LANGIT7.ID, Jakarta - Arogansi bisa saja dilakukan oleh siapapun, bahkan termasuk mereka yang telah memiliki ilmu tinggi, seperti
guru di sekolah atau dalam majelis. Islam pun memiliki cara tersendiri untuk mengatasi masalah tersebut.
Pendakwah
Buya Yahya, seorang guru tidak sepantasnya memiliki sifat arogan. Sebaliknya, guru mesti bijak dalam menanggapi setiap hal, khususnya ketika memberi pelajaran kepada anak didik atau muridnya.
"Bahkan Nabi SAW mengajarkan untuk tidak menyalahi atau memarahi orang lain ketika meteka sulit paham terhadap suatu ilmu," kata Buya Yahya dalam penggalan kajiannya, dikutip Senin (27/2/2023).
Baca Juga: Fatwa Ulama Telah Menjadi Panduan Hidup Masyarakat di IndonesiaMenurut Buya Yahya, ilmu yang disampaikan guru, seperti pendakwah harus bisa menjadi koreksi bagi dirinya sendiri. Hal itu dilakukan agar pesan dakwah bisa tersampaikan dengan baik.
"Untuk itu, kita harus bisa menata kalimat ketika berdakwah. Selain pesan akan tersampaikan dengan baik, itu juga akan diterima oleh orang lain," ujarnya.
Di sisi lain, orang-orang yang menemukan guru arogan tidak boleh menghardik apalagi menghinanya. Pasalnya, ada cara yang lebih baik dan pantas untuk menegur guru arogan tersebut.
Cara yang dianjurkan yaitu dengan menggunakan tata krama. Salah satunya dengan memberikan pesan kecil untuk kemudian diberikan kepada guru arogan.
Baca Juga: Perguruan Tinggi Diharapkan Turut Serta dalam Pembangunan Ekosistem Halal"Kirimkan surat dengan isi yang lemah lembut. Sampaikan bahwa cara guru itu menyampaikan selama ini dikhawatirkan dapat menyakiti atau melukai perasaan orang lain," ucap Buya Yahya.
"Jangan lupa juga salat malam dan mendoakan guru-guru ini agar bisa lebih baik kendepan. InsyaAllah orang bisa sadar dengan kalimat yang menyentuh," tuturnya.
Pengasuh LPD dan Pondok Pesantren Al Bahjah itu menambahkan, guru arogan terkadang tak sadar dengan apa yang dilakukannya. Sebab, mereka kebanyakan berfokus hanya untuk menyampaikan ilmu saja.
"Sehingga tidak sadar bahwa ketegasannya itu justru terkadang dapat melukai perasaan orang lain. Bahkan mungkin cenderung berkata kasar," tambahnya.
Baca Juga:
Wapres: Indonesia Butuh Ahli Ijtihad untuk Respons Berbagai Masalah
Nggak Cuma Ngaji, Ini 5 Kontribusi Ibu-Ibu Majelis Taklim Bagi Indonesia(gar)