LANGIT7.ID, Jakarta - Pemerintah DKI Jakarta telah memberlakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di 610 sekolah sejak Senin (30/8/2021). Keputusan tersebut menyusul pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) setelah menurunnya kasus Covid-19.
Bagi banyak orang tua, PTM merupakan keputusan yang tepat di tengah kebosanan yang melanda anak-anak setelah setahun lebih belajar daring. Namun, tak boleh dilupakan para orang tua yang khawatir anaknya terpapar virus corona saat berada di lingkungan sekolah.
Respon berbeda itu wajar. Satu tahun belajar daring bukan waktu singkat. Banyak orang tua mengeluh, sebab tak mampu membuat anak mereka betah belajar. Tugas menumpuk, tak punya kecakapan mengajar, hingga anak kecanduan gadget membuat orang tua angkat tangan.
Irmawati merupakan satu di antara banyak orang tua yang mengaku senang PTM diselenggarakan. Wanita yang berprofesi sebagai pedagang itu mengaku sangat senang saat pemerintah membuka kembali sekolah. Anaknya yang masih berusia sekolah dasar pun demikian.
“Anak sangat semangat sekali,” kata Irma kepada langit7.id, Rabu (1/9/2021).
Irma menuturkan, anaknya bahkan sudah bangun pada pukul 04.30 WIB dan terus bertanya tentang sekolah. Hal itu bisa dimaklumi, kebosanan belajar di rumah menjadi penyebab utama sekolah kini menjelma menjadi tempat favorit.
Berbeda dengan Anditenri Ajeng, salah seorang Ibu yang anaknya akan masuk sekolah. Ia mendapati anaknya sangat senang bisa kembali ke sekolah. Ia menyebut anaknya sudah sangat rindu bertemu dengan teman sebaya, belajar di dalam kelas, dan mendengar guru secara langsung. Namun ia khawatir, PTM justru membawa petaka jika anaknya terjangkit Covid-19.
Kekhawatiran serupa dirasakan Mardawiyah, orang tua murid di salah satu sekolah dasar di Sinjai, Sulawesi-Selatan. Meski kasus Covid-19 di sana tak setinggi di ibu kota, namun ia mengaku memiliki rasa takut jika anak terpapar corona.
“Soalnya ada baru-baru meninggal, dibungkus plastik sama dimasukkan ke dalam peti. Meninggal karena corona katanya,” tutur dia melalui sambungan telepon kepada langit7.id, Rabu (1/9/2021). Ia yang mulanya enggan percaya, kini merasa khawatir jika Covid-19 benar-benar mengjangkiti anaknya.
Di sisi lain, sebagian guru menilai PTM adalah pilihan tepat. Ada banyak materi yang tak bisa disampaikan secara maksimal jika hanya melalui layar gawai atau laptop. Hal ini dirasakan Sri Rahayu, Guru di salah satu sekolah dasar di Bandung, Jawa Barat.
“Di online kita sebagai guru sulit menyampaikan ilmu-ilmu, terutama pembahasan tentang karakter, terutama materi-materi untuk anak menengah ke bawah. Apalagi kalau orang tuanya tidak bisa mendampingi full,” tutur Sri kepada langit7.id, Rabu (1/9/2021).
Sebelumnya, pemerintah DKI Jakarta mengizinkan PTM Terbatas Tahap 1 di 610 sekolah. PTM terbatas itu sesuai Keputusan Bersama Mendikbud-Ristek, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri.
Seluruh pendidik dan tenaga kependidikan wajib sudah vaksinasi lengkap bagi sekolah yang sudah melaksanakan PTM Terbatas. Namun, jika warga sekolah terindikasi terpapar Covid-19, satuan pendidikan tersebut ditutup selama 3 hari dan pembelajaran dilaksanakan secara daring.
Setelah itu, Satgas Covid-19 di sekolah akan melakukan koordinasi dengan Satgas Covid-19 Kelurahan dan berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan terdekat untuk melakukan penyemprotan disinfektan. Termasuk melakukan
tracing kepada warga sekolah yang berkontak erat.
Selain itu, Disdik DKI Jakarta juga melakukan pembinaan terhadap satuan pendidikan yang ingin melaksanakan PTM Terbatas tahap selanjutnya. Kemudian, satuan pendidikan mengisi asesmen dan mengikuti pelatihan terlebih dahulu untuk memastikan kesiapan pelaksanaan PTM Terbatas.
Namun, orang tua atau wali peserta didik juga tetap dapat memilih PTM Terbatas atau pembelajaran secara daring bagi anaknya. Penambahan pembukaan sekolah akan terus dilakukan dengan target pembukaan seluruh satuan pendidikan pada November 2021.
(jqf)