LANGIT7.ID-, Jakarta- -
Mimpi basah jadi tanda seorang anak sudah dewasa atau baligh. Dalam konteks tersebut, orang tua memiliki peran penting untuk mendampingi anak. Pasalnya, anak kemungkinan besar merasakan ketertarikan dengan lawan jenis.
Di sisi lain, menjaga syahwat merupakan perintah dalam syariat Islam. Maka itu, orang tua harus memiliki cukup ilmu dan bisa menjelaskan secara hati-hati kepada anak.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah, Prof Yahya Zainul Ma'arif (Buya Yahya), menyarankan para orang tua dapat menjelaskan mimpi basah secara umum saja. Artinya, orang tua menjelaskan mimpi basah merupakan hal normal, tetapi tidak perlu secara rinci mengenai hal yang dirasakan.
Selain itu, orang tua juga menjelaskan jika menyukai lawan jenis merupakan hal normal saat beranjak dewasa. Di sisi lain, tegaskan juga kalau mereka harus menjaga hasratnya itu karena dalam Islam hukumnya adalah haram.
"Anda tidak perlu susah untuk menjelaskan anda punya gambaran G-obal saja seperti 'anak-anakku sayang ketika kamu sudah memasuki masa dewasa ada kecenderungan dengan lain jenis itu normal itu dijaga, karena ada keharaman'," ucap Buya Yahya dalam video yang diunggah di kanal YouTube Al-Bahjah TV.
Baca juga:
Jajal LRT Jabodebek, Presiden Jokowi: Nyaman dan Ahamdulillah LancarOrang tua juga perlu menjelaskan pada anak kalau mimpi basah bisa membuat caira tertentu keluar dari dalam tubuh. Saat keluar akan diikuti perasaan nikmat yang tidak bisa diceritakan kecuali mengalaminya sendiri.
"Suatu ketika ada keluar sesuatu dari dalam dirimu, keluar dari syahwat. Enggak bisa diceritakan, sebab cerita rasa lezatnya keluar mani enggak bisa diceritakan kecuali yang punya pengalaman," ujar Buya Yahya.
Maka itu, orang tua khususnya ayah tidak perlu menceritakan detail rasa keluarnya air mani dari dalam tubuh. Hal ini karena anak nantinya akan mendapatkan pengalamannya merasakan hal tersebut. Orang tua bisa menjelaskan dengan isyarat sederhana saja.
"Masalah hubungan keluar mani tidak bisa diceritakan nanti dia punya pengalaman sendiri, karena itu pengalaman yang tidak ia temui sepanjang hidupnya kecuali waktu itu, jadi pakai isyarat saja sudah paham enggak usah nanti detailnya begini-begini," tutur Buya Yahya.
Hal yang bisa disampaikan orang tua kepada anaknya yaitu saat mimpi basah hanya adanya air mani yang keluar disertai rasa lezat. Penjelasan secara umum akan membantu anak mengenali tanda-tanda seorang laki-laki mencapai baligh.
"Orang tua bisa jelasin 'wahai anakku, nanti saat sudah baligh Anda akan keluar air mani, dengan tanda sebagainya dan biasanya saat keluar nanti diikuti rasa lezat. Udah gitu aja nanti dia juga akan paham," ungkap Buya Yahya.
Sementara Founder Sekolah Aqil Baligh Purwokerto, Andri Yulianto, memberikan saran kepada orang tua untuk menyiapkan anak memasuk masa aqil baligh. Orang tua tidak boleh melakukan sesuatu tanpa ilmu pengetahuan tentangnya.
Ada empat fase pendidikan dalam era kenabian: thufulah, tamyiz, murohaqah dan syabab. Semua fase sebenarnya menyiapkan anak-anak menjadi aqil baligh. Trend sekarang, anak baligh lebih cepat, tapi aqil lebih lambat atau belakangan. Sementara, di usia balighnya sudah harus terkena beban syariat, namun kondisi masih kekanak-kanakan.
Baca juga:
Pesantren Punya Peran Penting Jadi Tonggak Kemandirian Bangsa"Kita meyakini! Sebaik-baik pendidikan adalah pendidikan yang diajarkan langsung oleh ayah-bundanya. Rumah adalah miniatur peradaban. Sementara sekolah adalah mitra orangtua karena keterbatasan ilmu tentang pedagogik dll," kata Andri melalui laman Harapan Bunda Purwokerto.
Rumah adalah miniatur perdaban, karena memiliki empat unsur peradaban yang melekat didalamanya yakni agama, manusia, alam, dan zaman. Setiap orang punya zaman masing-masing. Batasan waktu masing-masing untuk berkontribusi pada pendidikan anak.
Jika saat ini anak-anak lemah dan rentan, bisa saja di rumah orang tua tidak menyiapkan anak yang kuat secara mental. Anak tidak disiapkan mampu mengelola masalah yang terjadi di luar sana. Peran orang tua dalam pembentukan mental agama penting pada usia 0-7 tahun (At Thufulah).
"Karena di usia ini menjadi kunci untuk pertumbuhan fitrah iman mereka. Salah satu metode dengan membawa anak ke ruang publik. Menyiapkan mereka bermasyarakat. Di fase 7-10 tahun (Tamyiz) ini bisa kita mulai, menyiapkan anak-anak siap belajar," kata Andri.
Fase 13-14 tahun, Transisi, yang namanya transisi tidak lama harusnya. Hari ini diperlama dengan kesibukan akademik oleh orangtua dan sekolah. Orang sudah harus lebih “tega”. Zaid bin Tsabit umur 13 tahun meminta ikut berperang. Tidak diizinkan Rasulullah, tapi disuruh “magang” bersama Rasulullah.
"Umur 15 tahun Zaid baru diizinkan untuk berperang. Dan, potensinya tergali khususnya dalam berbahasa. Peran manfaatnya adalah menjadi juru tulis Rasulullah SAW. Surat-surat ekspansi dakwah ke Raja-raja diluar Madinah ditulis oleh Zaid bin Tsabit," ujar Andri.
Orang tua perlu menemukan bakat anak dan kembangkan (magangkan, mentoring dan coaching mereka). Berikan aktivitas pembebanan kepada mereka untuk melihat kemandirian dan tanggungjawabnya.
"Kasih wewenang dan tanggung jawab teritorial domestik mereka, misal mengatur kamar, memisahkan tempat tidur, dll. Ketika Rasulullah tahu bakat Zaid adalah bahasa, Rasulullah memberikan tugas menulis wahyu, dan belajar bahasa Ibrani dan Suryani," ungkap Andri.
Fase Asyabab yakni 15 thn keatas artinya siap mandiri dan memilih cara hidupnya sendiri. Pada masa itu, anak sudah diberi beban syariat, karena sudah tercatat sebagai aqil baligh atau mukallaf.
"Menyiapkan anak aqil baligh sebenarnya tentang soal kita sebagai orangtua mereka menyiapkan diri bukan sekedar menjadi orangrua mereka, tetapi bersiap menjdi partner mereka dalam project-project peradaban selanjutnya. Kita bersiap menjadi fasilitator, mentor bahkan coach buat mereka," ujar Andri.

(ori)