LANGIT7.ID, Jakarta - Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia (87,18 persen), Indonesia punya peluang besar untuk pengembangan ekonomi syariah. Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Helmy Faishal Zaini dalam webinar
Langit7.id bertajuk Potensi Besar Konsumen Muslim yang Belum Digarap Maksimal, Rabu (22/9/2021).
Helmy lantas memaparkan, Indonesia dinobatkan sebagai destinasi wisata halal terbaik oleh Global Muslim Travel Index pada 2019 lalu. Hal tersebut menunjukkan industri pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia semakin berkembang seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap implementasi prinsip syariah dalam bermuamalah.
Baca Juga: Yuswohady: Produk Muslim Justru Kian Diminati di Tengah PandemiPada 2020 lalu, kata dia, Indonesia berada pada posisi keempat setelah Malaysia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) sebagai negara dengan aktivitas ekonomi syariah terbesar. "Nah, potensi ini kemudian didukung dengan beberapa sektor unggulan di industri halal, seperti kuliner, fesyen, dan pariwisata. Belum lagi potensi pasar turisme halal yang tumbuh setiap tahunnya, menurut saya ini peluang yang sangat cemerlang," kata Helmy dalam acara tersebut.
"Dengan jumlah penduduk muslim terbesar, maka pangsa pasar produk dan jasa berbasis ekonomi dan keuangan syariah juga sangat besar. Apalagi tren kenaikan konsumsi produk dan jasa halal terus mengalami kenaikan dan diperkirakan akan terus mengalami pertumbuhan," ujarnya.
Helmy menyebutkan, dari negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI), Indonesia berada di posisi kedua setelah Malaysia. Kemudian di bawahnya ada Uni Emirat Arab, Turki, Arab Saudi,dan Qatar. "Potensi pasar turisme halal ini menarik untuk dibidik, di mana pada 2025 ditargetkan ada 211,3 juta konsumen wisata halal," ujarnya.
Baca Juga: Pasar Muslim Berkembang Pesat di Indonesia, Ini Pemicunya Menurut YuswohadyPemberdayaan Ekonomi melalui Pondok PesantrenPada kesempatan tersebut, Helmy juga mengapresiasi langkah Bank Indonesia (BI) yang menggandeng pesantren sebagai motor pemberdayaan ekonomi masyarakat. Menurutnya, hal ini sejalan dengan peta jalan pengembangan kemandirian ekonomi pesantren pada 2017-2025.
"Ini langkah yang sangat strategis untuk memperkuat ekonomi syariah dan wujud implementasi berbagai penguatan kemandirian," ungkapnya.
Di antara pesantren yang menjalankan usaha agribisnis, ungkap Helmy, yaitu oleh Pondok Pesantren Al-Ittifaq Bandung dengan memproduksi sayuran di dataran tinggi. Ini untuk memenuhi permintaan pasar tradisional maupun pasar modern dan supermarket.
Baca Juga: Muhammadiyah Andalkan Mukidi untuk Bangkitan Produk-Produk Halal"
Alhamdulillah, di pesantren tersebut saat ini memproduksi sekitar 25 jenis sayuran, antara lain buncis, kentang, daun bawang, tomat, cabe hijau, paprika, sawi putih, dan lain-lain," katanya.
Begitupun dengan Koperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (KSPPS) BMT UGT Sidogiri Indonesia, Pasuruan Jawa Timur. Pada tahun buku 2017 aset BMT Sidogiri tercatat Rp2,4 triliun. Ditargetkan tahun 2018-2021 target aset total BMT Sidogiri adalah Rp5 triliun rupiah.
Baca Juga:
Webinar Langit7.id: Masjid yang Makmur adalah Masjid yang Jadi Basis Dakwah Menolong Ummat
UYM: Masjid Bukan Hanya Tempat Shalat 5 Waktu, Tapi Pusat Pemberdayaan Umat(asf)