LANGIT7.ID-, Jakarta- - Dalam dua dekade terakhir, selain perubahan teknologi, dunia disibukkan dengan munculnya penyakit-penyakit baru. Umumnya penyakit ini disebabkan oleh bakteri dan virus, yang di antaranya menyebar melalui air, makanan, dan udara.
Seperti penyebaran virus Corona yang membuat dunia dilanda pandemi. Para ahli kesehatan kemudian menganjurkan untuk menerapkan protokol kesehatan dengan menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, hingga menjaga jarak.
Sejatinya protokol kesehatan sudah dilakukan oleh teladan umat Islam, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Ada sejumlah tradisi dan prosedur dalam Islam yang sesuai dengan metode pengendalian infeksi saat ini.
Baca juga:
Ekspedisi Rupiah Berdaulat, Bank Indonesia Bawa Uang Rp7,7 Miliar ke Daerah 3T1. Batuk dan bersin
Massachusetts Institute of Technology, pada 2014 silam, merilis temuan tentang awan gas yang dikeluarkan oleh batuk dan bersin.
Awan gas akibat batuk atau bersin ini dapat bertahan di udara lebih lama. Bahkan tetesannya dapat menyebar lima hingga 200 kali lebih jauh dari awan gas yang bukan berasal dari batuk dan bersin.
Karena itu para ahli kesehatan menganjurkan untuk menutup mulut dan hidung saat pilek atau flu.
Rasulullah SAW sudah lebih dulu mengajarkan umat Islam akan adab saat bersin. Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, disebutkan saat hendak bersin, Nabi SAW menutup mulutnya dengan tangan atau baju beliau.
Tindakan ini bertujuan agar suara bersinnya tidak terlampau keras. Hadis lain menyebutkan bersin yang keterlaluan sesungguhnya termasuk perbuatan setan.
‘’Allah SWT membenci perilaku mengencangkan suara bersin dan menguap.’’ (HR Abu Hurairah ra).
2. Cuci tangan
Saat batuk, bersin atau menguap, seorang dianjurkan untuk
menutup mulut dan hidungnya dengan saputangan atau tisu, atau tangannya. Menutup tangan diperbolehkan selama orang tersebut mengikuti pedoman Islam untuk mencuci tangan.
Nabi Muhammad SAW berpesan kepada umatnya untuk mencuci tangan, sebelum salat, sebelum dan sesudah makan dan setelah bangun tidur di pagi hari.
“Jika salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka jangan mencelupkan tangannya ke dalam bejana sebelum ia mencucinya tiga kali. Karena ia tidak mengetahui dimana letak tangannya semalam” (HR. Bukhari no. 162, Muslim no. 278).
Kebiasaan higienis pada hakikatnya merupakan bagian dari wudhu, menyucikan diri sebelum salat. Wudhu meliputi membersihkan tangan, mulut, wajah, dan lengan hingga siku, kepala, telinga, dan kaki.
Praktik kebersihan dasar ini sekarang dikenal sebagai bagian integral dari kesehatan yang baik.
Kebersihan Gigi
Penelitian terbaru mengaitkan penyakit gusi (periodontal) dengan risiko penyakit jantung dan stroke. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang menderita penyakit gusi lebih berisiko terkena penyakit jantung dibandingkan orang dengan mulut sehat.
Kedua kondisi tersebut memiliki beberapa faktor risiko yang sama, termasuk merokok, gizi buruk, dan diabetes.
Membersihkan gigi dan kebersihan mulut secara umum adalah praktik yang sangat dianjurkan Nabi Muhammad SAW. Imam At-Thabrani dalam kitabnya Al-Mu’jam Al-Ausath meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Mas’ud ra.
"Buanglah sisa-sisa makanan di gigimu, karena perbuatan itu adalah kebersihan, dan kebersihan itu akan mengajak (menggiring) kepada iman, dan iman itu akan bersama orang yang memilikinya dalam surga." (HR. At-Thabrani).
Dalam hal ini, Rasulullah SAW mencontohkannya dengan membersihkan mulut dan gigi lewat cara bersiwak.
Jurnal National Library of Medicine menyebutkan, siwak mengandung salvadorine dan trimetilamina, yang terbukti menunjukkan efek anti-bakteri. Bahan ini juga mendukung kesehatan gusi dan merupakan obat kumur yang efektif.
Ada banyak praktik Islam yang sangat sesuai dengan ilmu praktik kebersihan abad ke-21. Tentunya hal ini berkontribusi terhadap kesehatan jiwa dan raga.
(About Islam dan berbagai sumber)
(ori)