LANGIT7.ID, Bandung - Sebagai Ibu Kota Jawa Barat, Bandung menjadi pusat kota yang cukup disibukkan dengan kegiatan perekonomian. Namun, disela kesibukan masyarakat menjalankan roda perekonomian, Bandung memiliki banyak tempat kongko untuk mengistirahatkan pikiran dari hiruk-pikuk kota.
Tempat-tempat seperti kafe kian menjamur di sana. Namun, ada satu kafe yang biasa menjadi tempat bagi anak muda menghabiskan waktu. Namanya Kopi Anjis.
Kafe milik Eka Setiadharma itu sering menjadi tempat pelarian anak muda Bandung bercengkerama satu sama lain. Didirikan pada pertengahan 2013 lalu, Kopi Anjis mengalami perkembangan yang cukup baik hingga kini.
Terbukti, Kopi Anjis masih mampu bertahan dan terus berkembang melayani pengunjung yang datang. Kini, Kopi Anjis telah memiliki tiga cabang, semua terletak di Bandung, Jawa Barat. Masing-masing cabang menerapkan konsep yang berbeda.
![Jawab Kebutuhan Konsumen, Pengusaha Ini Sukses Kembangkan Kafe hingga Punya 3 Cabang]()
Cabang di Cigadung mengusung konsep taman bunga dan mendominasi
outdoor, sedangkan di Gatot Subroto lebih sederhana dengan berlokasi di sebuah ruko. Sementara di daerah Bengawan mengusung konsep perpaduan antara
indoor dan
outdoor.
“Kita memang setiap cabang menyesuaikan dengan tempatnya masing-masing. Artinya kita menyelaraskan tema yang sesuai dengan jenis tempatnya dan pasar yang ada di sana,” ujarnya dikanal Youtube Youtube Kisah Tanpa Batas.
Baca juga: Bermodal Rp100 Ribu, Muslim Ini Raup Omzet Ratusan Juta Rupiah Sebulan dari Ikan KokiMenurutnya, Kopi Anjis ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Dibuka sejak pukul 06.00-03.00 WIB, Kopi Anjis didatangi oleh pengunjung berbeda kalangan setiap waktunya.
Eka menyebutkan, seperti pada pagi hari ketika buka, pengunjung yang datang lebih didominasi oleh karyawan kantoran untuk kegiatan meeting. Sementara mulai pukul 23.00-03.00 WIB, lebih banyak pengunjung dari kalangan anak muda untuk kongko.
Nama “Kopi Anjis” dipilih agar lebih bersahabat ketika didengar oleh masyarakat Bandung. Sebab, “Anjis” sendiri bagi masyarakat Bandung sering digunakan sebagai ungkapan kekaguman terhadap sesuatu, sehingga diharapkan nama tersebut juga menjadi pembuktian bahwa apa yang disajikan cukup memenuhi sesuai kebutuhan pelanggan.
Eka mengaku sudah mulai merintis usaha sejak duduk di bangku kuliah, tepatnya ketika ia masih menjalani perkuliahan di semester duanya. Namun, saat itu bukan produk kopi, melainkan sop buah yang dijualnya secara kaki lima.
Menurutnya, hal itu dilakukan demi mendukung kebutuhan keuangannya kala itu. Bahkan, usaha itu terus dijalankannya hingga ia menempuh pendidikan S2-nya.
“Beres S2, saya sempat kerja di perusahaan yang bergerak di bidang konsultan. Kemudian, setelah empat tahun di sana, saya baru masuk lagi ke dunia usaha,” ujarnya.
Eka harus membulatkan tekadnya untuk mundur dari pekerjaannya yang terbilang telah memberikan penghasilan cukup tinggi. Sebab, ia kala itu pekerjaannya harus menempatkan dia di Sumatera.
Hal itu cukup sulit dilakukan mengingat ia saat itu telah menikah. Sehingga, tepatnya pada pertengahan 2013 lalu, ia mulai memutuskan untuk fokus menjalankan usahanya di bidang perkopian di Bandung.
“Kalau masih bujang memang enak banget kerja di luar kota. Tapi pada saat istri hamil itu pastilah kita sebagai suami punya kegelisahan memikirkan istri. Apalagi saya terpikir ketika anak saya lahir harus mengadzaninya, sementara waktu dan tempat saya juga tidak memungkinkan, maka saya putuskan untuk keluar,” jelasnya.
Perkembangan Bisnis Kopi AnjisEka juga sempat merasakan beberapa kendala saat menjalankan bisnis perkopian ini. Menurutnya, dalam menjalankan bisnis ada pola tertentu yang pasti dirasakan oleh pelaku bisnis.
Baca juga: Jiro Ramen Palembang, Bertahan di Tengah Himpitan Pandemi Kini Sukses Buka 4 CabangSeperti masa tiga bulan awal menjalankan usaha yang menurutnya sedang masa sulit, untuk bisa mempertahankan. Begitu juga ketika bisnis sudah mampu bertahan hingga berjalan dua tahun yang memiliki kendala lain, baik internal maupun ekternal.
“Contoh eksternal seperti PPKM ini yang juga menjadi turbulensi dalam bisnis. Jadi jatuh-bangunnya sebuah usaha itu sudah pasti ada. Tapi ketika jatuh, kalau saya tidak terlalu memikirkannya,” ujarnya.
Dengan adanya sebuah harapan, kata dia, itu yang membuat pelaku usaha ketika jatuh pun tidak menyebabkan stres yang berlebihan. Sebab, optimis akan hari esok yang memiliki harapan untuk menjadi lebih baik juga menjadi penting untuk mencetak mental pengusaha.
Menurutnya, ketika bisnis sedang berkembang dengan grafik yang naik, maka perlu melakukan langkah mitigasi kendala yang ada. Seperti pengelolaan uang yang menjadi peran utama dalam menjalankan usaha.
“Selain uang, juga ada kepentingan kita sebagai pemilik yang harus bisa mengelola karyawan, pasar, produk, dan lainnya. Langkah mitigasi ketika bisnis sedang berkembang baik ini lebih baik daripada sedang berada disaat jatuh,” katanya.
(zul)