LANGIT7.ID - , -
Stunting saat ini menjadi perhatian pemerintah di bidang kesehatan. Kondisi ini merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang.
Dokter Spesialis Anak RS UNS dr. Maria Galuh K.S., Sp.A.,M.Kes menjelaskan, stunting disebabkan kekurangan gizi kronik. Seringkali, kekurangan gizi berasal dari keluarga dari kalangan
sosio ekonomi rendah.Asupan
nutrisi dan kesehatan ibu yang buruk, riwayat sakit berulang, dan praktik pemberian makan pada bayi dan anak yang tidak tepat juga faktor lainnya penyebab stunting. Sebelum mendiagnosis si anak menderita stunting, orang tua perlu melihat parameter yang lain.
Baca juga: Cegah Stunting, Berikut Rekomendasi Protein Hewani untuk Ibu Hamil dan Bayi“Karena dengan melihat parameter yang lain, ketika si anak memang menderita stunting akan menambah referensi kita bahwa stunting tersebut terjadi karena nutrisi atau karena hal yang lain. Dengan demikian, kita dapat memberikan penanganan lanjutan yang tepat,” kata dokter Maria dalam agenda Satu Jam Lebih Dekat dengan tema Yuk Gunting Poni: Cegah Stunting dengan Protein Hewani belum lama ini.
Dokter Maria menambahkan bahwa stunting dapat memberikan dampak jangka panjang dan pendek. Dampak jangka pendek seperti meningkatkan angka kesakitan dan kematian serta risiko menderita berbagai penyakit infeksi.
Adapun dampak jangka panjang yakni menurunkan kemampuan kognitif dan rendahnya Intelligence Quotient (IQ) dan kapasitas fisik.
Lantas, bagaimana cara mencegah stunting?
Para calon ibu harus memperhatikan kesehatan sejak masa kehamilan. Cara mencegah stunting dengan rutin mengontrol kehamilan untuk ibu hamil.
Baca juga: Kemenkes Kejar Penanganan Stunting dengan Antropometri di PosyanduCara berikutnya adalah memberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang bervariasi secara tepat waktu, adekuat, aman dan higienis.
MPASI harus mengandung sumber karbohidrat 35-55% dari total kebutuhan kalori, memprioritaskan pemberian protein hewani 10-15%, sumber lemak 30-45%, dan sayur atau buah sedikit saja sebagai pengenalan.
Rutin menimbang berat badan (BB) dan mengukur panjang atau tinggi badan (TB) dan lingkar kepala dengan cara yang benar setiap bulannya, serta memperhatikan durasi tidur anak yang harus sesuai usianya. Lebih lanjut juga memberikan ASI eksklusif selama enam bulan.
“Kemudian memperhatikan aktivitas fisik sesuai usia. Serta jika kenaikan berat badan anak tidak adekuat, maka segera lah berkonsultasi ke dokter,” terang dr. Maria Galuh dilansir laman resmi UNS.
Asupan makanan yang mengandung protein hewani penting untuk mencegah stunting karena mengandung asam amino esensial yang lengkap dan berkualitas tinggi. Protein hewani tidak hanya efektif memperbaiki kualitas makanan.
Baca juga: Cegah Stunting, Unair dan Kampus se-Jatim Hadirkan Program Desa Emas“Tetapi juga status gizi, serta luaran kesehatan lain seperti pertumbuhan, fungsi kognitif, aktifitas fisik, dan performa sekolah di negara berkembang. Pastikan setiap kali makan, selalu ada sumber protein hewani untuk mencegah stunting,” jelas dr. Maria Galuh.
(est)