Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag
(Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Kemenag RI)
Ramadhan merupakan bulan kelembutan. Di bulan suci ini, manusia dilatih Allah SWT untuk melembutkan hati selama berpuasa.
Puasa ini ibadah yang unik. Puasa adalah jenis ibadah yang efek langsungnya kepada fisik adalah kelemahan karena harus menahan untuk tidak makan dan minum, suatu aktivitas yang secara bilogis dibutuhkan manusia untuk memiliki kekuatan fisiknya.
Makan dan minum adalah aktivitas paling mendasar yang dibutuhkan manusia untuk tetap hidup. Puasa justru memerintahkan manusia untuk tidak melakukannya hingga ia menanggung rasa lapar dan dahaga.
Tapi puasa bukanlah ibadah yang mendorong manusia untuk mati. Allah melarang manusia melakukan tindakan yang membahayakan dirinya. Karena itu, puasa memiliki batas waktu tertentu di mana pelakunya harus menghentikan puasanya. Inilah yang kita sebut dengan waktu berbuka. Jika orang tetap melanjutkan puasa di saat dia harus mulai makan dan minum, maka haram hukumnya. Mengapa? Karena puasa adalah latihan melembutkan diri, bukan ritual kematian.
Baca juga:
Memaknai Keberkahan Ramadan-12Manusia yang bisa menunda kebutuhan hidup yang paling dasar, makan dan minum serta pemenuhan hasrat seksual, adalah dia yang pada dasarnya sanggup mengontrol dirinya dari tindakan-tindakan agresif yang seringkali didorong oleh emosi yang tak terkendali daripada sungguh-sungguh karena kebutuhan objektif dalam hidup. Orang mudah tersinggung, marah, dan menyerang orang lain seringkali bukan karena alasan mendasar menyangkut tentang kebutuhan objektif hdupnya, tapi karena hilangnya kontrol diri.
Tidak mudah untuk melatih diri agar sanggup memiliki daya kontrol sehebat itu. Dibutuhkan kondisi jasmani tertentu yang memungkinkan seseorang untuk “tidak bisa” melakukan agresivitas. Tubuh yang lemah adalah salah satu kondisi yang membuat orang terhalang untuk melakukan agresivitas secara fisik.
Perpaduan antara kesengajaan untuk menahan dari makan, minum dan berhubungan seks, serta kelemahan fisik akan membuat orang memiliki kondisi paripurna untuk melatih dirinya menjadi insan yang tidak mudah meluapkan perilaku agresif. Puasa adalah latihan untuk melembutkan pribadi kita, karena ujung lain dari agresivitas adalah kelembutan.
Tidak heran jika Rasulullah suatu kali menasehati seorang pemuda yang ingin mengendalikan nafsu syahwatnya dengan cara berpuasa. Puasa adalah sarana sempurna bagi manusia untuk mengendalikan diri dari dorongan hasrat yang seringkali meluap menjadi agresivitas yang membahayakan, baik diri sendiri maupun orang lain.
Selain puasa, ibadah yang sangat diajurkan di bulan Ramdhan adalah membaca al-Qur’an. Orang yang banyak membaca al-Qur’an semestinya adalah orang yang hatinya tenang dan perikaunya dipenuhi kasih sayang. Sebagaimana firman Allah dalam al-Isra 82, bahwa al-Quran diturunkan sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Karena itu, semakin orang membaca al-Qur’an, dia seharusnya menjadi manusia yang semakin dipenuhi ketenangan jiwa dan perilaku yang penuh kasih.
Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwatkan oleh Bukhari, bahwa Nabi Muhammad adalah manusia yang paling lembut. Kelembutan Nabi ini semakin terasa saat bulan Ramdhan. Mengapa? Karena di bulan inilah beliau bertadarrus al-Qur’an dengan dipandu langsung oleh Malaikat Jibril.
Ibnu 'Abbas berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadlan ketika malaikat Jibril alaihis aalam menemuinya. Malaikat Jibril alaihis aalam mendatanginya setiap malam di bulan Ramadlan dan bertadarrus al-Qur'an. Sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lebih lembut daripada angin yang berhembus.
Mestinya, di bulan Ramadhan, melalui ibadah puasa dan tadarrus al-Qur’an, kita menjadi manusia dengan pribadi yang lembut. Mungkin tak selembut angin, apalagi lebih lembut dari angin. Tapi setidaknya, kita tidak menjadi Muslim pemarah justru ketika tiba bulan Puasa.
(ori)