Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 Juli 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Melatih Pola Pikir Anak agar Bertahan di Era Transformasi Digital

Muhajirin Rabu, 01 Februari 2023 - 22:02 WIB
Melatih Pola Pikir Anak agar Bertahan di Era Transformasi Digital
Ilustrasi melatih pola pikir anak (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Praktisi Neuroparenting, Yirawati Sumedi, mengatakan, kunci untuk memperbaiki keterampilan anak ada di pola pikir, sehingga ini penting diperhatikan.

Seperti diketahui, Allah menciptakan manusia sesuai dengan zamannya masing-masing. Manusia pada era Rasulullah SAW memiliki fisik besar dan kuat serta kemampuan motorik mumpuni karena dibutuhkan di medan perang.

Berbeda dengan era society 5.0 saat ini. Fisik anak cenderung lemah, tapi mereka kuat secara pemikiran. Hal ini yang harus disadari setiap orangtua agar bisa mendidik anak untuk hidup di zamannya. Orang tua pun harus melatih berbagai keterampilan kepada anak untuk bisa bertahan di masa depan.

Baca Juga: Mengenal Generasi Stroberi, Kreativitas Tinggi tapi Mental Lembek

“Mindset ini yang harus diperbaiki dengan benar. kalau mindset sudah salah, otomatis dia akan mengambil keputusan yang salah, otomatis tindakannya juga salah,” kata Yirawati Sumedi atau akrab disapa Bunda Ira dalam webinar Fenomena Generasi Stroberi yang diikuti Langit7, Selasa (31/1/2023).

“Kalau sudah hal-hal seperti itu sudah dilakukan, otomatis mereka tidak akan mencapai apa yang diinginkan,” imbuhnya. Dalam dunia psikologi ada dua mindset yang dimiliki manusia dalam melihat realitas kehidupan yakni growth mindset dan fixed mindset.

Perbedaan mendasarnya pada lima hal ini, yaitu beliefs (keyakinan), effort (bagaimana memandang sebuah usaha), challenges (bagaimana anak menghadapi tantangan), mistakes (saat menghadapi kesalahan), dan feedback.

Baca Juga: Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Tubuh, Yuk Jalankan Sunah Rasulullah

Growth mindset adalah sebuah pola pikir yang terus bertumbuh dan terus berkembang. Orang-orang dengan growth mindset meyakini bahwa manusia itu harus terus belajar sejak dini. Jadi, tidak ada kata selesai untuk belajar.

“Karena itulah orang growth mindset memiliki pemikiran yang lebih terbuka. Mereka berani mengakui kesalahan dan mau berubah jika itu memang dibutuhkan,” kata Bunda Ira.

Fixed mindset adalah anak meyakini bahwa bakat mutlak dibutuhkan untuk sukses. Orang-orang dengan fixed mindset percaya bahwa kecerdasan bersifat tetap. Mereka berkeyakinan bahwa kecerdasan merupakan bawaan sejak lahir.

Baca Juga: Pendaftaran Bantuan Inkubasi Bisnis Pesantren Dibuka Februari 2023

“Padahal, kecerdasan itu bisa tumbuh dan berkembang kalau misalnya kita mau belajar, dan latihan. Otak itu harus dilatih. Kalau ingin anak-anak cerdas, maka aktifkan otak anak,” ujar Bunda Ira.

Salah satu cara mengaktifkan otak anak adalah membaca buku. Banyak buku-buku anak dengan berbagai tema. Kegiatan membaca buku akan mengaktifkan otak anak sekaligus melatih perasaan yang ada dalam dirinya.

“Salah satu cara mengaktifkan otak anak salah satunya banyak membaca. Bukan banyak melihat televisi. Aktivasi paling baik adalah membaca buku. Ada rasa yang didapat saat membaca, apalagi kalau membaca buku sirah dan buku sastra,” ungkap Bunda Ira.

Baca Juga: Emil Dardak: Siswa Indonesia Harus Dilatih Berpikir Kritis

Orang tua harus melatih growth mindset anak sejak dini. Ada beberapa ciri dari growt mindset ini, di antaranya punya tujuan dan motivasi kuat untuk meraih kesuksesan, memandang kegagalan bukan sebagai akhir melainkan motivasi untuk terus maju dan tempat untuk belajar.

Kemudian, percaya pada proses dan fokus pada hal tersebut dan kerja keras lebih penting dari sekadar kepandaian. Sementara, fixed mindset kebalikan dari growth mindset. Cirinya, yaitu untuk sukses bakat mutlak dibutuhkan, tidak suka dengan tantangan dan tidak berani mencoba hal baru, butuh penghargaan atas setiap usaha yang dilakukan, mudah berkecil hati saat mengalami kegagalan, dan terlalu fokus pada hasil akhir.

Untuk mengatasi hal itu, orang tua perlu melakukan empat hal. Pertama, pola asuh orangtua yang tepat sesuai situasi dan kondisi. Artinya sesuai kondisi fisik anak, usia anak, kemampuan anak, fisik materi yang ada di sekitar anak, dan orang tua itu sendiri.

Baca Juga: Relasi Negara dan Agama Menurut Perspektif Islam

Kedua, memperkuat sistem pendidikan. Hari ini para guru itu harus benar-benar menjadi partner bagi orangtua untuk mendidik anak-anak agar sesuai dengan apa yang kita inginkan. Orangtua dan guru harus bekerja sama dalam mendidik anak.

“Ketiga, perlu memperbanyak literasi, kemudian Keempat, mengembangkan mindset dan mentalset yang benar dan matang,” pungkas Bunda Ira.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:57
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan