LANGIT7.ID, Jakarta - Dunia Arab dan muslim bersiap untuk merayakan tonggak sejarah baru. Tiga
astronot muslim akan bertemu di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dalam beberapa bulan mendatang.
Pada Ahad (26/2/2023). Sultan Al Neyadi dari Uni Emirat Arab (UEA) dijadwalkan untuk memulai misi enam bulan di laboratorium sains. Dia merupakan astronot Arab pertama yang melakukan misi perjalanan luar angkasa dalam jangka panjang.
UEA akan ditemani oleh dua astronot dari Arab Saudi, termasuk wanita pertama yang akan berangkat ke ISS yakni Rayyanah Barnawi. Dia akan menghabiskan 10 hari bertugas di ISS bersama rekan senegaranya, Ali Al Qarni.
Baca Juga: Rayyanah Barnawi, Muslimah Saudi Pertama yang Terbang ke Luar AngkasaSultan Al Neyadi, mahasiswa di University of Brighton, akan bergabung dengan kru NASA atau SpaceX yang diluncurkan dari Kennedy Space Center di Florida, Amerika Serikat. Tim lepas landas dengan roket Falcon 9 pada pukul 07:07 GMT pada (26/02/23).
Selama enam bulan bertugas, Al Neyadi diharapkan mengambil bagian dalam 20 percobaan, meliputi segala bidang seperti fisiologi manusia, robotika, dan penghilangan karbon dioksida dari habitat yang tersegel.
"Gagasan untuk bangun setiap pagi dan memiliki akses ke jendela yang dapat Anda lihat dan memindai seluruh dunia dalam 90 menit sungguh menakjubkan,” kata pria berusia 41 tahun itu pada pengarahan NASA, dikutip
islamichannel, Senin (27/2/2023).
Baca Juga: Sate hingga Telur Dadar, Menu Ramadan Astronaut Muslim di Luar AngkasaUEA dan Arab Saudi adalah bagian dari Grup Kerjasama Antariksa Arab. Saudi menamai astronot mereka minggu lalu.
Dengan pengalaman lebih dari sembilan tahun dalam penelitian sel puncak kanker dan menjadi spesialis laboratorium penelitian, Barnawi terpilih untuk melakukan eksperimen misi di ISS.
Al Qarni adalah kapten angkatan udara dengan pengalaman 12 tahun di bidang pesawat tempur. Dia memperoleh gelar sarjana dalam ilmu penerbangan dari Akademi Udara Raja Faisal. Astronot cadangan untuk misi ini termasuk wanita lain, yaitu Mariam Fardous.
Baca Juga: Sate hingga Telur Dadar, Menu Ramadan Astronaut Muslim di Luar Angkasa“Melalui program ini, kerajaan berupaya untuk mengaktifkan inovasi ilmiah di tingkat ilmu antariksa, meningkatkan kemampuannya untuk secara mandiri melakukan penelitiannya sendiri yang akan mencerminkan secara positif masa depan industri dan negaranya,” kata Abdullah Bin Amer Al Swaha, Ketua Komisi Luar Angkasa Saudi.
(jqf)