Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 01 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Mengenal Kitab Tafsir Karya Ulama Nusantara, dari yang Berbahasa Jawa hingga Bugis

Muhajirin Senin, 06 September 2021 - 12:20 WIB
Mengenal Kitab Tafsir Karya Ulama Nusantara, dari yang Berbahasa Jawa hingga Bugis
Kitab Tafisr Al-Quran Faidh Arrahman berbahasa Jawa karya Kiai Soleh Darat (foto: istimewa)
LANGIT7.ID - Indonesia memiliki banyak ulama mufassir ternama. Jauh sebelum berdirinya Republik Indonesia, ulama-ulama sudah menelurkan berbagai macam mahakarya kitab tafsir Al-Qur'an. Bahasa yang digunakan pun beragam, ada yang memakai bahasa Melayu, bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Bugis, dan bahasa daerah lainnya.

Sebut saja KH Muhammad Soleh bin Umar As-Samarani atau akrab disapa Kiai Soleh Darat, Guru para ulama di penghujung abad 19. Beliau menerjemahkan dan menafsirkan Al-Qur’an dalam bahasa Jawa. Judulnya Faidh al-Rahman fi Tafsir al-Qur’an. Kitab karya Kiai Soleh ini berukuran folio, dicetak pertama kali di Singapura pada tahun 1894. Kitab ini terdiri dari dua jilid.

Menurut Rektor Institut Agama Islam Al-Falah Assunniyah (INAIFAS) Jember, karya Kiai Soleh Darat tak hanya tersebar di Pulau Jawa, tapi juga menjadi referensi pribumi Jawa yang bermukim di tanah Melayu. Bahkan kaum muslim di Pattani, Thailand Selatan juga memakai kitab ini. Ditulis dengan aksara Arab Pegon, kitab tersebut dihadiahkan kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat yang menjabat sebagai Bupati Rembang.

Kiai Soleh Darat wafat pada tanggal 28 Ramadhan 1321 H, atau bertepatan dengan tanggal 18 Desember 1903. Penulis produktif ini dimakamkan di komplek Pemakaman Umum Bergota Semarang.

Kiai Soleh menandai salah satu fase perkembangan tafsir Al-Qur'an di Nusantara. Hampir sezaman dengan Kiai Soleh, terdapat nama Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani (1813-1897), seorang ulama Banten yang menjadi guru besar di Haramain.

Syekh Nawawi menulis sebuah kitab berjudul Tafsir al-Munir li Ma’alim at-Tanzil yang selesai ditulis pada hari rabu, 5 Rabiul Awal 1305 H, ketika ia tinggal di Mekkah. Ia menyodorkan naskah tafsir kepada ulama Makkah dan Madinah untuk diteliti sebelum diterbitkan. Atas reputasi keilmuannya yang luar biasa ini, para ulama menggelarinya sebagai “Sayyid ulama Hijaz”.

Kiprah Kiai Soleh dan Syekh Nawawi sebagai mufassir lalu dilanjutkan beberapa ulama pada dekade berikutnya. Tafsir nusantara pun berkembang. Pada era 1930-an, seorang ulama asal Sukabumi, KH. Ahmad Sanusi, menulis kitab tafsir lengkap 30 juz, Raudlatul Irfan fi Ma’rifat al-Qur’an menggunakan bahasa Sunda.

KH Ahmad Sanusi juga menulis karya lain seputar tafsir Al-Qur'an dengan corak berbeda. Total terdapat 75 karya tulis dengan berbagai perspektif keilmuan yang dihasilkan oleh ulama yang sempat aktif di Sarekat Islam dan BPUPKI ini.

Sejaman dengan Kiai Ahmad Sanusi ini, terdapat nama Syekh Mahmud Yunus. Nama terakhir ini selain terkenal dengan kamus Arab-Melayu yang ia ciptakan, rupanya masih memiliki karya tafsir. Judulnya Tafsir Al-Qur’an al-Karim dalam bahasa Indonesia. Syekh Yunus memulai menulis pada November 1922 dan selesai pada 1938. Ia dikenal sebagai salah satu pelopor tafsir runtut 30 juz sesuai urutan mushaf Al-Qur'an.

Setelah Syekh Mahmud Yunus, terdapat nama A. Hassan dengan al-Furqan: Tafsir al-Qur’an. Pendiri organisasi Persatuan Islam ini memulai menulis tafsir pada Muharram 1347 H/Juli 1928. Tafsir itu baru bisa rampung pada 1956 M, karena sibuk sebagai dai dan aktivis.

Dari Sumatera ada kitab Tafsir al-Qur’an al-karim yang ditulis oleh tiga serangkai, yaitu Ustadz A. Halim Hassan, Zainal Arifin Abbas, dan Abdurrahim Haitami. Tafsir itu mulai ditulis pada Ramadan 1355 H di Langkat. Penulisannya beberapa kali terhenti akibat perang dunia II dan stok kertas yang langka.

Kita tersebut sangat istimewa, karena juz I dan II diterbitkan dalam bahasa Melayu dengan memakai aksara Arab untuk diajarkan di Sembilan kerajaan di Malaysia saat itu.

Setelah Indonesia merdeka, bangsa ini seolah tak pernah kekurangan stok mufasir. Siapa yang tak mengenal Tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, yang mulai ia rintis melalui pengajian subuh di Masjid al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta pada 1958. Saat Buya Hamka dipenjara, ia justeru fokus menulis tafsir. Hingga pada 1967, terbitlah Tafsir Al-Azhar.

Lalu ada pula Tafsir Ibriz berbahasa Jawa yang ditulis oleh ulama NU, KH. Bisri Mustofa, ayahanda KH. Mustofa Bisri (Gus Mus). Adiknya, KH. Misbah Mustofa, Tuban, tak mau kalah. Ia menerbitkan pula Tafsir Iklil yang juga berbahasa Jawa.

Di Makassar, ada KH. Abdul Mu’in Yusuf yang menulis tafsir Alquran berbahasa Bugis dan ditulis menggunakan aksara tradisional Bugis. Selain itu, ada juga Anregurutta Daud Ismail yang menerapkan bahasa daerah Bugis dalam proses penafsiran Alquran.

Di Minangkabau, tercatat sekitar lima ulama yang menyumbangkan karya tafsir Alquran dengan bahasa Minangkabau. Pemilihan tafsir dalam bahasa lokal, justru menunjukkan orientasi pragmatis, yaitu agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat lokal tertentu sesuai dengan bahasa yang digunakan.

Di sisi lain, karya tafsir ulama Indonesia semakin beragam dan ditulis dengan beragam corak dan varian metodologi yang berbeda satu sama lain. Hasbi Asshiedqy bahkan menulis dua karya, yaitu Tafsir al-Bayan dan Tafsir An-Nur. Karya pertama selesai ditulis tahun 1971. Lantaran kurang puas dengan terbitan pertama, ia lalu menulis karya kedua.

Pihak Departemen Agama RI juga tidak mau kalah. Lembaga plat merah ini meluncurkan Al-Qur’an dan Tafsirnya yang setelah mengalami beberapa kali perbaikan bisa diterbitkan oleh Badan Wakaf UII Yogyakarta pada tahun 1995.

Kemudian ada Prof. Dr. Quraish Shihab dengan Tafsir Al-Mishbah dan Tafsir Al-Lubaab. Ada pula Prof. KH. Didin Hafiduddin dengan Tafsir al-Hijri-nya.

Semua karya-karya di atas belum termasuk karya tafsir dari era dakwah Walisongo. Bisa dipastikan kitab tafsir berjumlah ratusan jika dimasukkan juga beberapa objek tafsir seperti Tafsir Al-Fatihah, Tafsir Al-Kahfi, Tafsir An-Nisa’, Tafsir Surat Ya-Sin, Tafsir Juz Amma dan lain sebagainya, maupun beberapa tafsir tematik seperti pendidikan, sufistik, hukum, dan sebagainya.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 01 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:50
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)