LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Umum Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, Dr. Adian Husaini, menilai pandemi Covid-19 memaksa masyarakat kembali kepada jati diri pendidikan. Saat pandemi, semua pihak semestinya punya waktu luang berpikir serius tentang pendidikan secara substansial.
“Mumpung masih pandemi, berpikirlah serius dan mendasar tentang pendidikan kita,” kata Adian Husaini dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (28/8/2021).
Menurut Adian, ada empat hal mendasar yang perlu menjadi bahan pemikiran bersama. Empat poin itu antara lain:
1. Hakikat dan Tujuan PendidikanHakikat dan tujuan pendidikan adalah proses penanaman nilai-nilai kebaikan agar para murid menjadi manusia yang cinta ilmu dan kebaikan. Para orang tua dan guru harus menekankan, tujuan pendidikan yang utama bukan karir, tapi menjadi orang baik dan bermanfaat di muka bumi.
Menurut Adian, berorientasi materi sejak dini akan berdampak buruk pada pemujaan terhadap kekayaan, jabatan, dan popularitas sebagai indikator kesuksesan hidup. Akhirnya, di sekolah praktik tercela jadi kebiasaan. Demi masuk sekolah unggulan, kejujuran dan kasih sayang digadaikan untuk kepentingan pribadi.
Maka, kata Adian, pendidikan akhlak atau karakter harus dilakukan secara serius. Hal paling mendasar adalah menanamkan iman dalam diri peserta didik. Jajaran pemerintah hingga pendidik harus menjadi teladan dalam soal kejujuran, keikhlasan, kerja keras, dan kecintaan pada sesama.
Pendidikan harus melahirkan orang-orang baik. Nilai-nilai kejujuran, kerja keras, keberanian, kesabaran, keikhlasan, budaya pengorbanan, cinta kasih sayang pada sesama, harus benar-benar ditanamkan pada para murid, sehingga mereka akan muncul menjadi pribadi-pribadi cemerlang di tengah masyarakat.
Ketinggian ilmu pengetahuan dan kepiawaian dalam bidang-bidang keterampilan harus dipandu dengan akhlak yang mulia. Sehingga kompetensi akhlak mulia harus menjadi kriteria utama dalam penerimaan calon siswa dan mahasiswa di lembaga pendidikan, bukan hanya nilai akademik.
“Kita sudah merasakan, bahwa krisis dalam berbagai bidang kehidupan saat ini, terjadi terutama bukan karena kita tidak memiliki orang pintar. Pakar-pakar kita berjubel jumlahnya dalam berbagai bidang. Kita tidak kekurangan pakar dan ilmu pengetahuan dalam cara pengelolaan sumber daya alam kita yang melimpah,” ucap Adian.
2. Pendidikan Beda dengan SekolahAdian meminta agar pemerintah dan insan pendidikan tidak terjebak pada penyempitan makna pendidikan disamakan dengan sekolah. Sekolah pun hanya dimaknai sebagai tempat pelatihan calon karyawan agar bisa meraih pekerjaan bergengsi. Hubungan orang tua dan sekolah diatur seperti institusi bisnis.
“Justru, menghadapi era serba internet saat ini, peran terbesar pendidikan harus digeser ke institusi keluarga. Yang perlu dilakukan pemerintah adalah memperkuat institusi keluarga sebagai lembaga pendidikan yang berkualitas,” kata Adian.
Pendidikan untuk calon orang tua yang berkualitas guru yang baik perlu dilakukan. Pemberdayaan orang tua harus dilakukan agar bisa menjadi guru yang baik anak-anak mereka. Ini adalah proyek strategis untuk memajukan bangsa.
Tugas orang tua yang utama bukan mengajarkan rumus-rumus matematika kepada anak-anak mereka. Tapi, para orang tua harus menjadi teladan dan pembimbing dalam penanaman nilai-nilai akhlak mulia. Poin ini yang ditekankan oleh tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara.
3. Menumbuhkan Budaya Ilmu di SekolahMenurut Adian, diperlukan strategi yang tepat untuk menumbuhkan budaya ilmu di sekolah dan kampus kita. Tujuan kuliah dan sekolah yang utama adalah untuk mencari ilmu, agar mereka menjadi orang baik dan bermanfaat.
Maka dari itu, sejak tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, sebaiknya siswa diajari buku tentang ilmu dan kisah perjuangan para ulama atau ilmuwan. Ini agar anak-anak mulai mencintai ilmu dan cinta ilmuwan.
“Bahwa, menjadi ilmuwan atau ulama adalah cita-cita yang mulia, meskipun belum tentu hidupnya bergelimang harta. Dengan ilmu manusia meraih bahagia. Budaya ilmu adalah asas kebangkitan suatu bangsa atau suatu peradaban,” ucap Adian.
Poin ini pula yang ditanamkan oleh Al-Quran, sejak ayat-ayat pertama diturunkan. Rasulullah SAW kemudian memberikan teladan cara mendidik para murid beliau dan terbukti memiliki budaya ilmu yang tinggi dan akhlak sangat mulia.
4. Peran PemerintahAdian menegaskan, pemerintah perlu membentuk guru-guru model dan lembaga pendidikan guru terbaik, yang sesuai dengan era disrupsi. Para guru ini harus memiliki visi keakhiratan, juga visi perjuangan sebagai guru.
“Bahwa mereka adalah para pejuang (mujahid) intelektual yang menjadi contoh dalam bidang keilmuan dan pendidikan. Jangan terlalu terjebak dengan formalisme dan materialisme. Biasanya, guru-guru sejati pendidik masyarakat itu tidak terlalu mementingkan aspek formalitas dan mengejar materi,” ucap Adian.
Para guru harus yakin bahwa rizki mereka sudah dijamin oleh Allah Ta’ala. Sehingga, mereka akan bekerja keras dalam pendidikan, karena yakin itu adalah amal ibadah yang bernilai tinggi di sisi-Nya. Kualitas guru adalah yang paling menentukan kesuksesan pendidikan.
“Lihatlah dan contohlah, bagaimana peran dan keteladanan guru-guru bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta, Haji Agus Salim, KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, A. Hassan,Syekh Soorkati, Mohammad Natsir, Panglima Soedirman, dan sebagainya,” ucap Adian.
(jqf)