LANGIT7.ID - , - Minggu pertama Februari telah ditetapkan sebagai pekan hubungan
harmonis antar pemeluk agama se-dunia atau lebih populer dengan
World Interfaith Harmony Week. Penetapan ini berdasarkan resolusi Majelis Umum PBB (A/65/5) yang disponsori oleh Raja Abdullah dari Yordania di tahun 2010 lalu.
Sejak itu di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York dan di seluruh dunia dilangsungkan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk menguatkan relasi
antar pemeluk agama-agama dunia.
Baca juga: Tak Hanya Imam Shamsi Ali, Ini Dai Indonesia yang Aktif Berdakwah di ASTentu tanpa tendensi menyamakan, apalagi menyatukan agama-agama. Karena pastinya semua agama punya keunikan yang mendasar dan takkan mungkin bisa disamakan atau disatukan dengan yang lain.
Saya sendiri sejak awal resolusi ini telah menginisiasi kegiatan tersendiri di gedung
Perserikatan Bangsa-Bangsa New York. Sejak tahun 2011 lalu kami mengadakan pertemuan dan dialog antar pemeluk agama di kota New York.
Lalu sejak awal berdiri, Nusantara Foundation telah menjadi organisasi partner yang mengelola acara tahunan itu. Tahun ini kembali dilangsungkan pada hari Jumat, 3 Januari 2023 di Markas PBB New York.
Tema yang diusung kali ini adalah
“Working Together to Achieve Peace, Gender Equality, Mental Health and Well Being, and Environmental Preservation”. Poin-poin utama dari tema ini adalah perdamaian, kesetaraan gender, kesehatan mental, dan lingkungan hidup.
Baca juga: Imam Shamsi Ali: Islam Mendorong Umatnya Punya Daya Saing GlobalSetiap pembicara dari tokoh-tokoh agama mengambil satu isu dari tema pertemuan. Ada yang berbicara tentang lingkungan hidup, kesetaraan gender, kesehatan mental, dan seterusnya.
Pada kesempatan ini saya memilih tema utama “Keadilan sebagai Fondasi Perdamaian”.
Dalam waktu yang sangat singkat (karena diburu oleh Jumatan) saya menyampaikan beberapa hal yang sebenarnya bukan sesuatu yang baru.
Tujuan saya adalah menggugah dan mengingatkan bahwa berbicara tentang perdamaian (peace) dengan tidak mengindahkan (undermined) keadilan adalah bagaimana mengukir di atas air.
“Kehadiran kita semua pada hari ini untuk membicarakan hubungan harmoni di antara kita adalah bentuk pengakuan bahwa memang ada masalah di antara. Itulah yang menyadarkan kita untuk kembali memperbaikinya”, tegas saya.
Saya kemudian menegaskan bahwa secara mendasar manusia itu adalah satu keluarga. Seraya mengutip kesepakatan antara Syeikh Al-Azhar dan Paus Francis tentang “Human Fraternity” atau persaudaran kemanusiaan, saya mengutip ayat Al-Quran, Surah Al-Hujurat ayat 13.
Baca juga: Imam Shamsi Ali Gelar Street Dakwah di Jantung Kota New YorkMasalah utama hubungan antar manusia dan perdamaian dunia adalah ambruknya fondasi keadilan. Salah satunya adalah ketidak adilan ekonomi (economic injustice) yang dibangun oleh sistem dunia yang tidak adil.
Inilah yang kemudian melahirkan yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Jurang antara si miskin dan si kaya semakin membesar.
Saya menyebutkan bahwa justru ancaman terbesar kepada perdamaian dunia (World peace) bukan perang, bahkan bukan kekerasan-kekuasaan yang kita saksikan di berbagai belahan dunia saat ini.
Justru kekerasan-kekerasan itu seringkali diakibatkan oleh ambruknya keadilan tadi.
Saya tentunya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengingatkan semua yang hadir bahwa perdamaian itu harus dijaga. Salah satunya dengan menjaga sensitivitas hubungan antar manusia, termasuk hubungan antar pemeluk agama.
Saya kembali mengingatkan bahwa betapa kita seringkali munafik (hypocritical) dalam menyikapi isu-isu dunia. Semua nilai-nilai menjadi baik ketika nilai itu memihak kepada kita.
Baca juga: Imam Shamsi Ali Ungkap 8 Tantangan dan Peluang Dakwah di AmerikaToleransi, kerukunan, moderasi, kebebasan, dan lain-lain semua indah ketika berihak kepada kita. Tapi ketika nilai itu harus berpihak kepada orang lain, kita merubah nilai itu menjadi ancaman bagi dunia.
Saya mencontohkan kemunafikan itu dalam menyikapi pembakaran Al-Quran di Swedia baru-baru ini. Saya tegaskan kembali bahwa kebebasan itu ada batasnya. Kebebasan itu dibatasi oleh karakter yang bermoral atau basis moral dalam menjaga hak orang lain.
“Saya punya kebebasan berbicara. Tapi ketika kata-kata saya menghina orang atau keyakinan orang lain maka itu bukan kebebasan. Itu adalah penghinaan dan kezaliman”.
“And so burning the holy Quran or any other holy books is not an expression of freedom. It is an expression of ignorance, hate, and stupidity”. Itulah penegasan saya sebagai kata-kata penutup dari presentasi saya di acara itu.
Baca juga: Imam Shamsi Ali: Toleransi Mengakui Eksistensi Umat Lain, Bukan Membenarkan AgamanyaSaya yakin ada yang merasa tercubit dengan ketegasan saya. Sebab selalu ada ekspektasi di acara-acara seperti ini untuk kita berkata yang manis-manis saja. Tapi saya justru yakin terkadang penyakit itu perlu obat yang pahit.
Semoga kata-kata tegas, bahkan mungkin keras itu, didengar dan mendapat perhatian minimal oleh mereka yang hadir. Semoga!
Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation
(est)