LANGIT7.ID-Jakarta; Perundingan damai Gaza memasuki babak krusial di Qatar, Selasa (15/1). Negosiasi antara Israel dan Hamas untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di Gaza dilaporkan mencapai tahap akhir, seiring pernyataan Presiden AS Joe Biden yang menegaskan kesepakatan gencatan senjata sudah di depan mata. Setelah empat jam pembicaraan intensif, kedua pihak masih menyelesaikan detail-detail penting kesepakatan.
Update Gaza terkini dari juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, mengungkapkan optimisme dalam konferensi pers. Menurutnya, situasi Gaza saat ini berada di titik terdekat menuju kesepakatan dibanding bulan-bulan sebelumnya. Hamas juga mengisyaratkan hal serupa, dengan mengatakan negosiasi telah mencapai langkah-langkah final.
Baca juga: Tolak Gencatan Senjata Gaza, Menteri Israel Ancam Tinggalkan Kabinet NetanyahuPejabat Israel menambahkan bahwa meski pembicaraan sudah memasuki fase kritis, masih ada beberapa detail yang perlu diselesaikan. "Kita sudah dekat, tapi belum sampai di sana," ujarnya. Sehari sebelumnya, mediator Qatar telah menyerahkan draft final kesepakatan gencatan senjata kepada kedua belah pihak setelah tercapai terobosan dalam pembicaraan tengah malam di Doha.
Pertemuan perkembangan konflik Gaza ini dihadiri oleh perwakilan penting dari berbagai pihak. Amerika Serikat mengirim dua utusan: Steve Witkoff dari tim Presiden terpilih Donald Trump dan Brett McGurk dari pemerintahan Biden. Sementara Israel diwakili oleh kepala Mossad David Barnea dan direktur badan keamanan Shin Bet Ronen Bar.
Presiden Biden menegaskan update konflik Israel-Hamas ini akan membawa dampak positif. "Kesepakatan ini akan membebaskan para sandera, menghentikan pertempuran, menjamin keamanan Israel, dan memungkinkan peningkatan bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina yang menderita akibat perang ini," jelasnya.
Berita Gaza terbaru menyebutkan tahap pertama kesepakatan mencakup pembebasan 33 sandera Israel, termasuk anak-anak, wanita, pria di atas 50 tahun, serta mereka yang terluka dan sakit. Sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan 1.000 tahanan Palestina dan mulai menarik sebagian pasukannya secara bertahap. Fase pertama ini direncanakan berlangsung selama 60 hari.
Kesepakatan ini menjadi sangat penting mengingat besarnya dampak krisis Gaza yang telah berlangsung sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Dalam serangan tersebut, 1.200 warga Israel tewas dan lebih dari 250 orang disandera. Sementara serangan balasan Israel telah menewaskan lebih dari 46.000 warga Palestina di Gaza.
Sejauh ini, baru satu kali gencatan senjata Gaza berhasil dilakukan, yaitu pada November 2023 selama satu minggu. Saat itu, sekitar setengah dari total sandera dibebaskan, terutama wanita, anak-anak, dan pekerja asing, yang ditukar dengan tahanan Palestina.
Meski prospek perdamaian Gaza semakin nyata, tantangan masih menghadang. Hamas tetap menuntut penghentian konflik Gaza secara permanen, sementara Israel bersikeras melanjutkan operasi militer hingga Hamas dibubarkan. Namun, krisis kemanusiaan yang kian memburuk dan tekanan internasional mendorong kedua pihak untuk segera mencapai kesepakatan damai yang komprehensif.
(lam)