LANGIT7.ID, Pasuruan - Dosen Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah (Dalwa) Bangil, Dr (Cand) Ahmad Kholili Hasib, menilai, pendidikan ilmu-ilmu keagamaan di perguruan tinggi berbasis pesantren bisa bertahan dan berkembang dengan baik.
Kondisi itu berbeda dengan program studi berbasis ilmu-ilmu keagamaan (ulumuddin) di perguruan tinggi Islam yang mengalami kelesuan. Maka gagasan perguruan tinggi di pesantren perlu ditingkatkan untuk melestarikan Ilmu-ilmu agama di Tanah Air.
“Bahkan pendidikan dengan model basis pesantren dapat diandalkan pada era sekarang. Tetapi hendaknya perguruan tinggi di pesantren dapat berdiri di atas cara pandang Islam dalam studi-studi keislamannya. Justru, distingsi pesantren adalah tidak selalu ikut metodologi dan epistemologi sekuler,” kata Kholili melalui akun facebook-nya, Kamis (2/9/2021).
Menurut Prof Wan Mohd Nor Wan Daud lesunya pendidikan agama di perguruan tinggi akibat problem institusi pendidikan tinggi modern sekarang telah berubah menjadi institusi yang pragmatik secara ekonomi di berbagai bidang. Tujuan pendidikan yang lebih utama demi memenuhi tuntutan industri dan perniagaan.
“Institusi dengan tujuan demikian akan melahirkan ‘tukang-tukang’ bukan ilmuan-ilmuan’. Oleh sebab itu tujuan, orientasi dan desain perlu ditelaah ulang kembali,” kata kholili.
Sementara konsep universitas di bawah naungan pesantren lebih independen. Terinspirasi dari konsep universitas yang dirumuskan oleh Prof Syed M Naquib al-Attas. Dimana pendidikan di pesantren bertujuan melahirkan lulusan yang baik dan beradab.
Kholili menambahkan, pendidikan adalah proses menanamkan adab ke dalam jiwa. Pesantren telah memiliki ilmu dalam menanamkan adab yaitu melalui pendidikan tasawuf. Tak hanya itu, di pesantren terdapat ilmu aqidah atau kalam untuk menjaga dan memelihara aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah dari gangguan ahlul bid’ah.
Oleh sebab ilmu tidak netral, maka ketika mengajarkan berbagai ilmu harus berdasarkan kepada cara pandang yang sesuai dengan Islam.
“Ketika saya mengajar mata kuliah sejarah peradaban Islam dan sejarah pemikiran Islam, saya selalu menjelaskan kepada mahasiswa cara pandang yang tepat dalam belajar sejarah,” kata Kholili.
Selain itu, di antara penekanan Kholili kepada mahasiswa adalah mempelajari sejarah orang-orang dahulu dalam mengambil pengajaran. Sehingga, para tokoh-tokoh ilmuwan besar terdahulu bisa ditempatkan dengan benar. Selain itu, seseorang dapat belajar bersikap dengan benar dalam perkembangan zaman sekarang ini.
(jqf)