LANGIT7.ID-Jakarta; Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang meningkat, Indonesia mencatatkan prestasi membanggakan dengan surplus neraca perdagangan selama empat tahun berturut-turut. Capaian terbaru pada 2024 menunjukkan surplus US$31,04 miliar, didorong oleh kinerja ekspor yang impresif mencapai US$264,71 miliar.
Kinerja ekspor yang kuat ini didukung oleh sektor manufaktur yang semakin produktif, seiring dengan membaiknya permintaan domestik dan ekspor. Hal ini menjadi indikator positif bagi fundamental ekonomi Indonesia, mengingat proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang diprediksi hanya berkisar 3% hingga tahun 2026.
Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional, Parjiono, dalam SMBC Economic Outlook 2025 di Jakarta, Selasa (18/2), mengungkapkan bahwa nilai impor Indonesia pada 2024 tercatat sebesar US$233,66 miliar. Angka ini menunjukkan pengelolaan neraca perdagangan yang seimbang antara kebutuhan dalam negeri dan optimalisasi ekspor.
Keberhasilan pengelolaan neraca perdagangan ini juga berdampak positif pada indikator ekonomi lainnya. Tingkat pengangguran terbuka mengalami penurunan menjadi 4,91% dan tingkat kemiskinan turun ke level 9,03%. Pencapaian ini semakin memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan ekonomi global.
Parjiono menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 mencapai 5,03%, didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat. Bahkan memasuki Januari 2025, inflasi berada pada level yang cukup rendah yakni 0,8%, didorong oleh kebijakan inisiatif dan diskon tarif listrik yang mampu menjaga daya beli masyarakat.
Meski demikian, pemerintah tetap waspada terhadap berbagai tantangan eksternal. "Tantangan seperti tensi geopolitik, eskalasi perang dagang, climate change, digitalisasi serta penuaan populasi juga harus diwaspadai karena berpotensi menimbulkan tekanan pada ekonomi khususnya di negara-negara berkembang," ujar Parjiono.
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, pemerintah akan terus melakukan langkah antisipasi dan mitigasi risiko. Fokus utamanya adalah menjaga daya beli dan stabilisasi harga, optimalisasi penerimaan, efisiensi belanja kepada sektor yang lebih produktif, serta kolaborasi fiskal-moneter dan sektor keuangan.
Dengan berbagai capaian positif pada indikator perekonomian tersebut, pemerintah optimis ekonomi Indonesia pada tahun 2025 akan tetap tumbuh kuat sebesar 5,2%. Proyeksi ini menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut.
(lam)