LANGIT7.ID, Jakarta -
Keuangan syariah dan sektor riil memiliki peranan penting dalam menciptakan stabilitas sektor keuangan. Hal itu dikarenakan perkembangan sektor keuangan akan selalu mengikuti perkembangan sektor riil.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menyebutkan, saat ini porsi keuangan syariah dari total pembiayaan nasional hanya sekitar 10 persen. Namun, ia meyakini keuangan syariah berpotensi tumbuh lebih baik di masa mendatang.
“Dengan perkembangan sektor keuangan yang selalu mengikuti perkembangan sektor riil, maka kita dapat menghindari gelembung sektor keuangan yang mendorong krisis. Saat ini, porsi keuangan syariah (tidak termasuk keuangan sosial syariah) hanya sekitar 10 persen dari total pembiayaan nasional. Kami yakin porsi ini berpotensi untuk tumbuh kuat di masa mendatang," kata Sri Mulyani, di acara 5th Annual Islamic Finance Conference (AIFC), Rabu (25/8).
Baca juga: Keuangan Syariah Tumbuh Cepat di Industri Keuangan GlobalSementara untuk ketahanan ekonomi, prinsip syariah dalam keuangan syariah menciptakan ketahanan di sektor keuangan selama dilanda krisis. Termasuk di masa pandemi Covid-19, di mana bank syariah di Indonesia menunjukkan kinerja cukup baik dibandingkan bank konvensional.
Keuangan syariah juga mendukung inklusivitas keuangan dan keberlanjutan ekonomi. Selain itu, dari data yang ada, Indonesia disebut memiliki jumlah Baitul Mal wat Tamwil (BMT) atau serikat Islam terbesar secara global.
"Mereka adalah sekitar 4.500 BMT yang membantu masyarakat, terutama di pedesaan dan juga mengakses pembiayaan mikro. Saya berharap peran ini dapat melengkapi apa yang dilakukan pemerintah lewat dana desa," ujarnya.
Baca juga: Bagaimana Menciptakan Loyal Konsumen untuk Meningkatkan Daya SaingUntuk mendukung hal tersebut, pemerintah terus berkomitmen memperluas peran keuangan syariah. Salah satunya dengan melanjutkan inovasi instrumen pembiayaan melalui blended Islamic finance, seperti Green Sukuk dan Cash Wakaf linked Sukuk (CWLS).
(zul)