LANGIT7.ID, Jakarta - Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu’ti, menegaskan, pendidikan harus menyeimbangkan aspek jasmani dan rohani. Allah Ta’ala menciptakan manusia lengkap dengan beberapa keistimewaan yang tak dimiliki malaikat maupun hewan.
“Dari sudut Islam, manusia adalah makhluk jasmani dan rohani. Di Al-Qur’an, manusia disebut sebagai Al-Basyar dan Al-Insan,” kata Mu’ti melalui webinar Ikatan Alumni UNY, dikutip dari muhammadiyah.org (11/9/2021).
Al-basyar secara sederhana dapat dimaknai sebagai makhluk biologis. Sementara itu, Al-Insan lebih bermakna kualitatif antara sifat jasmani dan rohani. Manusia memiliki tiga macam fitrah (kebutuhan alamiah) yakni fitrah diniyah (agama), fitrah insaniyah (akal dan kalbu), dan fitrah basyariyah (fisik).
Baca Juga: Revolusi Pendidikan Karakter Kunci Menuju Bangsa yang MajuMu’ti menjelaskan, meski fitrah dipandang sebagai rumusan teologi semata, namun ilmuwan modern seperti Danah Zohar, Ian Marshall, hingga Waltman memberi perspektif yang serupa. Mereka sepakat, manusia memiliki fitrah agama, akal dan kalbu, serta yang menyangkut dengan fisik.
Keistimewaan itu yang harus menjadi perhatian utama dalam kehidupan manusia, terutama pendidikan. Dengan sifat ruhaniah yang kompleks itu, Mu’ti menilai pendidikan tidak boleh meminggirkan aspek spiritual dibandingkan dengan aspek fisik.
Dalam konteks pendidikan Islam, pendidikan merupakan proses pengembangan potensi diniyah, insaniyah, dan potensi basyariyah. Islam sangat memperhatikan kesehatan dan kekuatan fisik. Umat Islam harus sehat dan kuat, tidak hanya kuat rohani tapi juga jasmani.
Baca Juga: Tak Ada Kata Terlambat Belajar Agama, Pesantren Ini Buka Program Santri DewasaMenurut Mu’ti, pengembangan kurikulum pendidikan yang seimbang antara aspek rohani dan jasmani tidak hanya berfungsi jangka pendek, namun memiliki fungsi strategis membentuk calon pemimpin yang kuat dan berkualitas.
“Dalam Islam, seseorang masuk dalam kategori pemimpin jika memiliki kriteria basthotan fil ilmi wal jismi. Kelebihan ilmu dan fisik. Jadi, pemimpin itu tidak boleh sakit-sakitan, tidak boleh lembek, tidak boleh cengeng,” ujar Mu’ti.
(jqf)