LANGIT7.ID-, Jakarta- - Warga Gaza yang kelaparan harus berhadapan dengan harga pangan yang melambung dan kelangkaan pasokan makanan. Sebagian besar warga Palestina hanya bisa memandangi tumpukan makanan terbatas di pasar-pasar jalanan Kota Gaza. Mereka frustrasi karena harga yang melonjak dan kelangkaan pangan membuat kebutuhan pokok semakin sulit dijangkau.
Sejak konflik dimulai, harga barang-barang pokok naik lebih dari empat kali lipat. Ini menambah beban bagi keluarga-keluarga yang sudah trauma akibat serangan militer Israel dan krisis kemanusiaan. Gencatan senjata pun belum terlihat.
Baca juga:
Nasib Gencatan Senjata Gaza di Tangan Pemimpin Hamas: Apa yang Dikatakan Pejabat Intelijen AS?"Kami tidak punya sayuran, produk daging, telur, atau apapun," kata Abu Issam, seorang warga Palestina dari Gaza utara. "Di mana pemerintah? Di mana orang-orang yang seharusnya memperhatikan kami? Mereka harusnya mengasihani rakyat. Biar kuberi tahu - kemarin aku tidur dalam keadaan lapar."
Harga tiga buah kentang saat ini mencapai 150 Shekel (sekitar Rp 620.000). Sebelum perang, 1 kg kentang hanya seharga 2 Shekel (sekitar Rp 8.300). Sebotol madu yang dulu berharga 25 Shekel (sekitar Rp 103.000), kini dijual seharga 85 Shekel (sekitar Rp 351.000).
Warga mengatakan mereka sebagian besar bergantung pada produk kaleng yang datang melalui bantuan kemanusiaan, mengingat tidak tersedianya produk makanan lain.
"Kami sekarang berharap bisa makan anggur yang dulu kami tanam di lahan kami sendiri. Anakmu minta uang untuk membeli sesuatu... tapi sekarang bahkan 5 Shekel untuk anakmu tidak cukup untuk membeli satu barang pun," kata Abu Anwar Hassanein, warga Gaza.
Menurut penilaian pemantau kelaparan global yang dirilis pada 25 Juni, risiko kelaparan tinggi terus membayangi Gaza selama perang berlanjut dan akses bantuan kemanusiaan terbatas. Integrated Food Security Phase Classification (IPC) menambahkan bahwa lebih dari 495.000 orang di Gaza menghadapi tingkat kerawanan pangan paling parah dan mengerikan.
Bahkan sebelum konflik, dua pertiga populasi hidup dalam kemiskinan dan 45% angkatan kerja menganggur. Setelah perang, ekonomi Gaza bisa butuh puluhan tahun untuk pulih.
"Kami tidak bisa hidup, kami tidak bisa membeli apa-apa. Tidak ada yang tersisa, kami tidak bekerja," kata Mohammed al-Katnany, seorang buruh Palestina.
"Ada wanita hamil, bagaimana mereka bisa menumbuhkan anak dalam kandungan? Bagaimana mereka melahirkan? Penyakit ada di mana-mana," kata Hassanein.
Lebih dari 40.500 warga Palestina tewas selama serangan Israel ke Gaza, menurut otoritas kesehatan setempat. Wilayah tersebut telah porak-poranda. Sebagian besar dari 2,3 juta penduduknya telah mengungsi berkali-kali dan menghadapi kelangkaan pangan dan obat-obatan yang parah, kata lembaga-lembaga kemanusiaan.
Perang terbaru dimulai setelah militan Hamas menyerang Israel selatan pada 7 Oktober, menewaskan 1.200 orang dan menyandera lebih dari 250 orang, menurut data Israel.
(lam)