LANGIT7.ID-Jakarta; Sebuah inovasi menarik dilakukan Kementerian Agama. Untuk memberikan kemudahan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat, para santri, termasuk yang tinggal di daerah terpencil, kini Kementerian Agama mendirikan UIN Siber Syekh Nurjati di Cirebon.
"Ini menjadi solusi bagi santri dengan akses terbatas untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah, karena kuliahnya bisa dilakukan jarak jauh melalui online," kata Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, yang biasa di sapa Gus Men, dalam Religion Fest di Jakarta seperti dikutip minggu (13/10/2024).
"Kementerian Agama terus berinovasi, salah satunya dengan mendirikan UIN Siber Syekh Nurjati di Cirebon sebagai Cyber Islamic University pertama di indonesia," imbuh Gus Men.
"Ini tentu pula menjadi afirmasi yang luar biasa untuk para santri yang tidak memiliki akses dan biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi," jelasnya dalam acara yang juga melaunching logo Hari Santri 2024 tersebut.
![UIN Siber, Beri Peluang Belajar Bagi Santri, Guru Madrasah dan Yang di Daerah Terpencil Bisa Kuliah]()
Cyber Islamic University dirancang untuk menyediakan pendidikan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses. Dengan konsep pendidikan jarak jauh, mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan dari mana saja, termasuk wilayah pelosok yang sulit dijangkau. Program ini menjadi jawaban atas tantangan pemerataan pendidikan di Indonesia.
"Mereka bisa belajar dan meningkatkan keilmuannya melalui UIN Siber Syekh Nurjati tanpa harus datang ke kampus, bisa belajar di rumah dengan biaya yang ringan, bahkan mendapatkan beasiswa," lanjut Gus Men.
Gus Men memaparkan, sejak dimulainya pada tahun 2021, UIN Siber Syekh Nurjati telah melayani lebih dari 4.200 mahasiswa yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.000 mahasiswa mendapatkan pembiayaan dari Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) yang didukung oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Inisiatif ini tidak hanya memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi guru madrasah yang belum memiliki gelar sarjana, terutama yang berada di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T)(*)
(lam)