LANGIT7.ID, Jakarta - Umat Islam dikejutkan dengan pembakaran Al-Qur'an di Swedia oleh politikus sayap kanan Rasmus Paludan. Belum usai kemarahan umat Islam akibat aksi terkutuk itu, politikus sayap kanan di Belanda Edwin Wagensveld merobek Al-Qur'an dan mempublikasikannya di media sosial pada Senin (23/1/2023).
Maraknya aksi penistaan Islam di Eropa menandakan
Islamofobia di benua biru itu semakin tinggi. Islamofobia pertama kali menjadi masalah global setelah revolusi 1979 di Iran dan serangan teroris 11 September 2011.
Baca Juga: Astagfirullah, Politisi Belanda Robek, Injak, dan Bakar Al Quran
Pengamat Hubungan Internasional Universitas Al-Azhar Indonesia, Pizaro Gozali Idrus, menjelaskan, sekularisme menjadi penyebab Islamofobia tumbuh subur di Barat dan tidak bisa dihilangkan sampai saat ini.
“Karena barat memiliki
worldview yang bermasalah dengan mengagungkan sekularisme dan mengeyahkan agama,” kata Pizaro kepada Langit7, Rabu (25/1/2023).
Menurut Pizaro, hal tersebut yang menjadi bibit-bibit Islamofobia yang mencurigai Islam sebagai agama kekerasan dan agresi. Apalagi, Islam terus tumbuh di Barat. Akhirnya, Islamofobia juga meluas kepada dimensi negara.
Baca juga: DPR Desak Kemlu Protes ke Swedia Terkait Aksi Pembakaran Al-Quran
“Mereka mencurigai negara-negara Islam. Seperti di Eropa, Turki selalu mendapat diskriminasi oleh negara-negara Barat,” ujar Pizaro.
Selain itu, Islamofobia semakin marak disebabkan kampanye media yang selalu mengaitkan Islam dengan terorisme. Ini steretotipe yang keliru. Padahal, terorisme banyak muncul juga dari kelompok agama-agama Budha seperti di Myanmar.
"Kasus penembakan di Selandia Baru yang dilakukan ekstremisme Kristen,” ungkap Pizaro.
Baca juga: MUI Sebut Pembakaran Al-Qur'an di Swedia Langgengkan Islamofobia(jqf)