LANGIT7.ID - Da’i kondang sekaligus pendiri Quantum Akhyar Institute, Ustadz Adi Hidayat (UAH), menjelaskan hukum menyingkat ucapan salam yakni
Assalamu’alaikum. Biasanya saat
chatting, kerap kita jumpai tak sedikit yang menyingkat salam dengan huruf-huruf singkatan seperti Ass, Askum dan lain sebagainya.
Dia menjelaskan, dalam bahasa Arab terdapat singkatan-singkatan yang sesuai dengan hukum tata bahasa. Dalam bahasa syariah pun demikian. Namun, tidak semua singkatan bahasa Arab mencakup makna bahasa syariah.
“Bahasa syariat itu disampaikan dalam bahasa Arab, cuma dalam terminologi keislaman, bukan bahasa pada umumnya. Contoh bahasa syariat seperti iman, taqwa, ihsan, dan Islam,” kata UAH melalui kanal youtube Adi Hidayat Official, Kamis (2/9/2021).
Bahkan, kata dia, ada amalan syariah yang berbentuk bahasa Arab seperti
Alhamdulillahi Rabbil Alamin yang bisa disingkat menjadi tahmid,
bismillahirrahmanirrahim bisa disingkat dengan basmalah, dan
laa haula walaa quwwata illa billah disingkat dengan hauqolah. Demikian pula tahlil dan takbir.
“
Assalamualaikum warahmatulllahi wabarakaatuh juga begitu, jika anda ingin singkat diksinya dengan diksi satu kalimat, anda bisa menggunakan kata salam. Misalnya kepanjangan karakternya saat mau nulis di whatsApp, maka anda boleh tuliskan salam,” terang UAH.
Menyingkat ucapan salam tersebut bisa dilihat Al-Qur’an Adz-Dzariyat ayat 24-25. Alla Ta’ala berfirman, “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, ‘Salaman’ (salam), Ibrahim menjawab, ‘Salamun’ (salam). (Mereka itu) orang-orang yang belum dikenalnya.”
Para malaikat yang menjelma manusia hendak mendatangi Nabi Luth AS. Namun ia mampir ke tempat Nabi Ibrahim AS. Saat izin masuk ke rumah Ibrahim, para malaikat itu mengucapkan ‘salaman’. Lalu Ibrahim menjawab salamun.
Malaikat menggunakan
‘salaman’ dalam
manshub (perbuatan)
yang menunjukkan sesuatu yang terjadi pada saat itu juga. Sementara Ibrahim menjawab
‘salamun’ bersifat
marfu’ yang bersifat progresif untuk menunjukkan
isbat (sesuatu yang tetap) tetapi
mustamir (berlangsung terus).
Hal itu menunjukkan akhlak mulia Nabi Ibrahim AS. beliau senantiasa membalas sesuatu lebih baik dari apa yang diberikan. Dari kaidah pun nabi SAW memberikan gambaran dengan menjawab salam lebih baik daripada orang yang mengucapkannya.
Membalas kebaikan dengan yang lebih baik merupakan anjuran yang termaktub dalam surah An-Nisa ayat 86. Allah Ta’ala berfirman;
“Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu.”
Salam adalah ucapan penghormatan. Beda ucapan selamat dalam bahasa Indonesia dengan salama dalam bahasa Arab. Salama dalam bahasa Arab lebih kepada doa atau penghormatan. Ini sesuai anjuran Nabi Muhammad SAW, jika ada yang mengucapkan assalamualaikum, maka jawab waalaikumsalam warahmatullah.
Ada yang mengucapkan
assalamualaikum warahmatullah, maka dijawab
wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Kalau tidak mampu, maka jawab dengan semisalnya.
Kaidah itu pula yang menjadi alasan hukum mengucapkan salam adalah sunnah, menjawabnya adalah wajib, dan lebih utama adalah menjawab lebih lengkap dari yang menyampaikan. Lalu, bagaimana dengan Askum dan singkatan semisalnya?
“Kalau mau menyingkat lebih baik menggunakan kata salam karena singkatannya sudah diajarkan dalam Al-Qur’an. Ini sederhana, tapi bukan persoalan kita memahami kata yang diucapkan. Semua orang paham ketika dikatakan Askum, tapi persoalannya lebih baik mengikuti ajaran dalam Al-Qur’an. Menyingkat dengan kata salam berpahala, sementara dengan diksi yang lain tidak ada,” pungkas UAH.
(jqf)