kaisar paham, umat Islam tidak melakukan penyembahan terhadap manusia.

Sang kaisar juga mengizinkan delegasi yang dipimpin Sa’ad untuk mendirikan tempat ibadah, masjid. Maka, sebuah masjid agung dibangun pada 742 M. Masjid itu bernama Masjid Huaisheng atau dikenal dengan Masjid Sa’ad bin Abi Waqqash di Provinsi Guangzhou.

Mengutip laman resmi NU, masjid tersebut menjadi salah satu masjid tertua di Cina. Konon, Sa’ad menyebarkan Islam kepada masyarakat Cina sampai akhir hayat. Makamnya dikenal dengan Geys’ Mazars yang berada di Xinjiang. Versi lain menyebutkan, Sa’ad wafat di Aqia, sekitar 18 mil dari Madinah dan dimakamkan di Baqi’.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 24 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)