LANGIT7.ID-, Jakarta- - Setiap tahun saat tiba
Idul Fitri, umat muslim di seluruh dunia berpuasa dan menggelar berbagai ibadah untuk memperbaiki hubungan dengan Allah Ta’ala dan manusia.
Tradisi bermaaf-maafan saat lebaran tidak sekadar budaya, namun juga memiliki makna yang mendalam. Itu karena dosa-dosa yang dilakukan sepanjang tahun diampuni oleh Allah melalui maaf memaafkan antara sesama manusia.
Menjadi manusia pemurah dengan memaafkan sesama umat merupakan amal shaleh yang dianjurkan dalam Islam. Seperti termaktub dalam Surah Al-A’raf ayat 199.
“Jadilah Engkau pemaaf dan serulah orang-orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha Pengampun lagi maha Penyayang.” (QS An-Nuur: 22)
Pada dasarnya, bermaaf-maafan merupakan perkara keikhlasan hati untuk meminta dan memberi maaf. Pada saat momen Idul Fitri, budaya bermaaf-maafan setelah rangkaian Shalat Id selesai harus dipertahankan. Bisa jadi, ada orang yang enggan meminta maaf di lain hari. Maka, momen Idul Fitri adalah waktu yang tepat.
Baca juga:
Lebaran Bersama Muhammadiyah dan NUTerdapat beberapa riwayat yang menceritakan fenomena saling maaf-memaafkan saat lebaran. Dalam tulisan Risman H Siregar yang diterbitkan sindonews pada 22 Mei 2020, mengutarakan padangan syariat Ustadz Muhammad Saiyid Mahadhir (Pengajar Rumah Fiqih Indonesia) dalam bukunya “Bekal Ramadhan dan Idul Fitri”.
Dari Adham, budaknya Umar bin Abdul Aziz berkata,
“Kami dahulu mengucapkan kepada Umar bin Abdul Aziz pada saat dua hari raya dengan ucapan ‘Taqabbalallahu minna waminka yan Amiral Mukminin’. Lalu, Umar bin Abdul Aziz menjawabnya dan tidak mengingkari ucapan kami.” (HR Al-Baihaqi).
Dari Watsilah berkata,
“Saya bertemu Rasulullah SAW pada hari raya, lalu saya ucapkan, ‘Taqabbalallahu minna waminka’. Lalu Rasulullah menjawab, ‘Iya, taqabbalallahu minna waminka’. (HR Baihaqi)
Ada banyak dalil yang disebutkan Ustadz Muhammad Saiyid Mahadhir. Beberapa uraian riwayat lebih pada ucapan kemenangan seseorang dari ibadah yang telah dilaksanakan, yang sekaligus mencerminkan rasa persaudaraan dan silaturahmi antara sesama.
Meski sebagian riwayat itu, kata Risman, bermasalah dalam pandangan masing-masing, namun semuanya dalam konteks saling memberikan doa antara sesama saat lebaran.
“Walaupun riwayat itu dinilai bermasalah, namun gabungan dari kesemuanya bolehlah kita pakai sebagai acuan bahwa saling memberikan ucapan (tahni’ah) kepada sesama pada hari raya,” tulis Risman.
Efek Fisik dan Mental dalam Maaf-Memaafkan Saat Idul FitriSikap memaafkan memiliki banyak manfaat, tidak hanya untuk meraih kedamaian batin tetapi juga untuk kesehatan fisik dan mental seseorang. Secara psikologis, orang yang pemaaf cenderung memiliki frekuensi dan tingkat depresi yang rendah.
Selain itu, sikap memaafkan juga dapat memperkuat hubungan dalam keluarga, terutama bagi pasangan yang saling memaafkan dan berkompromi. Di sisi lain, secara fisiologis, sikap memaafkan berkaitan dengan kadar sel darah putih dan jumlah sel darah merah dalam darah, yang terkait dengan sistem imun yang melindungi tubuh dari penyakit.
Menurut Profesor Emeritus Everett L. Worthington Jr. dari Virginia Commonwealth University, penelitian tentang psikologi memaafkan menunjukkan bahwa ada dua kategori memaafkan, yaitu memutuskan untuk memaafkan atau memaafkan secara emosional.
“Anda dapat mengalami perubahan dalam emosi Anda, dan kemudian memutuskan untuk memaafkan, atau Anda dapat memutuskan untuk memaafkan terlebih dahulu dan mengalami perubahan itu secara emosional di kemudian hari,” kata Dr. Worthington, dikutip dari Kompas.
Dalam jangka panjang, kemampuan untuk memaafkan dapat membantu seseorang mengelola stres, memperlambat detak jantung dan pernapasan melalui sistem saraf parasimpatik, dan menurunkan risiko gangguan psikologis seperti PTSD, kecemasan, dan depresi.
Namun, memaafkan adalah proses yang memerlukan waktu dan usaha. Sebelum memaafkan orang lain, seseorang harus dapat menerima dan memaafkan diri sendiri terlebih dahulu.
Hal itu karena hubungan dengan orang lain sangat penting untuk kesehatan, kemampuan untuk memaafkan dan berkomunikasi bahwa kita telah memaafkan mereka, tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan kita tetapi juga bagi mereka di sekitar kita.
Dr. Worthington juga menekankan, kesehatan mental dan fisik memiliki keterkaitan yang erat. Oleh karena itu, memaafkan dapat membawa kebaikan dalam kehidupan kita, baik untuk diri sendiri maupun orang lain di sekitar kita.
“Jangan lupa, kesehatan mental berhubungan langsung dengan kesehatan fisik,” ujar Dr. Worthington.
(ori)