LANGIT7.ID, Jakarta - Cerita santri kabur dari
pondok pesantren bukan cerita baru. Fenomena sudah menjadi kisah-kisah ratusan tahun sejak pesantren berdiri. Tapi, tahukan Anda jika masalah tersebut memiliki kaitan dengan kesehatan mental?
Trainer Griya Parenting Indonesia, Bunda Ani Christina, menjelaskan, ada tiga fenomena psikologis yang sering terjadi di pesantren. Salah satunya, kabur dari pesantren. Ada dua lagi yakni fenomena psikomatis dan
self harm.Banyak santri di pondok pesantren yang merasa sulit untuk bertahan dan memilih kabur dari lingkungan pesantren. Fenomena ini terjadi dengan frekuensi yang cukup sering dan menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua, pengasuh, dan pihak pesantren.
Baca Juga: Ponpes Al-Amien Prenduan, Pesantren Modern Terbesar di MaduraMenurut Bunda Ani, masalah ini terjadi karena adanya dinamika perasaan yang harus dikelola dengan bijak. Terkadang, motivasi untuk Bertahan di pesantren menurun atau bahkan hilang karena berbagai alasan, seperti masalah sosial.
“Ini masalah standar sering terjadi di pondok pesantren. Ketika motivasi untuk bertahan di pondok menurun atau hilang, saya yakin ada dinamika-dinamika perasaan yang harus kita tangani dari masalah itu,” kata Bunda Ani dalam webinar yang digelar Griya Parenting Indonesia, dikutip Rabu (15/2/2023).
Masalah kerap terjadi adalah
bullying di pesantren. Ini adalah kasus serius dan membutuhkan penanganan khusus dari pihak pengasuh dan pesantren. Para santri yang merasa tidak aman dan terancam di lingkungan pesantren harus mendapatkan dukungan serta perlindungan yang memadai.
Baca Juga: 4 Juta Santri Aktif Modal Kuat Dorong Kemandirian Ekonomi Pesantren“Ada sebuah kasus anak kabur dari pondok karena kekasihnya menunggu di luar, sementara di pondok tidak bisa ketemu, sehingga akhirnya dia kabur. Ada juga yang kabur karena menjadi korban
bullying di pesantren,” ucap Bunda Ani.
Fenomena kabur dari pesantren bukan masalah sepele dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Di balik fenomena ini, terdapat cerita-cerita dinamika kejiwaan yang harus dipahami dan dikelola dengan bijak oleh orang tua, pengasuh, dan pihak pesantren.
Santri harus dibekali dengan keterampilan dan pengetahuan tentang kesehatan mental. Mereka juga harus dibekali cara mengelola emosi dan konflik dengan baik. Artinya, pihak pesantren harus memberikan perhatian khusus terhadap dinamika psikologis serta membuka ruang untuk pengaduan dan konseling.
Baca Juga: Pendaftaran Bantuan Inkubasi Bisnis Pesantren Dibuka Februari 2023Dengan demikian, diharapkan fenomena kabur dari pesantren dapat diminimalisir dan santri dapat bertahan di lingkungan pesantren dengan baik. Ini adalah fenomena yang di balik fenomena itu ada cerita-cerita dinamika kejiwaan yang harus kita dalami terhadap anak-anak kita,” ungkap Bunda Ani.
(jqf)