LANGIT7.ID-, Jakarta- - Setiap manusia niscaya melakukan
kesalahan. Sebaik-baik manusia adalah mereka yang segera bertaubat dan tidak mengulang kesalahan.
Rasulullah SAW bersabda,
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR Tirmidzi 2499)
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti mengungkapkan, sikap terbaik seorang muslim yang telah melakukan kesalahan adalah tidak mengulanginya. Termasuk tidak berlarut-larut dalam penyesalan. Ini karena Allah Ta’ala sangat menyukai hamba-Nya yang bertaubat.
“Jadi, yang lalu biarlah berlalu. Kira-kira move on, bahasa Jawanya sing wis yowes, yang sudah ya sudah. Itu Jangan diulangi lagi,” kata Mu’ti dalam program Kolak TvMu, dikutip Jumat (28/4/2023).
Menurut Mu’ti, melakukan kesalahan adalah manusiawi, termasuk ketika seseorang melakukan dosa besar. Oleh karena itu, seorang muslim setelah menyadari kesalahan dan bertaubat, diharapkan untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah.
“Karena itu di dalam Al-Qur’an dijelaskan di antara ciri-ciri dari orang yang bertakwa itu adalah orang yang apabila dia berbuat zalim kepada diri mereka sendiri atau dia berbuat sesuatu yang keji, maka dia segera sadar dengan semuanya itu,” ujar Mu’ti.
وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
“
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran: 139)
Seorang muslim diharuskan senantiasa menyadari kesalahannya, sehingga proses pengampunan dapat dilakukan setelah dia menyadari kesalahannya. Terdapat istilah "siap salah" saat ini yang menandakan seseorang harus mengakui kesalahannya dengan sadar, mengingat ada orang yang salah namun tidak mau mengakui kesalahannya.
“Karena itu kalau dia mengaku dirinya sudah bersalah dan kemudian bertaubat, maka ada yang harus dia lakukan berikutnya, apa?
Walam yusirruh, dia tidak mengulangi perbuatannya itu lagi,” jelas Mu’ti.
Hakikat BertaubatDalam Syarh Ushul min ilmil Ushul Syaikh Al’Utsaimin tentang pembahasan isi khutbatul hajah dijelaskan, esensi dari taubat adalah kembali patuh kepada Allah setelah melakukan kesalahan dengan berbuat dosa dan mematuhi-Nya.
Ada dua jenis taubat: taubat mutlak dan taubat muqayyad. Taubat mutlak merupakan taubat dari segala jenis dosa yang dilakukan, sedangkan taubat muqayyad adalah taubat dari satu dosa tertentu yang telah dilakukan.
Ada beberapa syarat taubat, termasuk beragama Islam, memiliki niat yang tulus, mengakui dan menyesali kesalahan yang telah dilakukan, meninggalkan perbuatan dosa, bertekad untuk tidak mengulanginya, mengembalikan hak orang yang telah dirugikan, dan bertaubat sebelum ajal menjemput atau sebelum matahari terbit dari arah barat. Taubat adalah kewajiban bagi seluruh umat Islam, bukan hanya bagi orang yang baru saja melakukan kesalahan.
وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS An-Nur: 31)
Allah Maha Pengampun, Maha Penerima Taubat dan Maha PenyayangTaubat merupakan satu amalan yang sangat dianjurkan dalam agama Islam. Hal ini didukung dengan sifat Allah yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Quran.
Allah menyifati diri-Nya sebagai Dzat Maha Penerima Taubat, Maha Pengampun, dan Maha Penyayang dalam Al-Quran. Pengampunan dan kasih sayang Allah adalah tak terhingga. Allah juga menjanjikan nikmat taubat kepada hamba-hamba-Nya di dalam banyak ayat yang mulia dalam Al-Quran.
Dengan taubat, seseorang dapat memperoleh pengampunan dari dosa-dosa yang pernah dilakukan dan mendapatkan rahmat dari Allah. Namun, taubat juga harus dilakukan dengan benar dan ikhlas.
Seseorang harus merasa menyesal dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan dosa yang pernah dilakukan. Selain itu, taubat juga harus disertai dengan usaha untuk memperbaiki diri dan bertambah baik di dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam hal ini, taubat tidak hanya menjadi penghapus dosa, tetapi juga sebagai sarana untuk menjadi lebih dekat kepada Allah dan meningkatkan kualitas keimanan seseorang. Dengan taubat yang benar, seseorang akan merasakan ketenangan hati dan damai sejahtera di dalam hidupnya, serta memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
وَاللّٰهُ يُرِيْدُ اَنْ يَّتُوْبَ عَلَيْكُمْ ۗ وَيُرِيْدُ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الشَّهَوٰتِ اَنْ تَمِيْلُوْا مَيْلًا عَظِيْمًا
“Dan Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti keinginannya menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (QS An-Nisa: 27)
(ori)