Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 20 Juli 2024
home global news detail berita

Derita Penyintas Gempa Turki: Musim Dingin Menusuk, Rumah Jadi Puing-puing

Muhajirin Selasa, 21 Februari 2023 - 08:00 WIB
Derita Penyintas Gempa Turki: Musim Dingin Menusuk, Rumah Jadi Puing-puing
Gempa Turki (foto: AP Photo)
LANGIT7.ID, Turki - Korban meninggal dunia akibat amukan gempa Turki mencapai 40 ribu orang. sekitar 345 ribu apartemen runtuh. Para penyintas korban pun terus bertahan hidup di tengah puing-puing reruntuhan dengan kondisi cuaca musim dingin yang menusuk tulang.

Para penyintas mengalami trauma. Banyak di antara mereka berkemah di tengah puing-puing bekas rumah yang telah menjadi tumpukan beton dan logam bengkok. Bau-bau anyir yang berasal dari mayat-mayat yang belum dievakuasi juga masih tercium.

Di sisi lain, salju terus turun. Ratusan rumah di kota tersebut yang terletak di kaki Gunung Anatolia tertutup salju karena sudah rata dengan tanah sejak 6 Februari 2023. Salah satu penyintas, Halil Kilic, mengatakan, para korban seolah tidak ada lagi harapan.

Baca Juga: KBRI Ankara Pulangkan Dua Jenazah WNI Korban Gempa Turki 22 Februari 2023

“Penduduk desa tidak punya harapan. Jika pemerintah membantu, mungkin mereka dapat melakukan sesuatu, jika tidak, hidup akan menjadi terlalu sulit,” katanya, dikutip middle east eye, Selasa (21/2/2023).

Pada Ahad (19/2/2023), terlihat puluhan penyintas terlihat berkumpul di samping gundukan puing. Ada api unggun di sana untuk menghalau dingin. Mereka harap-harap cemas kabar dari sanak keluarga yang masih tertimbun reruntuhan.

Ada pula yang terfokus pada upaya untuk mendapatkan kembali tabungan yang hilang dan barang-barang berharga. Mereka mengobrak-abrik tanah untuk mendapatkan dokumen yang diharapkan dapat membantu membangun kembali kehidupan baru.

Baca Juga: Masjid di London Terima Surat Berisi Kebencian Singgung Korban Gempa Turki

"Kami kehilangan enam kerabat. Kami sudah selesai dengan kota ini. Kami ingin membangun kehidupan baru di tempat lain," kata warga setempat, Mustafa, saat dia mengawasi upaya untuk memulihkan barang-barangnya yang rusak.

Keputusan yang Menentukan

Seorang tetua desa mengatakan angka kematian yang sangat tinggi di desa terdekat Gucuksu merupakan pengingat bagi bagi umat manusia. Salah satu alasan tingginya angka kematian adalah banyak warga yang kembali ke rumah sebelum gempa kedua terjadi karena mereka tidak tahan berada di luar ruangan karena cuaca di bawah nol.

"Setelah gempa bumi pertama terjadi, desa kami tetap sehat. Tapi itu sangat dingin sehingga kami takut anak-anak dan orang tua akan mati kedinginan. Saat itulah kami memutuskan untuk kembali ke rumah kami," kata Ismail Ozdem.

Baca Juga: Dampak Gempa Turki, Masjid dan Gereja Tertua di Antakya Hancur

Keputusan itu terbukti menentukan. Menurut Ozdem, kompor masak tumbang di hampir setiap rumah, memicu kebakaran yang menyebabkan beberapa orang mati terbakar.

"Kami tidak bisa berbuat apa-apa," kata Ozdem dengan air mata sambil menunjuk reruntuhan rumah yang terbakar di mana empat orang tewas. "Mereka dibakar hidup-hidup”. Meski banyak korban selamat kini memiliki tenda, Ozdem khawatir kondisi dingin dan es dapat menyebabkan kematian lebih banyak.

Seorang penduduk desa, yang sedang menunggu kabar dari pemerintah tentang unit kontainer perumahan yang dijanjikan, menimpali: "Kami tidak tahu harus berbuat apa. Prioritas kami adalah melindungi diri dari hawa dingin, tambahnya sambil menunjuk pegunungan bersalju di sebelah timur.”

Baca Juga: Sumbang untuk Korban Gempa, Petugas Kebersihan Kejutkan Jamaah Umrah Turki

Takut akan wabah


Bagi Ozdem, tetua desa, akibat buruk lainnya dari gempa tersebut adalah hilangnya mata air bawah tanah, yang sangat penting untuk kehidupan para penyintas. Rekaman drone dan satelit telah menunjukkan dampak gempa pada flora dan fauna lokal, dengan kebun zaitun terbelah dua oleh ngarai besar selebar lebih dari 2 km.

"Mata air kami menghilang. padahal, mata air itu telah mengalir setidaknya selama 150 tahun sejak nenek moyang kami menetap di sini," kata Ozdem.

Meskipun tidak jelas apakah air tanah akan kembali ke level yang terlihat sebelum bencana, penduduk di desa terdekat Ericek mengatakan gelombang seismik juga mempengaruhi ketinggian dan kualitas air di tempat mereka berada.

Baca Juga: Korban Tewas Gempa Bumi Turki-Suriah Tembus 45.000 Jiwa

"Saat bumi berguncang, kami pikir air tanah berubah arah," kata seorang pekerja kotamadya yang berada di desa untuk memeriksa sistem pembuangan limbah yang hancur.

Seorang warga desa, yang berusaha menghangatkan diri di samping api terbuka, mengatakan kesulitan dalam mengakses air minum yang aman telah memicu kekhawatiran akan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air.

“Kami sudah seminggu lebih tidak mandi, tidak bisa membersihkan diri. Kami takut wabah,” ujarnya.

Baca Juga: Ulama Aceh Bentuk Wadah Solidaritas Bantu Turki

Badan amal seperti Oxfam dan Save the Children telah memperingatkan, Turki dan Suriah sangat perlu mengatasi situasi air yang mengerikan untuk mencegah bencana kemanusiaan.

"Kami berpacu dengan waktu untuk membantu. Skala kebutuhannya sangat besar," kata Moutaz Adham, direktur Oxfam untuk Suriah. "Sangat penting bagi kita untuk menghentikan orang yang meninggal karena penyakit yang dapat dicegah."

Di dekatnya, sekelompok anak muda terlihat bergegas untuk mengirimkan bantuan ke beberapa desa pegunungan yang lebih terpencil, tetapi di tengah upaya penyelamatan, rasa sakit sangat terasa di Gucuksu.

Baca Juga: Seorang Kakek Donasikan Tabungan Umrahnya untuk Korban Gempa Turki

Halil Kilic, yang meringkuk di samping perapian, tidak bisa putus asa, bahkan di balik gumpalan asap tebal. "Gempa itu sangat menghancurkan. Hanya itu yang bisa saya katakan," katanya ketika seorang penduduk desa menceritakan kematian saudaranya.

“Setelah gempa pertama, yang tidak merusak desa kami, kami pikir sudah selesai, tetapi pada gempa kedua, lebih dari 150 rumah roboh dan 109 orang meninggal. Banyak warga yang terbakar hidup-hidup karena kompor dapur mereka jatuh dan memicu kebakaran,” ujarnya.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 20 Juli 2024
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:57
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan