LANGIT7.ID-, Jakarta- - Pemimpin baru Hezbollah, Naim Qassem, menyatakan bahwa kelompoknya akan terus berperang melawan Israel hingga ada tawaran gencatan senjata yang mereka anggap layak. Pernyataan ini disampaikan saat pasukan Israel sedang melancarkan serangan besar-besaran ke kota bersejarah Baalbek, Lebanon timur.
"Jika Israel memutuskan untuk menghentikan agresi, kami setuju, tapi dengan syarat yang kami anggap sesuai," tegas Qassem dalam pidato rekaman pertamanya sejak diangkat sebagai pemimpin baru.
"Kami tidak akan memohon gencatan senjata," tambahnya, sambil menjelaskan bahwa upaya politik untuk mencapai kesepakatan belum membuahkan hasil.
Baca juga:
Untuk informasi terbaru mengenai konflik di timur tengah, kunjungi halaman ini.Pidato ini disiarkan saat mediator internasional terus berupaya mencari solusi gencatan senjata di Lebanon dan Jalur Gaza. Qassem, seorang pemimpin Muslim dan pendiri Hezbollah, ditunjuk Selasa lalu menggantikan Hassan Nasrallah yang tewas dalam serangan udara Israel di pinggiran Beirut akhir September. Sebelumnya, Qassem menjabat sebagai wakil Nasrallah selama lebih dari 30 tahun.
Beberapa pejabat tinggi Hezbollah lainnya, termasuk Hashem Safieddine yang diperkirakan akan menggantikan Nasrallah, juga tewas dalam beberapa pekan terakhir seiring meningkatnya konflik Israel-Hezbollah di Lebanon.
Qassem mengakui rangkaian serangan terhadap kelompoknya telah "melukai" Hezbollah, namun ia menegaskan organisasinya berhasil menyusun kembali barisannya dalam waktu delapan hari setelah kematian Nasrallah.
Sementara itu, serangkaian serangan udara Israel menghantam kota Baalbek, beberapa jam setelah Israel mengeluarkan perintah pengungsian paksa untuk wilayah tersebut, termasuk kompleks kuil Romawi kuno yang masuk Situs Warisan Dunia UNESCO.
Ribuan warga Lebanon, terutama Muslim Syiah, termasuk pengungsi dari daerah lain, terpaksa mengungsi setelah perintah evakuasi Israel dikeluarkan. Situasi ini menciptakan kepanikan massal di kota tersebut.
Menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon, lebih dari 2.790 orang tewas dan 12.700 luka-luka di Lebanon sejak 8 Oktober 2023, saat Hezbollah mulai baku tembak lintas perbatasan dengan Israel untuk mendukung Palestina di Gaza.
(lam)