LANGIT7.ID-, Jakarta- - Bagaimana konsep waktu dalam Al-Quran berhubungan dengan teori relativitas Einstein? Apa pentingnya penyebutan Al-Quran tentang relativitas waktu? Apakah satu hari lebih pendek dari satu tahun?
Mengajukan pertanyaan ini akan menghasilkan jawaban yang berbeda. Jawaban cepatnya adalah "Ya". Namun, orang yang cerdas pasti akan meminta penjelasan lebih lanjut. Apakah pertanyaan itu merujuk pada hari di Bumi atau di benda langit lain?
Deena El Shamy, seorang Master di bidang Teknologi Digital, Komunikasi, dan Pendidikan dari University of Manchester, Inggris menjelaskan, dalam bahasa sehari-hari, satu hari adalah waktu yang berlalu antara matahari terbit hari ini dan matahari terbit esok hari. Dalam ilmu Mekanika Langit, 'hari' adalah rentang waktu rotasi sebuah benda langit.
Astronomi mengacu pada hari sipil sebagai Hari Matahari atau Hari Sinodis. Manusia mengukurnya berdasarkan posisi matahari di langit. Manusia lalu mendefinisikannya sebagai interval waktu yang diperlukan matahari untuk melintasi meridian (garis yang membagi langit menjadi dua bagian, timur dan barat) yang berhadapan langsung dengan pengamat untuk kembali ke meridian tersebut.
Jenis hari lainnya adalah Hari Sidereal (dari kata Latin 'sidus' yang berarti bintang), yaitu waktu yang berlalu antara dua perlintasan meridian yang berurutan dari sebuah bintang yang tetap, dan sekitar empat menit lebih pendek daripada hari matahari.
“Ini berarti bahwa sebuah bintang akan kembali ke tempat asalnya di langit empat menit lebih awal setiap hari,” kata Deena melalui laman About Islam, dikutip Senin (18/0/2023).
Satu hari sideris adalah waktu yang dibutuhkan bumi untuk menyelesaikan satu putaran mengelilingi bintang. Bumi kemudian harus berputar selama empat menit tambahan. Hal ini dilakukan untuk membawa matahari ke titik semula di langit.
“Kita menghitung satu bulan berdasarkan pergerakan bulan, yang mengorbit bumi, yang mengorbit matahari,” ucap Deena.
Bulan Sinodis yang umumnya diketahui adalah waktu antara dua bulan purnama yang berurutan. Bulan ini juga merupakan periode waktu yang dibutuhkan matahari untuk kembali ke posisinya di langit sehubungan dengan bulan. Proses ini memakan waktu 29,5 hari. Dengan kata lain, satu hari di bulan berlangsung selama 29,5 hari di Bumi.
Di sisi lain, satu Bulan Sideris berlangsung selama 27,3 hari Bumi, yaitu waktu yang dibutuhkan bulan untuk kembali ke posisi yang sama terhadap bintang-bintang. Atau waktu yang dibutuhkan bulan untuk bergerak mengelilingi Bumi sepenuhnya. Karena bulan purnama membutuhkan kesejajaran matahari-bumi-bulan, bulan harus melakukan perjalanan lebih dari dua hari untuk kembali ke posisi semula.
Satu tahun bagi orang awam berlangsung selama 365 hari. Namun, bagi seorang astronom, hal ini bergantung pada apakah itu tahun sideris, Julian, tropis/matahari, atau jenis tahun lainnya.
Definisi satu tahun menurut kamus adalah 365,25 hari matahari dimana sebuah planet mengelilingi matahari. Ini juga merupakan waktu ketika matahari kembali ke posisi referensi tertentu di langit.
“Sedangkan Tahun Sidereal adalah waktu yang dibutuhkan Bumi untuk berotasi mengelilingi matahari sehubungan dengan bintang-bintang tetap, dan sekitar 20 menit lebih lama dari tahun matahari,” tutur Deena.
Hubungan antara hari dan tahun tidak mudah. Keduanya merupakan ukuran yang berbeda, dan kebetulan di Bumi, satu tahun sama dengan sekitar 365 hari.
Namun pada kenyataannya, benda-benda langit yang berbeda memiliki bentuk dan orbit yang berbeda, dan hal ini menyebabkan setiap benda memiliki definisi dan pengukuran waktu yang berbeda.
Sebagai contoh, Jupiter membutuhkan waktu sekitar 10 jam Bumi untuk melakukan satu putaran penuh, tetapi membutuhkan 12 tahun Bumi untuk melakukan satu kali revolusi mengelilingi matahari.
Saturnus membutuhkan waktu yang hampir sama dengan Jupiter untuk berputar, tapi membutuhkan waktu lebih dari dua kali lipat untuk berputar mengelilingi matahari.
Planet luar - Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus - yang disebut "Planet Jovian", lebih besar, lebih masif, dan sebagian besar terdiri dari gas. Planet-planet ini umumnya berputar lebih cepat daripada planet dalam yang berbatu dan lebih padat, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars, yang juga disebut planet kebumian.
“Oleh karena itu, planet Jovian memiliki hari 'Bumi' yang lebih pendek daripada planet kebumian. Sebaliknya, planet gas memiliki periode planet yang lebih panjang daripada planet kebumian, terutama karena jaraknya yang lebih jauh dari matahari,” ujar Deena.
Jarak yang lebih jauh ini juga menyebabkan tarikan gravitasi dari matahari pada planet lebih lemah, sehingga menyebabkan planet berotasi dengan kecepatan yang relatif lebih lambat.
Perbedaan kecepatan berputar/rotasi benda-benda langit sebagian besar disebabkan oleh bagaimana benda tersebut terbentuk dan gaya gravitasi yang mengelilinginya.
“Hal yang juga menarik adalah fenomena pergerakan benda yang terus menerus, yang dijelaskan dengan konsep momentum sudut,” kata Deena.
Momentum SudutMomentum sudut adalah properti yang dilestarikan dari objek yang berputar pada suatu sumbu, yang berarti rotasi tetap konstan dalam arah dan besarnya. Fenomena ini dijelaskan pada abad ke-17 oleh matematikawan dan astronom Jerman, Johannes Kepler.
Hukum Kepler tentang gerak planet menjelaskan bahwa selama orbit elips planet mengelilingi matahari, planet bergerak lebih cepat ketika lebih dekat ke matahari (titik perihelion), dan lebih lambat ketika jauh dari matahari (titik aphelion).
“Hal ini karena semakin dekat planet ke matahari, semakin kuat tarikan gravitasi matahari pada planet, dan semakin cepat planet bergerak - dan sebaliknya,” tutur Deena.
Hukum Kepler juga menyatakan bahwa garis yang menghubungkan sebuah planet dengan matahari akan menyapu area yang sama dalam waktu yang sama. Karena variasi inilah momentum sudutnya tetap terjaga, dan planet tetap berada di orbit yang konstan.
Satu Hari dalam Al-Qur'anManusia hidup di alam semesta di mana gagasan tentang waktu sangat fleksibel. Pada awal abad ke-20, ilmuwan Jerman terkenal Albert Einstein mengembangkan teori relativitas, yang menjelaskan fleksibilitas ruang dan waktu dan mengaitkannya dengan medan gravitasi.
Jauh lebih awal pada abad ke-7, Al-Qur'an diturunkan dengan indikasi konsep ini. Dalam beberapa ayat dalam Al-Qur'an, Allah SWT menekankan bahwa durasi satu hari dalam ukuran-Nya berbeda dengan durasi dalam ukuran manusia.
Dalam ayat-ayat berikut ini, Allah SWT menyatakan bahwa satu hari dalam perhitungan-Nya setara dengan seribu tahun bumi.
وَيَسْتَعْجِلُوْنَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُّخْلِفَ اللّٰهُ وَعْدَهٗۗ وَاِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَاَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ
“Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS Al-Hajj: 47)
يُدَبِّرُ الْاَمْرَ مِنَ السَّمَاۤءِ اِلَى الْاَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗٓ اَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ
“Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS As-Sajadah: 5)
تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍۚ
“Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun.” (QS Al-Ma’arij: 4)
قٰلَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِى الْاَرْضِ عَدَدَ سِنِيْنَ قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَسْـَٔلِ الْعَاۤدِّيْنَ قٰلَ اِنْ لَّبِثْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا لَّوْ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Dia (Allah) berfirman, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab, “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung.” Dia (Allah) berfirman, “Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui.” (QS Al-Mu'minun: 112-114)
Ayat ini, selain memiliki semantik yang dalam dalam menandakan bahwa waktu kita di Bumi terlalu singkat untuk disia-siakan, juga menunjukkan bahwa durasi satu hari di Bumi tidak sama dengan durasi dalam ukuran waktu Allah SWT yang spesifik yang hanya diketahui oleh Allah SWT.
Kaum ateis mengklaim bahwa ada kontradiksi antara ayat 32:5 dan 70:4, karena ayat pertama menyatakan bahwa satu hari dalam ukuran Allah setara dengan seribu tahun, sedangkan ayat kedua menyatakan bahwa satu hari setara dengan lima puluh ribu tahun.
Klaim ini, selain terlalu naif, juga mudah dipatahkan oleh fakta-fakta ilmiah: ayat-ayat tersebut bisa jadi merujuk pada benda-benda yang berbeda yang melakukan perjalanan ke tempat yang berbeda, yang menjelaskan perbedaan durasi. Selain itu, ayat yang terakhir tidak menyatakan bahwa lima puluh ribu tahun itu adalah tahun 'Bumi'.
Dalam klaim lain, mereka berargumen bahwa ayat-ayat tersebut tidak membedakan antara periode sinodis dan sidereal. Klaim ini juga dapat dibantah dengan memahami bahwa Al-Qur'an adalah kitab petunjuk, dan bukan ilmu pengetahuan.
Al-Qur'an tidak mengandung definisi sederhana tentang berbagai pengertian waktu; juga tidak secara harfiah menjelaskan gagasan relativitas waktu.
Pada awalnya, ayat-ayat tersebut dapat ditafsirkan sesuai dengan konteksnya yang menghasilkan persepsi psikologis yang berbeda tentang waktu. Namun, seiring dengan ilmu pengetahuan dan penelitian yang mengungkap lebih banyak tentang konsep ini, tanda-tanda ilmiah yang terdapat dalam ayat-ayat ini menjadi jelas.
“Membaca ayat-ayat terkait dengan pemahaman pengetahuan ilmiah bahwa waktu itu relatif, bukan absolut, akan memungkinkan pemahaman yang lebih baik terhadap Al-Qur’an,” ujar Deena.
(ori)