LANGIT7.ID - Masyarakat Indonesia seperti yang dikatakan Bung Karno mengalami 'up and down' atau timbul tenggelam dalam berbagai aspek kehidupan. Hal tersebut diulas almarhum KH Zainuddin MZ dalam salah satu ceramahnya.
"350 tahun dijajah Belanda kita susah, Belanda pergi datang Jepang, lalu kita merdeka, dirongrong oleh pemberontak susah lagi, lalu PKI berontak susah lagi, muncul Orde Baru susah lagi, muncul reformasi susah lagi. Kalau susah kita ini sudah akrab, mestinya kalau sudah biasa susah seperti itu jangan kita potong kompas ambil jalan pintas," ujarnya.
Kesusahan jangan sampai menjadikan setiap manusia menyelesaikan masalah dengan cara yang tidak benar, karena kalaupun kesusahan tersebut selesai sifatnya hanya sesaat, bukan penyelesaian yang sebenarnya.
"Karena itu tetaplah dalam keimanan, silakan masa berganti tapi aqidah jangan mati," katanya.
"Meskipun sampai tetes darah penghabisan, tetap Laa ilaaha Illallah. Kalau sanggup, kita harus konsekuen menjaga keimanan dalam kondisi apapun," imbuhnya.
Ia melanjutkan bahwa Allah tidak akan melihat harta, rupa, dan kedudukan manusia, tetapi yang dilihat adalah keimanan, takwa, hati, dan amal saleh. Karenanya, almarhum menyarankan bahwa menghadapi keadaan yang susah hendaknya tetap menjaga kerukunan dan persatuan.
"Rukun antar umat seagama, kedua rukun antar umat beragama. Islam ini rahmatan lil alamin, jangankan manusia, kepada hewan saja Islam memerintahkan untuk berlaku baik," ucapnya.
"Perbedaan agama bukan alasan untuk saling bermusuhan, apalagi kita sudah menyepakati kebhinekaan dan kemajemukan bangsa Indonesia. Namun tetap dalam koridor 'lakum dinukum waliyadin'," sambungnya.
Kiai Zainuddin mengutarakan bahwa shalat berjamaah adalah gambaran tata negara yang baik. Makmum wajib ikut imam jika imam benar shalatnya, begitu pun rakyat wajib ikut pemimpin jika pemimpin benar dalam menjalankan amanahnya.
"Masyarakat Islam ini loyal kalau imamnya benar, tapi kalau imam keliru, tegor. Tidak boleh juga imam keliru, makmum emosi kemudian dipegang, bisa kacau shalat. Ada adab-adabnya," ungkapnya disambut tawa jamaah.
Ia menambahkan bahwa hidup jadi berharga dan berarti jika didasari karena keimanan dan ketauhidan yang murni karena Allah SWT.
"Dengan aqidah yang kuat dan kebersamaan yang kokoh, kita hadapi kesusahan dengan kerja keras untuk menyongsong masa depan yang lebih baik," ucapnya.
(jqf)