LANGIT7.ID, Jakarta - Guru Besar IAIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, menjelaskan, semua ajaran
Islam menjurus pada dua fungsi manusia di muka bumi, Baik itu ibadah
mahdhah yang ketentuannya telah ditetapkan Allah, maupun
ghairu mahdhah yang manusia dituntut menggunakan akal.
“Pada intinya bermuara pada fungsi hamba dan khalifah,” kata Zakiyuddin dalam Pengajian PP Muhammadiyah, dikutip Senin (20/3/2023).
Puasa menjadi bagian dari trilogi ajaran agama Islam yakni Islam, iman, dan ihsan. Puasa menjadi salah satu dari rukun Islam yang lima dan dikhususkan kepada orang beriman. Sementara, dalam menjalani ibadah puasa, seorang muslim ditekankan berbuat ihsan sepanjang hari.
Baca Juga: Prioritas Amalan di Bulan Rajab, Ternyata Bukan PuasaIbadah puasa saat ini identik dengan aktivitas spiritual yang syariatnya ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183. Dalam ayat itu, dijelaskan bahwa puasa telah dipraktikkan jauh sebelum disyariatkan kepada Nabi Muhammad SAW.
“Umat-umat terdahulu sebelum Islam juga memiliki ajaran yang mewajibkan umatnya untuk berpuasa. Namun, dalam menjalani puasa, Islam memiliki kekhasan yang tidak diserupai bangsa-bangsa terdahulu,” kata Zakiyuddin.
Salah satu bentuk kekhasan puasa dalam tradisi Islam adalah puasa bertujuan untuk pengekangan hawa nafsu, bukan penebusan dosa. Puasa merupakan sarana umat Islam mengendalikan dorongan-dorongan biologis seperti makan, minum, amarah, dan bercinta.
Baca Juga: Rahasia Kebugaran Tubuh Elon Musk: Puasa, Ini ManfaatnyaMaka itu, karakter puasa dalam Islam sangat dekonstruktif, terutama terhadap ajaran jahiliyyah yang rakus, tamak, dan suka melakukan kejahatan yang melampaui batas.
“Karena Allah tidak menyukai segala hal yang melampaui batas, termasuk hasrat kita untuk makan dan minum. Kata Rumi, nafsu duniawi adalah tipu daya dari semua berhala,” kata Zakiyuddin.
Di samping sebagai anugerah dari Allah, nafsu juga dapat menjadi musibah. Semua sumber kejahatan biasanya berasal dari keinginan primitif yang terkendali. Kehadiran puasa bisa menjadi tembok penghalang dari nafsu hewani, sehingga menjadi manusia yang bertakwa.
Baca Juga: Bacaan Niat Puasa Asyura Bahasa Arab dan Latin, Raih Keutamaan Pelebur Dosa“Kekhasan dari puasa yang diajarkan Islam itu bukan menghilangkan nafsu melainkan mengendalikan nafsu, karena manusia tanpa nafsu tidak akan memiliki motivasi untuk menjalani hidup, sehinga yang dilakukan Islam ialah bagaimana cara mengendalikannya,” kata Zakiyuddin.
(jqf)