LANGIT7-Jakarta,- - Otitis media atau juga dikenal dengan peradangan pada telinga bagian tengah. Peradangan ini sering kali muncul sebagai lanjutan dari alergi atau batuk pilek, dan lebih sering terjadi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa terutama anak berusia 3 bulan hingga 3 tahun.
Otitis media muncul akibat infeksi virus atau bakteri. Kondisi ini biasanya ditandai dengan pembengkakan serta keluar cairan di telinga bagian tengah yang menimbulkan rasa nyeri.
Mengapa sering terjadi pada anak? Sebab tuba eustachius pada anak-anak belum terbentuk dengan sempurna. Kondisi ini umumnya bisa sembuh dengan sendirinya, namun jika terus berlanjut berpotensi menyebabkan komplikasi.
Baca juga:
Selain Bernilai Sedekah, Tersenyum Juga Berkhasiat sebagai Obat Anti StresOtitis media memiliki tiga jenis berdasarkan gejala yang muncul, yaitu:
1. Otitis media akut
Kondisi ini muncul secara tiba-tiba dan ditandai dengan telinga memerah serta bengkak. Penderitanya juga bisa mengalami demam dan nyeri di telinga akibat cairan dan lendir yang terperangkap di dalam telinga.
2. Otitis media efusi
Kondisi ini terjadi karena cairan dan lendir menumpuk di telinga bagian tengah saat infeksi mereda. Jenis otitis media ini dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan telinga terasa penuh. Namun, bisa juga tidak disertai gejala.
3. Otitis media kronis dengan efusi (cairan)
Kondisi ini ditandai dengan cairan yang muncul berulang pada telinga tengah meski tidak ada infeksi. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat memicu infeksi baru yang sulit ditangani dan gangguan pendengaran.
Tidak ada penyakit yang muncul tanpa sebab, begitu pula otitis media. Salah satu penyebabnya adalah infeksi virus atau bakteri yang biasanya dipicu oleh flu atau batuk pilek yang menyebabkan produksi lendir meningkat. Meningkatnya produksi lendir dan cairan di dalam sinus akan menumpuk dan berujung menghambat saluran eustachius (pembuangan cairan).
Sementara itu, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena otitis media adalah:
1. Anak-anak berusia di bawah 3 tahun.
2. Berjenis kelamin laki-laki.
3. Berada di lingkungan dengan kadar polusi tinggi.
4. Merokok.
5. Memiliki sistem imun tubuh yang lemah.
6. Riwayat keluarga dengan otitis media.
7. Memiliki riwayat gangguan pernapasan kronis.
8. Bibir sumbing.
9. Berada di tempat ramai, karena dapat meningkatkan risiko tertular batuk, pilek, atau flu.
10. Bayi yang menyusui dari botol lebih mudah terinfeksi daripada bayi yang mendapatkan ASI eksklusif.
Mengenal gejala otitis media bisa dilihat dari beberapa hal namun begitu gejalanya bisa berbeda-beda pada setiap orang. Beberapa gejala umum yang ditimbulkan akibat otitis media adalah sebagai berikut:
- Nyeri telinga (otalgia).
- Penurunan pendengaran
- Anak menjadi lebih rewel.
- Gangguan tidur.
- Demam tinggi lebih dari 38 derajat Celcius.
- Nafsu makan menurun.
- Vertigo atau kehilangan keseimbangan.
- Keluar cairan berwarna kuning, bening, atau bahkan darah dari telinga.
- Diagnosis Otitis Media
Lantas bagaimana dengan pengobatan otitis media? Melansir
siloamhopitals.com, sebagian besar kasus otitis media bisa sembuh dengan sendirinya meski tanpa pengobatan khusus. Meski begitu, penderita otitis media tetap memerlukan perawatan di rumah dengan menerapkan perubahan gaya hidup berikut ini:
1. Menjaga kebersihan telinga.
2. Menghindari asap dan polusi sebisa mungkin.
3. Memberikan imunisasi pada anak sesuai dengan jadwal.
Apabila kondisi ini dirasa mengganggu, maka lebih baik segera konsultasikan hal tersebut dengan dokter.
Cara pencegahan lainnya yaitu dengan menjaga telinga tetap kering hanya dengan menggunakan kain katun untuk menyeka telinga. Hindari mengutak-atik telinga dan memasukkan benda asing seperti peniti, maupun
cotton bud ke dalam telinga.
(ori)